17 March 2012

Para Penguasa Warung Kopi [1]

Kira-kira usianya 19 tahun, abang saya, Bisma, mulai masuk kuliah. Tiga bulan dari pertama kali masuk kampus, rambutnya sudah terlihat gondrong. Hampir setiap sore, sepulang kuliah, dia pergi ke warung kopi Bu Risna di ujung gang. Saya tidak boleh turut dengannya. Sebagai alat pengusir, kadang-kadang dia memberi saya uang lima ribu agar saya tidak ikut-ikutan nongkrong dengannya dan kawan-kawannya. Sepengetahuanku, kawannya tak banyak, di warung kopi itu yang paling sering ku lihat adalah Bang Joni dan Bang Erlan. Dua-duanya mahasiswa rantau, tapi entah dari daerah mana, saya tidak tahu. Kadang-kadang saya melihat abang saya itu membakar cigarette, itu mungkin alasannya kenapa saya tidak boleh turut. Antara sebentar, kulihat juga mereka sedang mantap betul membicarakan banyak hal, tapi entah mengenai apa, jarak saya terlalu jauh untuk bisa dengan jelas mendengarkan isi pembicaraannya.


Warung kopi itu persis di ujung gang, di pinggir jalan gang yang banyak di lalui orang, terutama oleh para mahasiswa dan mahasiswi, karena itulah salah satu akses untuk mencapai kampus tempat Bang Bisma dan kawan-kawannya kuliah. Kalau ada mahasiswi lewat, sendirian ataupun bergerombol, cantik ataupun lumayan cantik, mereka; abang saya dan kawan-kawannya, seperti tidak berminat untuk menggoda, ataupun sekedar untuk mengeluarkan suara batuk yang dibuat-buat. Mereka asyik saja dengan kopi, cigarette, pembicaraannya. Kadang-kadang saya berpikir, mungkinkah abang saya itu belum puber?, ah, tapi bagaimana mungkin?, saya saja yang baru duduk di kelas dua SMP sudah sering merasa deg-degan kalau berdekatan dengan teman-teman saya yang cantik dan roknya di atas lutut. Orang-orang dewasa, atau mereka yang beranjak dewasa, kadang-kadang susah dimengerti, dunia mereka terlihat serius, dan itu menurut saya tidak menarik.


Karena tidak menarik, makanya saya jarang memperhatikan apa yang dibicarakan oleh abang saya dan kawan-kawannya. Saya lebih sering bermain dengan teman-teman sebaya di lapangan kecil dekat rumah Pak Eka. Kata ibu, dia adalah seorang professor, seorang sangat cerdas yang mengajar di kampus terkenal di kota kami. Setiap kali aku bermain sepeda atau hanya ngobrol-ngobrol saja, Pak Eka selalu terlihat duduk sendirian di teras rumahnya, membaca koran atau mungkin jurnal-jurnal penelitian. Kacamatanya sudah agak merolot ke bawah, melewati garis normal tempat biasanya sepasang lensa itu nyangkut di hidung. Kalau saya dan anak-anak mulai bermain bola, dia selalu mengusir kami, sebab bermain bola terlalu ribut katanya, mengganggu konsentrasinya sebagai seorang cerdas yang selalu haus akan penelitian. Kalau jendela rumahnya kebetulan terbuka lebar, terlihat barisan buku dalam rak kayu yang sangat kuat, bukunya banyak sekali dan tebal-tebal. Menurut saya dan juga kawan-kawan sebaya, Pak Eka termasuk orangtua yang rating menyebalkannya cukup tinggi, orangtua seperti itu tidak pernah menarik simpati anak-anak seusia saya yang mulai banyak dialiri adrenalin.


Tapi sikap menyebalkan Pak Eka masih kalah oleh Bu Nina. Dia adalah istri seorang juragan besi yang kaya raya, tapi pelitnya nomor wahid. Rumahnya dikelilingi oleh halaman yang luas ditumbuhi pohon-pohon buah. Ada rambutan, mangga, jambu, belimbing, dan alpukat, tapi kini pohon alpukatnya sudah habis ditebang karena sering dihinggapi ulat bulu yang menggelikan. Setiap kali pohon-pohon itu berbuah, kami; anak-anak tetangganya yang mulai pandai melempar, hanya dapat melihatnya dari luar pagar dengan air liur yang kadang-kadang seperti ingin menetes, membayangkan betapa manisnya rambutan merah itu, atau betapa enaknya mangga aromanis itu, atau betapa segarnya belimbing kuning itu. Tapi apa boleh buat, Bu Nina tak pernah membagi kami buah-buahan yang dilimpahkan kepadanya oleh Tuhan. Maka kami pun bersiasat, kalau rumahnya terlihat sepi, kami membagi tugas; dua orang melempar buah dengan kayu, dua orang mengawasi keadaan, dan saya bertugas sebagai pengambil buah yang berhasil kami jatuhkan dengan cara mengendap-ngendap dan menyelinap masuk ke halaman rumahnya, dan untung saja rumahnya tidak dilengkapi dengan anjing penjaga yang selalu bikin ribut.


