17 March 2012

Para Penguasa Warung Kopi [2]


Memang pada awalnya, sebelum saya mendeklarasikan diri untuk menjadi detektif, saya jarang sekali memperhatikan aktivitas bang Bisma. Walaupun kami kakak beradik, dan hidup di bawah atap yang sama, tapi saya pikir tidak penting betul untuk mengetahui apa yang dilakukan oleh abang saya itu. Suka-suka dialah mau berbuat apapun, saya tak punya urusan. Tapi itu dulu, sebelum saya menyadari bahwa bang Bisma dan dua orang kawannya; bang Joni dan Bang Erlan, adalah semacam anak muda yang mempunyai gelagat berbeda jika dibandingkan dengan para pemuda kebanyakan. Arus darah muda mereka entah mengalir ke mana, yang jelas tidak mengalir ke Circle K, Café dengan live music, menggoda perempuan-perempuan cantik, atau sekedar mencicipi local wine untuk mengusir dingin. Tidak, darah muda mereka tidak mengalir ke hal-hal seperti itu. Lalu ke mana? Itulah yang sedang saya selidiki.

Terberkatilah dia yang punya warung kopi di ujung gang, sebab pelanggannya akan bertambah satu orang. Ya, saya akan mulai menjadi pelanggan tetapnya. Penyelidikan harus dimulai dari “base camp” mereka. Walaupun bang Bisma seringkali melarangku untuk turut ke warung kopi bu Risna, tapi selalu saya jawab, “Siapa yang ikut? Orang mau makan mie rebus!” Dan dia akhirnya bungkam, tak banyak cakap lagi. Kawan-kawannya yang jumlahnya dua orang itu awalnya bertanya juga, kenapa saya sekarang jadi sering makan mie rebus di warung bu Risna, tapi ini adalah pertanyaan paling mudah sedunia, lebih mudah daripada soal bahasa Inggris yang ada di ulangan, kujawab saja, “Lagi banyak duit bang, sekali-kali makan di warung, bolehlah”. Mereka hanya tertawa saja dan sedikit berucap manis, “Balaga siah!”

Bu Risna tahu kombinasi seperti apa mie rebus yang sering saya pesan; Indomie rasa kari ayam, telornya setengah matang, pakai sayur, dan airnya agak banyak karena saya pasti menghiasinya dengan dua potong bakwan yang tersedia di meja. Tak lupa saya tambahkan sedikit saus, kecap, lada halus, dan kalau kebetulan turun hujan, air tampias hujan menampar-nampar kaki sehingga sensasi dingin terasa mantap, maka saya tambahkan juga beberapa irisan cabe rawit untuk melawannya. Kalau cabe rawitnya kebanyakan, biasanya saya akan berlama-lama di kamar mandi, merasakan derita sakit perut, bencana selalu datang dari tingkah manusia. “Cilaka ku polah sorangan,” begitu ungkapan orang Jerman.

Tapi yang saya lakukan bukan sekedar makan mie rebus, bahwa saya menikmati sensasi kari ayamnya memang iya, tapi ketahuilah bahwa yang saya lakukan adalah semata-semata demi kepentingan penyelidikan, demi mendeteksi ke mana darah muda mereka dialirkan. Saya sengaja tidak membawa semacam catatan kecil yang biasa dilakukan oleh para kuli tinta, saya hanya merekam pembicaraan bang Bisma dan kawan-kawannya dengan bantuan kuping saja lalu diendapkan di lereng ingatan. Lagi pula, tak elok rasanya makan mie rebus sambil sibuk mencatat, terdengarnya saja cukup merepotkan.

