16 March 2012

OLVA (9) : Catatan yang Tak Pernah Sampai

“Disebabkan karena kau terlalu malu

Dengan penuh gengsi kau berbalik, dia pun berlalu

Rasakan itu olehmu, sekarang baru kau tahu

Bahwa semua keindahan di dunia ini

Berkelebat dengan cepat

Dan hukum-hukum Tuhan ditulis

Sebelum telepon dibuat”

(Cinta di Dalam Gelas – Andrea Hirata)

***

Siapa yang ikut merasakan kepedihan Sutan Sjahrir ketika cintanya dengan Maria Duchateau kandas di Medan?. Pertemuan yang sudah direncanakan itu akhirnya berlangsung pada April 1932. Pada tanggal 10 bulan itu, mereka menikah di sebuah masjid di Medan. Sjahrir rupanya tidak sadar tindakannya menikahi perempuan kulit putih bisa dianggap provokasi. Tapi sejak kapan cinta bisa memilih?, apalagi sekedar perbedaan warna kulit. Cinta terlalu luas kalau hanya dibendung oleh hal seperti itu. Tapi cinta mereka akhirnya dihadang oleh kenyataan lain. Sebulan lewat, polisi mulai menyelidiki dokumen pernikahan Maria. Polisi menemukan kejanggalan, dan vonis pun kemudian diketuk. Lima pekan setelah akad nikah, pada 5 Mei 1932, pernikahan Sjahrir dibatalkan oleh pemuka agama setempat. Maria dipulangkan ke Belanda lima hari kemudian. Yang membuat hati Sjahrir pedih, Maria tengah mengandung anak laki-laki mereka. Tapi benarkan kepedihan Sjahrir hanya sebatas itu?. Siapa yang benar-benar bisa menyelami pedalaman hati manusia?. Sejarah mencatat, cinta Sjahrir pernah invalid. Aku belasungkawa membaca sejarah itu.

Siapa pula yang ikut merasakan kepedihan Tan Malaka ketika cintanya kepada Syarifah Nawawi tertolak?. Tan Malaka dan Syarifah terpisah ribuan mil. Tapi itu bukan halangan bagi seorang Tan Malaka untuk terus berkirim surat kepada Syarifah, yang tengah melanjutkan studi sekolah guru di Salemba School, Jakarta. Dan cinta itu ternyata bertepuk sebelah tangan. Syarifah tak pernah sekali pun membalas surat-surat itu. “Tan Malaka?, hmm, dia seorang pemuda yang aneh,” begitu katanya. Syarifah tak menjelaskan di mana keanehan orang yang menaksirnya itu. Syarifah kemudian menikah dengan R.A.A. Wiranatakoesoema, Bupati Cianjur yang sudah punya lima anak dari dua selir, pada 1916. Waktu terus berjalan. Syarifah kemudian menjadi janda dengan tiga anak setelah Wiranatakoesoema menceraikannya pada tahun 1924. Cinta lama Tan Malaka pun bersemi kembali. Cinta dia belum mati. Tan Malaka kemudian mendatangai ibunya Syarifah untuk meminang anaknya, tapi lagi-lagi ditolak. Tan pernah berkata, “Saya pernah jatuh cinta tiga kali, tapi semuanya itu hanyalah cinta yang tak sampai, perhatian saya terlalu besar untuk perjuangan.” Tapi siapa yang dapat menggapai langit jiwa sang pejuang itu?. Seberapa besar kepedihannya ketika cinta memperlakukannya dengan sangat tidak adil?. Aku gerimis membaca kisahnya.

Dan cinta tidak hanya hinggap kepada orang-orang besar saja. Selain di kedua tokoh itu, di kedua bapak bangsa itu, cinta juga mengjangkiti seorang kawanku. Apalagi dia seorang laki-laki konservatif yang sering menghabiskan cintanya hanya kepada seorang perempuan saja. Cintanya kepada seorang perempuan bermata sipit yang ditemuinya di sebuah sore yang manis tak sedikit pun goyah. Jarak hanyalah halangan ilusi untuk menyatukan cinta mereka. Bertahun-tahun cinta itu tumbuh, sampai akhirnya jarak mengkhianati mereka. Halangan ilusi itu akhirnya merobohkan getaran semesta hubungan mereka. Keputusan sudah diambil, tali itu mereka putuskan bersama. Dan lagi-lagi tali hanyalah sebuah bullshit, karena ternyata cinta masih mengaliri semesta perasaan mereka. Cinta bukan datang lagi, karena dia tidak pernah benar-benar pergi. Kini dia menemukan lagi lampu sorotnya, matahari perlahan menumbuhkan kembali cinta yang telah lama bersembunyi. Tapi kawanku adalah dia yang sudah tercatat di alam virtual, jauh sebelum waktu itu datang, bahwa dia harus mengalami pahitnya ditinggalkan; perempuan bermata sipit itu ternyata berani mencuri start, dia yang mula-mula naik ke pelaminan dengan seorang maskulin yang berbeda. Kawanku ditinggalkan dengan kepedihan yang muram, pahit, merobohkan perasaannya sampai berderak-derak. Dia invalid. Hujan turun deras waktu aku mendengarkan kisahnya.