Saya dan kawan-kawan sebaya, atau orang-orang tua menyebalkan menyebut kami dengan istilah “gerombolan pengacau”, memang sering merepotkan orang-orang tua yang tidak kooperatif dengan rencana-rencana hebat kami. Seperti siang itu, waktu kami berencana mengadakan lomba balap sepeda di sebuah kebun kosong yang tidak terurus, tidak jauh dari rumahnya Bu Makie. Acara belum dimulai tapi Bu Makie sudah mengusir kami, dia tidak bisa mendengar suara berisik anak-anak puber pertama, karena mau tidur siang. Karena kesal, waktu dia sudah terlelap dalam tidur siang, kami kembali lagi dan mencoret-coret dinding belakang rumahnya dengan spidol, arang, dan pilok sisa yang dipungut dari bengkel dekat jalan raya. Sore hari, tetangga dekatnya dibuat heboh, sebab Bu Makie muntab, marah bercampur jengkel, sebab para tersangka sudah tidak ada di tempat.


Bang Bisma bukan tidak tahu kelakuan saya dan kawan-kawan, begitu juga dengan kawan-kawannya yang suka ngumpul di warung kopi Bu Risna. Mereka tahu, tapi sudah saya bilang, orang-orang dewasa dan yang beranjak dewasa kadang-kadang susah dimengerti, mereka diam saja, tak pernah memarahi kami para “gerombolan pengacau”. Ah, lagi pula mereka mungkin sibuk dengan dunianya sendiri yang mungkin saja lebih menarik daripada dunia saya yang baru kelas dua SMP ini.


Tapi sebagai mahasiswa, kelakuan abang saya dan kawan-kawannya berbeda dengan mahasiswa yang lain, setidaknya dalam beberapa hal. Selain tidak doyan menggoda perempuan yang cantik dan yang lumayan cantik, mereka juga tidak suka keluyuran jauh malam-malam, paling jauh ya di warung kopi Bu Risna itu. Bang Bisma rute malam harinya sudah saya hapal : selepas maghrib dia akan naik jemuran, mengambil baju yang sudah kering, lalu pergi ke dapur menghajar menu malam. Waktu isya datang dia akan pergi ke mesjid memakai sarung dan tanpa peci sebab rambutnya sudah terlalu mengembang dan gondrong. Setelah kewajiban tunai, dia akan pulang dulu ke rumah mengganti sarung dengan celana pendek selutut, mengambil uang dari dompet dan pergi ke warung kopi. Ibu tak pernah banyak cakap dengan aktivitas malam bang Bisma yang monoton seperti itu, beliau hanya sesekali berucap : “kurangi merokoknya!”, oh, ibu ternyata sudah tahu kalau Bang Bisma sering membakar cigarette, tapi kok kenapa tidak marah ya??.


Sedang dua orang kawannya, bang Joni dan Bang Erlan, meskipun saya tidak tahu persis rute malamnya, tapi mereka juga sama-sama akan berlabuh di warung kopi Bu Risna, menikmati kopi dan cigarette, sesekali makan mie rebus, dan banyak membicarakan entah apa. Saya rasa pemuda-pemuda seperti mereka patut dicurigai, pemuda-pemuda seperti itu terlihat kehilangan gejolak darah mudanya yang seharusnya sedang mendidih, yang seharusnya seperti yang lain, yang doyan menggoda perempuan-perempuan cantik, suka keluyuran ke tempat-tempat hiburan, lesehan di depan Circle K, atau minimal ngobrolnya di kafe-kafe yang ada life music. Sebagai pemuda, mereka terlihat terlalu misterius. Tapi saya menjadi penasaran. Dan saya pikir, saya harus mulai melakukan penyelidikan dari Bang Bisma, dari kakak saya sendiri. Tiba-tiba saya merasa menjadi detektif Mouri. Ya, Kogoro Mouri. [ ]


itp, 13/1/11


No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…