Tentu tak cukup hanya sekali dua kali untuk mengetahui arah pembicaraan mereka, sebab kadang-kadang apa yang mereka bicarakan tidak dapat saya mengerti, seperti malam itu, pada sebuah malam yang basah, ketika hujan baru saja menyelesaikan tugasnya. Bu Risna sedang menuangkan bumbu Indomie ke dalam mangkuk, tiba-tiba terdengar bunyi cigarette kretek dibakar dan asap seketika mengambang di ruangan yang agak terasa hangat oleh hawa kompor. Bang Joni melepas obrolan, “Bung, malam kemarin akhirnya saya selesai baca Negeri 5 Menara, apa kata Fuadi, man jadda wajada, jadi tak usahlah kita ragu-ragu, kalau kita orang bekerja keras, melebihkan usaha, insyaAllah rencana kita akan berhasil.” Bang Erlan terlihat menghirup kopi hitamnya, mendekatkan gelas ke hidung, lalu kemudian memindahkan ke mulut, dan terdengar suara merdu orang menyeruput. Dia lalu berucap, “Wah ente baru khatam rupanya Bung, kalau hal itu saya juga sudah tahu, tapi persoalannya harus dari mana kita mulai bergerak?!” Bang Joni terdiam sesaat, lalu mulutnya mulai terbuka lagi, tapi tiba-tiba bang Bisma melancarkan manuver, “Bung, kalau kita mau bergerak, kita tentunya harus punya peta dulu, harus mempertegas tujuan-tujuan dari rencana kita, bukan hanya mengumpulkan lintasan ide saja dan mengucapkannya. Kita harus mulai maping, membuat rute, dan membagi tugas dengan jelas.”

Bukan main, saya meraba-raba makna pada obrolan awal itu. Dari sudut mata terlihat, bang Bisma kemudian mengeluarkan sebuah pena dan kertas agak lusuh dari kantong celana sontognya, dia lalu menulis, atau mungkin menggambar, saya kurang begitu jelas melihatnya. Dua orang kawannya masih tetap pada posisi sedap betul; duduk di kursi kayu yang memanjang, satu kakinya diangkat ke atas kursi, dan cigarette berkarib dengan kopi panas, sementara gorengan hangat tersaji di atas meja, kombinasi yang memikat. Melihat gaya mereka, membuat saya kadang-kadang ingin cepat besar, ingin segera bisa menikmati cigarette seperti bang Bisma dan kawan-kawannya. Ternyata kebiasaan merokok bisa menular kepada oranglain yang tidak merokok, setidaknya itu yang terjadi pada saya. Bang Bisma terus saja menulis, atau mungkin menggambar, sesekali dia menghisap cigarettenya, rupanya dia sudah tidak takut lagi kalau kebiasaan buruknya itu saya laporkan pada ibu. Tak terasa mie rebus pesanan saya sudah siap saji, siap berpindah ke lambung seorang anak kelas dua SMP.

“Bung, coba perhatikan ini,” bang Bisma tiba-tiba berhenti menulis, atau mungkin berhenti menggambar, dia mengangkat hasil “karya”nya. Saya ingin sekali melihat hasil karyanya itu, tapi takut tidak boleh sama bang Bisma, takut dianggap pipilueun urusan kolot, akhirnya saya berkonsentrasi saja pada mie rebus dan memasang kuping setajam mungkin seperti radar. Tapi ternyata dia tidak berbicara lagi, malah menyerahkan kertas lusuh itu kepada dua orang kawan karibnya. Lalu hening, radar tidak menangkap suara apapun kecuali hujan yang masih titik-titik turun, dan suara bang Iwan Fals yang dari tadi bernyanyi pelan, volume radio butut milik bu Risna bagai disengaja untuk tidak bersuara keras, tapi aku masih bisa mendengar lirik penyanyi legendaris itu:

Pernah kita sama sama susah
Terperangkap di dingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Digilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah
Lelah

Bang Joni dan bang Erlan terlihat khusyu melihat catatan bang Bisma, keduanya belum mengeluarkan komentar. Hening masih mengusai. Lalu hujan yang tadi mulai reda, kini menjadi deras kembali, dari jendela warung saya lihat langit, oh gelap betul. Angin mulai berhembus kencang, tampias air hujan mulai menyerbu ke dalam warung, saya bergeser agak ke dalam. Mestakung, semesta mendukung. Hujan seperti tahu bahwa saya harus berlama-lama di warung kopi itu demi kepentingan penyelidikan, maka dia pun turun lagi dengan deras untuk menahan saya. Mie rebus sudah hampir habis, tapi dua kawan bang Bisma masih saja membisu. Demi padu padan dengan suhu di luar yang semakin turun, maka saya memesan air jeruk panas. Dan lihatlah bu Risna bersicepat menjalankan tugasnya.

“Ha..ha..ha.. naon maneh rek ngadongeng?!” Tiba-tiba bang Joni tertawa dan berkicau. Bang Bisma diam saja dengan tenang, dia seperti tidak merasa terganggu dengan sikap bang Joni yang jelas-jelas menertawakannya. Lalu bang Joni berkicau lagi, “Tapi bung, bagus juga ente punya ide, bolehlah saya kasih jempol, macam like this di facebook, ha..ha..ha..” lagi-lagi dia tertawa, dan kali ini bang Erlan pun ikut tertawa, tawa mereka berderai-derai, dan bang Bisma hanya tersenyum. “Gimana? Edan kan ide urang mah?” Kali ini giliran bang Bisma yang berkicau. “Bolehlah bung, tapi tunggu dulu, nanti yang bakalan bermain di lini keagamaan siapa? Kita orang kan tahu sendiri, kalau Andrea bilang, Islam kita mah masih berantakan,” itu suara bang Erlan. “Oh iya ya, siapa ya kira-kira? Kalau ada mah harus perempuan euy,” bang Bisma seperti tersadar bahwa ada kekurangan sumber daya manusia dalam rencana yang dia tulis di kertas lusuh itu.

Sudah dua kata yang saya kumpulkan; dongeng dan keagamaan. Sepertinya dua kata ini adalah kata-kata kunci yang akan membantu saya dalam mengembangkan penyelidikan, tapi mungkin akan ada kata-kata lain yang nantinya semacam akan menjadi benang merah yang berjejalin, berkaitan satu sama lain, dan ke mana darah muda anak-anak muda misterius ini mengalir, tentu nanti akan semakin terang.

Mereka kemudian tak banyak cakap, hanya bergiat minum kopi dan menghisap cigarette. Bang Joni mulai pesan mie rebus, porsinya lumayan jumbo, dia pesan dua mie dalam satu mangkok besar plus dua telor, dan bu Risna tentu punya mangkok seperti itu, disediakan khusus buat para pelanggannya yang bertype macam kantong nasi alias RW 06 alias rakus. “Edan kamu Jon, porsi belum berubah juga, pastas saja perut kau macam Semar, maju perut pantat mundur," nada bicara bang Bisma beraroma serangan balik setelah tadi dia yang ditertawakan oleh bang Joni. “Tak apalah bung, biar begini, biar terlihatnya kurang seksi, tapi setidaknya saya semacam sudah laku,” amboi, dia mengelak dengan sebuah jurus sakti, membuat bang Bisma mati kutu. Tapi tunggu dulu, laku? Apakah maksudnya dia sudah punya pacar? Saya kurang percaya, saya pasang lagi radar dengan posisi siaga. Bang Bisma terlihat mengambil nafas cukup dalam, lalu berkicau lagi, nampaknya ini sebuah pembelaan terhadap dirinya sendiri, “Bung, bukan salah saya kalau tidak ada satupun perempuan yang tahu, bahwa saya ini sebenarnya ganteng dan keren. Ini hanya soal waktu saja bung, nanti ketika mereka tersadar, jangankan satu, tiga perempuan pun bolehlah mengejar-ngejar saya.”

Nah, betul, ternyata mereka sedang membicarakan perempuan, dan yang dimaksud oleh bang Joni “laku”, tentu adalah bahwa dia semacam sudah punya pacar, posisinya berseberangan dengan kakak saya, bang Bisma, yang karena tidak ada satupun perempuan yang tahu bahwa dia sebenarnya ganteng dan keren (klaim seperti ini membuat selera makan saya hilang), maka dia masih oke untuk dibilang jomblo. Bang Erlan hanya tersenyum saja, kalau membicarakan perempuan, dia terlihat semacam cool, hanya saja di wajahnya terbit juga rona yang aneh. Rona yang pernah saya lihat di cermin kamar, itulah dia wajah saya sendiri, waktu saya merasa senang oleh kedatangan murid baru yang baru pindah dari Jakarta, perempuan tentu saja, rambutnya kira-kira sebahu, tapi dia ikat dua seperti Shizuka temannya Nobita, namanya terdengar cukup manis: Olva.

***

Kostannya persis di sebelah mesjid komplek. Jilbabnya panjang, dan setahu saya, kalau pergi kuliah, dia tidak pernah memakai celana panjang, dia selalu mengenakan rok panjang. Kata ibu, namanya Regina, panggilannya Ina, seperti singkatan untuk Indonesia, kalau saya tentu harus memakai kata “Kak” di depan namanya jika mau memanggilnya. Nah, perempuan inilah yang ternyata diincar oleh bang Bisma dan kawan-kawan warung kopinya untuk ditempatkan di lini keagamaan. Kontras memang, jika kakak yang anggun ini mau bergaul dengan bang Bisma dan kawan-kawannya yang jelas-jelas cerobong asap semua dan penampilannya terkesan abstrak alias tidak jelas. Tapi saya ingat sebuah percakapan di warung kopi yang entah malam ke berapa dalam operasi penyelidikan saya ini, waktu itu bang Bisma sempat bicara, “Bung, tapi saya sedikit ragu, mungkinkah dia mau kita ajak dalam rencana kita? Bung kan tahu sendiri, dia itu seorang akhwat, seorang yang menjaga betul hijab, akhlaknya bagus, dan membenci rokok, ingat ya: membenci rokok!”

Bang Erlan dengan tenang menjawab, setenang asap cigarette yang berhamburan dari mulutnya, “Bung, semua itu tak jadi soal. Dia orang memang akhwat, menjaga hijab, akhlaknya bagus, dan membenci rokok, lalu kenapa dengan semua itu? Begini bung, asal kita juga bersikap baik, tidak kurang ajar, dan tidak merokok di depannya, saya yakin dia mau bantu kita. Lagi pula, ini bisa kita jadikan sebagai pembuktian, apakah orang-orang yang sholeh secara pribadi adalah dia yang juga sholeh secara sosial? Tentu bung sudah tahu belaka dalilnya, hablum minAllah hablum minannas. Kita lihat saja nanti, yang penting kita usaha dulu, kita sampaikan tujuan dari rencana-rencana kita, dan ingat bung, kita harus tetap mengedepankan prasangka baik.” Bang Joni yang dari tadi hanya diam saja tiba-tiba ikut bicara, “Ya, betul bung, kita harus mengedepankan husnudzon”, lalu disambung dengan cepat oleh bang Erlan, “ Tah bener eta pisan.”

Maka pada sebuah sore yang lumayan cerah, waktu saya dan kawan-kawan gerombolan pengacau main sepeda di depan mesjid, bang Bisma, bang Joni, dan Bang Erlan terlihat sedang berdiri di depan kostan kak Ina, tumben penampilan mereka agak rapi, mereka serempak berucap “Assalamu’alaikum”, setelah ucapan salam diulang sebanyak tiga kali, barulah ada sosok berkerudung keluar dari balik pintu. Saya tidak tahu apa yang mereka perbincangkan, juga tidak tahu bagaimana sikap bang Bisma dan kawan-kawannya di depan kak Ina yang anggun itu, sebab si Ajat, kawan saya mengajak pergi ke perkebunan, “Pez, hayu ah kita ke perkebunan, banyak mangga yang sudah matang tuh, saatnya kita panen”. Jelas itu adalah ajakan untuk mencuri mangga di halaman belakang rumah bu Nina yang terkenal pelit. “Oh, siap…let’s go!” Dan kami meluncur ke TKP. Tapi sebelum pergi sempat juga saya lihat bang Bisma kepalanya manggut-manggut, pandangannya menunduk, dan tidak ada tawa kelakar dari tiga orang pemuda cerobong asap itu. Saya kira mereka sedang berusaha untuk bersikap sopan di depan seorang perempuan berjilbab panjang itu.

***

Di pojok lapangan komplek, tidak jauh dari rumah pak Eka sang professor tua menyebalkan, di situ ada sebuah bangunan yang tidak terlalu besar, luasnya sekira 3,5x4,5 meter, bentuknya persegi panjang, itulah dia kantor RT. Di depannya tumbuh sebuah pohon mangga yang jarang berbuah tapi daunnya rimbun sehingga memberikan efek teduh ke kantor dan halaman bangunan tersebut. Di bawah pohon itu terdapat dua buah kursi kayu yang memanjang dan ada sandarannya, tempat para pemuda dan orang-orang tua setiap sore asyik bermain kerambol, catur, dan domino. Dan kopi serta cigarette rupanya telah menjadi Tuhan bagi para lelaki yang doyan berkumpul, nongkrong, dan berbanyak ngobrol. Di warung kopi ataupun di depan kantor RT, tetap saja kedua benda itu yang menjadi primadona. Sesekali suka ada yang membawa gitar, kalau yang mainnya orantua pasti yang terdengar adalah lagu-lagu zaman purbakala macam Kisah Sedih di Hari Minggu, Cinta Hampa, Kisah Seorang Pramuria, Fatwa Pujangga, dan Semalam di Malaysia. Sendu betul suaranya, seperti di acara Zona Memori yang ditayangkan Metro tv. Tapi kalau kebetulan anak muda yang main, lagu-lagunya lumayan up to date, mereka sering membawakan lagu dari band-band mendayu-dayu seperti ST12, Armada, Ungu, Baginda’s, dan Kangen Band. Tapi tetap saja tidak cocok dengan kuping saya yang sehari-hari, kalau sedang di rumah, terlalu banyak mendengarkan music yang bang Bisma putar dari kamarnya dengan kencang. Dia suka sekali mendengarkan Monkey to Millionare, Nudist Island, Alone At Least, Van De Brews, dan Homogenic.

Anggota tetap alias yang tiap hari hadir untuk nongkrong di depan kantor RT adalah kang Agus, atau lebih populer dengan nama Agus Godeg. Rambut agak tebal tumbuh subur dari cambang sampai dagunya, sambung menyambung sampai bertemu dengan jenggotnya yang tidak terlalu panjang. Sekilas mukanya tidak jauh berbeda dengan para laskar mujahidin Afganistan. Senyumnya sering mengembang kalau dia menang catur. Usianya ada sekira 40 tahun, istrinya satu, anaknya juga satu. Dia pandai bercerita, apalagi cerita yang nyerempet-nyerempet porno. Kalu dia mulai bercerita, yang main gitar tiba-tiba berhenti, yang main kerambol menjauh dari papan permainan, yang main catur kehilangan konsentrasi, semuanya bagai ditarik oleh pesona cerita kang Agus Godeg. Awal cerita biasanya para pendengar hening, tapi di tengah dan di akhir cerita, tawa nikmat berderai-derai. Gaya bicara kang Agus Godeg agak mirip dengan Komeng, kosa kata kocaknya berloncatan dengan cepat, mulutnya seperti mesin otomatis yang memproduksi banyolan-banyolan segar. Kalau ada perempuan cantik nan seksi lewat di jalan yang tidak jauh dari kantor RT itu, kang Agus Godeg pasti akan berbicara setengah bergumam, “Aduh, si eneng cantik kuda euy..” Awalnya yang nongkrong di sana tidak tahu apa itu cantik kuda, tapi kang Agus Godeg lalu menjelaskan, “Iya, cantik kuda. Kalau dari jauh cantik, kalau dari dekat kepengen dinaikin,” dan tawa pun pecah berderai-derai, “Ah, gelo euy si kang Agus mah…ha.ha.ha..,”. Saya, walaupun masih kelas 2 SMP dan belum menjadi pemuda, tapi sering nongkrong di situ, sehingga tahu kelakuannya.

Walapun pintar membanyol, suka menggoda perempuan-perempuan yang lewat, dan mukanya tidak terlalu jelek, bahkan masuk kategori lumayan, tapi kang Agus Godeg tak goyah dari satu istri. Dia tak mau ikut-ikutan seperti para pelawak yang di sering muncul di televisi, yang beberapa diantaranya mempunyai istri lebih dari satu. Selain setia dengan istrinya, dia juga setia dengan pekerjaannya, sudah hampir 12 tahun dia menjadi sales berbagai macam produk, mau apa? : sales raket pembasmi nyamuk, sandal berduri untuk kesehatan, pembalut wanita, multivitamin berenergi, bumbu penyedap rasa, susu permentasi, rokok kretek, jas hujan, obat sembelit, balsem panas berganda, pakan burung, salep gata-gatal, panci anti karat, dan masih banyak lagi. Tapi dia tidak pernah tertarik untuk menjadi sales gelang Power Balance.

Bang Bisma dan dua orang kawannya jarang nongkrong di kantor RT itu, mereka lebih betah berlama-lama di warung kopi bu Risna, hampir setiap hari mereka duduk di sana, ada saja yang mereka obrolkan, mulai dari pelajaran kuliah sampai film terbaru Natalie Portman, dari novel Pramoedya Ananta Toer sampai tulisan di mading jurusan, dari album terbaru The Sigit sampai lagu campur sari yang sering diputar mas Joko di rumah kontrakannya, meraka doyan betul membahas banyak hal, semuanya mereka perbincangkan di warung kopi bu Risna, mereka benar-benar para penguasa warung kopi. Saya kadang-kadang frustasi untuk menyambungkan terlalu banyak benang merah dari obrolan mereka. Rupanya minat mereka sangat luas, dari masalah musik sampai masalah politik, sedangkan saya baru kelas 2 SMP, tahu apa tentang politik?, saya meraba-raba jalan pikiran mereka, abang-abang mahasiswa itu.

Meskipun di tempat kuliah, jurusan dan program studi mereka berbeda-beda, tapi minat mereka di luar hal-hal akademik sepertinya sama. Bang Bisma kuliah di program studi (prodi) Teknik Sipil, bang Joni prodi Administrasi Bisnis, dan bang Erlan prodi Keuangan dan Perbankan. Baru-baru saya tahu, bahwa kak Ina, yang mereka ajak untuk bergabung untuk menjalankan rencana-rencana mereka (yang belum sepenuhnya saya ketahui), adalah mahasiswi prodi Refrigerasi dan Tata Udara. Mereka semuanya kuliah pada satu kampus yang sama; Politeknik Gajah Duduk. Kalau sudah besar saya tidak mau kuliah di kampus itu, soalnya terlalu dekat dengan rumah, lagi pula kalau saya perhatikan, jarang sekali mahasiswinya yang cantik, hanya beberapa saja yang terlihat lumayan.

Akhir-akhir ini saya lihat bang Bisma dan kawan-kawannya mulai rajin datang ke depan kantor RT, mereka mulai ikut main kerambol, main catur, main domino dan sesekali main gitar. Para penguasa warung kopi itu sepertinya mulai mencari base camp baru, semacam base camp cadangan. Di sana, di depan kantor RT itu, segala hal yang sering mereka bicarakan ketika nongkrong di warung kopi bu Risna, tiba-tiba lenyap. Di sana mereka tidak pernah lagi membicarakan soal film, buku, musik, dan tulisan. Mereka melebur dan menikmati tema-tema obrolan yang mengalir begitu saja, mereka juga mulai akrab dengan kang Agus Godeg si Raja Goda. Melihat kenyataan ini, insting detektifku kembali menyala. Apa hal ini? Kenapa mereka seperti sedang melupakan “dunianya”? Belum selesai otakku bergerak, tiba-tiba mereka menjadi sering ngobrol dengan pak Ajo (ketua DKM mesjid komplek), dengan pak RT, dan bahkan dengan ibu-ibu penghuni komplek. Mereka juga mulai sering terlihat bercanda dengan anak-anak kecil, dengan para ababil, dan dengan pemuda-pemuda sebaya. Setahu saya, dulu mereka hanya pandai duduk di warung kopi, tapi sekarang mereka keluyuran dan banyak berinteraksi dengan hampir seluruh warga komplek. Ada apa ini? Para penguasa warung kopi seperti sedang melakukan gerakan semesta. Saya harus melakukan penyelidikan dengan lebih cermat.

***

Sore, cuaca cerah, langit gilang gemilang. Bang Joni duduk di tepi lapangan komplek. Rambutnya sudah agak gondrong, berkibar ditiup angin, maklum mahasiswa. Tumben dia tidak terlihat sedang menghisap cigarette. Gitar berada di pangkuannya. Segerombol anak kecil tampak berdiri di dekatnya, wajah mereka cerah ceria. “Oke, sekarang coba tebak, siapa penyanyinya, setiap tebakan lagu yang benar berhadiah satu permen fox, tapi nanti permennya jangan rebutan, jangan khawatir abang punya banyak sekali,” demikian ucapnya pada anak-anak kecil itu, tentu saja anak-anak itu senang. “Siap?” Sebuah aba-aba. “Siaaap!” Anak-anak kecil berteriak penuh semangat. Gitar berbunyi, semacam intro, lalu nadanya berubah menjadi seperti reff, “Aku tak mau bicara, sebelum kau cerita semuaaa…” / “Waliii..”, anak kecil hafal betul lagu ini, permen fox keluar dari kantongnya. Bang Joni mulai bersiap dengan lagu kedua, “Andai ku tahu, kapan tiba…”, / “Unguuu..”, anak kecil memang jago menghafal, permen kedua melayang ke tangan anak-anak. Bang Joni seperti mulai mencari lagu yang agak susah. Setelah batuk, dia mulai mainkan gitar lagi, “Kau bawa diriku ke dalam hidupmu…” / “Gigiii..”, oh rupanya anak-anak kecil itu tahu juga lagu Gigi, permen fox warna biru dan tentu saja transparan, keluar dari kantongnya.

Saya yang memperhatikan mereka dari jarak yang tidak terlalu dekat, dapat melihat dengan jelas bahwa tiba-tiba dari muka bang Joni terbit sebuah senyum yang bagai disengaja untuk ditahan, dia seperti mendapatkan sebuah ide bagus untuk menaklukkan anak-anak kecil ini, agar mereka tidak bisa menjawab lagu yang akan dia nyanyikan, agar dia bisa menghemat permen yang ada di kantongnya. Kemudian dia batuk kecil lagi, dan gitar mulai berbunyi, intronya lumayan panjang, dan, “Eh ujan gerimis aje, ikan teri diasinin, eh jangan menangis aje, yang pergi jangan dipikirin….”, kali ini anak-anak itu bungkam, tapi ada lagi teriak penuh kemenangan karena bisa menebak si penyanyi. Bang Joni tersenyum puas, lalu meneruskan lagu, “Eh ujan gerimis aje, ikan lele ada kumisnye, eh jangan menangis aje, kalo boleh cari gantinye…”, anak-anak tetap saja bungkam. “Ayo ada yang tahu gak?” Anak-anak semuanya geleng kepala. “Lagu barusan penyanyinya adalah Bang Bens, alias Benyamin. S, alias Benyamin Sueb,” bang Joni mencoba menjelaskan, sementara anak-anak itu masih saja membisu.

Kemudian bang Joni memulai lagi, “Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia, berlarilah tanpa lelah, sampai engkau meraihnya…” / “Nidjiii..”, kali ini bang Joni KO lagi, fox merah melayang. Sore belum juga dijemput malam, beberapa burung gereja bermanuver di atas tanah lapang, dan bang Joni mulai lagi dengan lagunya, “Bertahan satu cinta, bertahan satu C.I.N.T.A…”, / “Bagindaaas..”, edan, skor menjadi 5-1, bang Joni kalah telak, fox hijau menjadi korban. Tapi pertandingan belum selesai, bang Joni belum menyerah, dia langsung memetik gitar lagi, dan, “Aduh ema asyiknye, nonton dua-duaan, kayak nyonya dan tuan di gedongan…”, anak-anak kembali bungkam, dan bang Joni langsung menjelaskan lagi, “Penyanyinya adalah Bang Bens, sama seperti yang tadi”. “Ooohh…”, anak-anak serempak membulatkan mulutnya. Bang Joni semakin bersemangat, berhasil memperkecil skor sementara menjadi 5-2.

Lalu bang Joni menarik nafas panjang, mukanya mulai gilang gemilang, sementara anak-anak masih menanti lagu selanjutnya, masih ada satu orang yang belum kebagian permen, dan dengarlah ini, “Do you hear me, I’m talking to you, across the water across the deep blue ocean, under the open sky, oh my, baby I’m trying…”, anak-anak terdiam, tapi rupanya mereka sudah belajar, bahwa setiap lagu yang tidak mereka ketahui penyanyinya pasti Bang Bens, maka dengan serempak mereka menjawab, “Bang Beeens…!” / ”Ha.ha.ha…”, bang Joni tertawa keras, anak-anak saling berpandangan, mereka mungkin sadar bahawa tebakannya salah. Kemudian sore perlahan mulai temaram, sebentar lagi maghrib, udara mulai turun, fox kuning keluar dari kantongnya karena masih ada satu anak yang belum kebagian. Bang Joni pulang, anak-anak juga pulang. Sebelum berpisah, anak-anak itu berucap dengan agak keras, “Terimakasih Bang Beens…!”

***

Walking on the edge of an empty pool
That we thought it was cool
We lower down our voices
We’re holding our laughs
Cos the moon are standing
There without a noise

(Strange In The Song In Our Conversation : Monkey To Millionare)

Ahad. Dari tadi, dari jam delapan pagi, sampai sekarang ketika jarum pendek jam sudah duduk di angka sembilan, lagu itu terus aja menjadi penghuni tetap playlist bang Bisma, lalu berturut-turut lagu yang lain, yang hampir setiap hari daftarnya jarang berubah. Pintu kamarnya sedikit terbuka, saya tengok ke dalam, bang Bisma sedang duduk di lantai dan masyaAlloh… di depannya berserak beberapa mainan anak-anak dan beberapa topeng dari plastic. Rencana apa lagi ini? “Bang, itu mainan buat apaan?” Dia hanya menggerakkan tangan kirinya menyuruh saya menjauh dari kamarnya. Dasar orang aneh, sudah kuliah masih saja doyan mainan bocah. Saya banting pintu kamarnya dan pergi main sepeda.

Sekitar jam 12 saya pulang ke rumah karena perut minta jatah. Lagi pula cuaca panas sekali, matahari bersinar garang, saya berleleran keringat, dan akhirnya mengundang kaki untuk melangkah mengunjungi lemasi es. Kali ini kamar bang Bisma tertutup rapat. Kata ibu, bang Bisma sedang banyak membaca buku cerita anak-anak, jangan diganggu katanya. Buku cerita anak-anak? Apa lagi ini? Tapi sebentar...mainan anak-anak, topeng, buku cerita anak-anak…ooohh, saya tahu sekarang, bang Bisma pasti akan menjalankan rencananya : mendongeng.

Dan setiap kali sehabis makan, perut selalu saja menggoda mata, apalagi angin bertiup manja dan hari panas sekali. Duduk di sofa mata mulai lima watt, kepala saya mulai sedikit miring, asli ngantuk sekali. Saya ambil bantal dan dengarlah, ini pasti suara ibu, “Jangan tidur dulu, sholat dzuhur heula!” Oh, baiklah ibu, dan saya pergi ke kamar mandi. Saya melewati lagi kamar bang Bisma, masih tertutup. Saya intip dia lewat lubang kunci yang lumayan besar, hanya terlihat tangannya yang sedang memegang buku tipis. Tiba-tiba kuping saya ada yang menjewer, “Ayo sholat dulu, jangan suka mengintip!” Ini pasti suara ibu. Andai saja ibu tahu kalau saya sesungguhnya sedang melakukan penyelidikan, pasti beliau tidak akan melarang saya untuk mengintip kamar bang Bisma.

“Bangun sudah sore, sholat ashar heula!” Saya buka mata, ibu sudah berdiri di pinggir sofa. Saya lirik jam dinding, sudah jam setengah lima. Aduh, saya masih ngantuk, cape sekali hari ini. Ini pasti gara-gara si Ajat yang tadi siang ngajak saya dan kawan-kawan untuk panen rambutan di rumah bu Nina. Dan sialnya, tanpa sepengetahuan kami, bu Nina ternyata sudah memelihara seekor anjing penjaga. Tadi siang, waktu saya menyelinap lewat pintu pagar yang tidak dikunci, untuk mengambil rambutan yang berhasil dijatuhkan oleh si Ajat, tanpa sepengetahuan saya tiba-tiba dari arah halaman depan, seekor anjing herder berlari kencang sambil menyalak keras, edan, bikin saya kaget. Dengan reflek saya langsung lari menuju ke arah pintu, sial pintu yang tadi tidak terkunci tiba-tiba menjadi susah dibuka, sementara anjing semakin dekat, suaranya terdengar sangat keras, jantung saya hampir copot. Tapi untunglah di tengah situasi panik seperti itu akal saya masih berjalan. Saya panjat pagar besi yang lumayan tinggi, anjing herder tinggal beberapa langkah lagi dari pantat, saya sampai di puncak pagar, anjing menyalak keras sekali, saya loncat ke luar pagar, anjing gila telah gagal menangkap tersangka pencurian, dia masih perlu penataran, dan saya berlari dengan nafas yang hampir tamat.

Sehabis sholat saya tengok langit, oh sudah lumayan teduh. Matahari sudah tergelincir ke barat, angin musim kemarau menyapu jalan gang. Ibu sedang menggoreng pisang di dapur, ada enam potong yang sudah matang tapi masih panas, saya comot dua potong dengan menggunakan kertas, lalu bersiap dengan tunggangan, sepeda berwarna biru kesayangan, dan meluncur ke lapangan komplek. Di sana, di pinggir lapangan, anak-anak kecil terlihat sedang berkerumun, di tengahnya terlihat ada seorang pemuda yang rambutnya gondrong mengembang, tapi mukanya tidak begitu jelas, dia seperti memakai topeng. Saya dekati mereka, ternyata yang berdiri di tengah anak-anak itu adalah Gorgom. [irf]

Itp, 11/2/11

Foto: rjsyahrulloh.blogspot.co.id


No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…