Sekarang, apa yang aku baca dan aku dengar itu menimpa diriku sendiri. Sejarah tengah mengarahkan mata pedangnya kepadaku. Siapa yang ikut merasakan kepedihan ini?. Aku mencoba menelannya sendiri. Laki-laki banyak berjejak sendirian, maka aku harus kuat. Kalaupun ada yang tidak bisa aku bendung sendirian, maka aku menulis. Dan inilah bendunganku yang jebol itu :

Sejak terakhirkali aku memberikan tulisanku kepada Olva, dia menghilang. Jejaknya tidak bisa aku lacak. Aku tunggu di pinggir jalan tempat biasa kami bertemu, tidak ada. Aku coba mencarinya di toko buku dan di kafe tempat kami pernah membuat janji, nihil. Aku akhirnya mendatangi rumahnya, kosong. Tetangganya bilang rumah itu sudah ditinggalkan penghuninya empat hari yang lalu, pindah, tapi entah ke mana. Aku hubungi ponselnya, tidak aktif. Aku lari ke account jejaring sosialnya, sepi, tak ada lalu lintas komunikasi. Aku kehilangan perempuan biru itu. Aneh sekali rasanya mengalami perpisahan yang dilakukan sendirian. Tak ada orang yang berucap pamit. Tak ada gerimis air mata yang tertahan atau do’a diam-diam yang dilemparkan untuk orang yang akan meninggalkan. Dan aku kebagian untuk terpaksa menikmati kepahitan itu. Aku baca lagi semua tulisanku yang pernah dan belum sempat aku berikan kepadanya. Aku diserang hampa yang menyengat. Aku tarik nafas dalam-dalam dan membuangnya ke langit-langit kamar. Begini rupa cinta memperlakukanku, dia sangat percaya diri bahwa yang ditikamnya, aku, dianggapnya sebagai seorang laki-laki yang sangat kuat. Dan aku tak bisa menghindar, aku harus bersedia menjadi lingkaran targetnya.

Aku mencoba memutar ulang ingatan. Tentang pertemuan mula-mula, tentang senyum dan cara bicaranya yang menggemaskan, tentang energi menulis yang datang meluap-luap seumpama badai, tentang tulisannya yang selalu pendek dan menghujam, dan tentang baju biru yang sering dia pakai. Semakin aku mengingat semuanya, semakin nyata kehilangan itu menusuk-nusuk egoku. Cigarette bekerja keras menemani perasaanku. Gudang Peluru banjir asap, buku-buku di rak kayu diselimuti kabut tar dan nikotin. Aku baca sekali lagi catatanku yang belum sempat aku berikan kepadanya. Catatan yang tak pernah sampai :


AKU TELAH MEMBIRU

***Dari novel sejuta umat alias best seller, Laskar Pelangi, yang mungkin kamu juga sudah khatam membacanya, aku temukan kembali paragraph ini :

“Ada orang-orang tertentu yang memendam cinta demikian rapi. Bahkan sampai mereka mati, sekerling pun mereka tak pernah memperlihatkan getar hatinya. Cinta mereka sesepi stambul lama nan melankolis dengan pengarang yang tak pernah dikenal. Jika malam tiba mereka mendengus-dengus meratapi rindu, menampar muka sendiri karena jengkel tak berani mendeklarasikan cinta yang menggelitik perutnya. Cintanya tak pernah terungkap karena ngeri membayangkan risiko ditolak. Lama-lama, seperti seorang narsis, mereka menyukai mencintai seseorang di dalam hatinya sendiri. Cinta satu sisi, indah tapi merana tak terperi. Mereka hidup dalam bayangan. Mengungkapkan cinta agaknya mengandung daya tarik misterius dari cinta itu sendiri. Terberkatilah mereka yang berani berterus terang.”

Dan aku deklarasikan hari ini : aku bukan stambul lama dari seorang pengarang yang tak pernah dikenal. Aku ingin diberkati, aku ingin berterus terang. Bahwa kamu cantik, cara bicaramu yang menggemaskan, baik sekaligus menyimpan aroma untuk dicintai, dan baju biru yang sering kau pakai itu, telah membawaku ke ruang pribadimu. Ruang seorang perempuan yang sesak pesona, di mana aku terkadang segan untuk berbicara atau menyapa, apalagi berkelakar. Makanya aku sering bersapa denganmu lewat tulisan, ingin berbincang-bincang denganmu lewat duta besar huruf yang sengaja aku susun sedemikian rupa, agar kamu bisa menyambutnya dengan wajar dan sederhana. Aku khusyu mendengarkanmu lewat bahasa lisanmu, dan aku pun berharap kamu pun serius mendengarkanku lewat bahasa tulisanku, mungkin juga kita bisa saling belajar atau sekedar bertukar kisah sehari-hari, demi untuk saling menjadikan.

Olva, akhirnya aku harus berterus terang juga, bahwa dulu aku tabu menulis kata-kata cinta di setiap tulisanku. Entry kata itu telah lama aku simpan di kotak terkunci, dan kuncinya aku buang jauh ke tempat yang paling sulit aku temukan. Tapi di jenak waktu ketika aku bertemu denganmu, aku cari lagi kunci itu, aku menerobos tempat jauh untuk kembali menemukannya demi untuk membuka kotak terkunci itu. Dan aku berhasil menemukannya, aku kembali berhadap-hadapan dengan kata cinta, aku tentang dia dan aku paksa agar dia berani keluar dari persembunyiannya. Kamu boleh menyebutnya rayuan picisan kepada semua tulisanku yang telah sampai kepadamu, juga kepada tulisanku yang ini, tapi percayalah apa yang aku tulis jauh melebihi itu semua.

Seandainya waktu bisa difosilkan, aku ingin mengambil satu waktu bersamamu untuk diabadikan. Tapi apa boleh buat, semua bergerak, semua cair, menghantam siapa saja yang memilih diam dan statis. Deal, kalau begitu aku akan mengabadikan semuanya walau hanya dengan tulisan. Aku akan bergiat mencatat semua yang kita lewati bersama. Huruf-hurufku akan terus berkeringat mencatat namamu, pesonamu, harapan-harapanmu, dan juga segala keluh kesahmu. Aku tidak akan bosan mencatatkan semuanya. Aku akan terus berjaga di batas impian dan kenyataan. Di birumu, aku telah membiru. Aku mencintaimu, sangat.***


Tulisan pendek itu aku lipat perlahan. Aku simpan di lemari, di tumpukan baju yang paling bawah. Tulisan-tulisan lain yang sempat aku berikan padanya aku simpan di antara halaman buku Bumi Manusia. Aku simpan catatan-catatan tentang perempuan biru itu di tempat-tempat tersembunyi, sementara Olva, walaupun telah pergi tanpa kabar, tetap aku simpan di telaga darah yang bernama hati. Kini aku baru tahu, kenapa dulu kawanku berusaha menguat-nguatkan diri ketika ditinggalkan perempuan bermata sipit, ternyata ada mendung gelap yang tersembunyi, dan hujan deras berhamburan di pedalaman diri. Sekali ini aku tidak malu dikatakan sebagai seorang laki-laki Bombay, aku juga berhak untuk bersedih. Aku juga laki-laki invalid di medan percintaan, sama seperti Sjahrir, Tan Malaka, dan kawanku yang berusaha menguat-nguatkan diri itu.

***

Seminggu setalah aku akhirnya bangkit kembali dari tsunami sunyi, kawan-kawanku yang lebih dulu gugur di medan merah jambu, semuanya kompak mengirim sms yang kata-katanya sama persis seperti yang pernah aku kirim kepada mereka. Situs jejaring social bertindak sebagai intelejen informasi. Ternyata sejarah dicatat dari pengulangan peristiwa. Mereka, Bung Joni, Bung Ivan Beruang, dan si Uda, ikut belasungkawa dengan sms ini :

"Bung, ada ku dengar kau telah invalid di arena percintaan. Tentu aku tahu belaka, bahwa Bung bukanlah person yang lemah, melainkan lebih gagah daripada tentara Gurkha. Bertahanlah."

Demi membaca sms itu aku tersenyum pahit, tidak salah lagi sejarah tengah mengarahkan mata pedangnya kepadaku. Tapi aku percaya, setelah kisah pahit yang membenamkan itu, akan ada titik balik yang mencerahkan. Akan ada cahaya yang penuh daya, yang menerangi setapak jalanku menyusuri masa yang telah menanti di depan. Sore itu, sehabis mandi aku membakar cigarette, menikmati saat-saat ketika senja perlahan dijemput malam. Sementara music di kamar dikuasai The Panasdalam :

“Marilah bersama kami di sini, rock n roll

Lupa Indonesia Raya, nyanyi Rolling Stone” [ ]


10 Oktober '10

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai