16 March 2012

OLVA (8) : Siapa Memulai, Tidak Boleh Melarikan Diri

Dari simpang lima Senen, Bung jangan ambil yang arah ke Kramat raya, Kwitang, ataupun Atrium, tapi ambillah jalan yang ke arah Cempaka Putih. Nanti sebelum Pengadilan Tinggi Jakarta, akan Bung temui jalan Sumur Batu di sebelah kiri, tidak jauh dari universitas YARSI. Jalan itu akan tembus ke pasar Sumur Batu, Jiung, sampai Kemayoran. Kalau dari mulut jalan itu Bung hanya menggunakan sepatu alias jalan kaki, maka di gang ke empat, di sebelah kanan jalan, Bung boleh masuk ke sana dan susuri gang yang mempunyai got busuk itu. Cukup hanya dua belokan saja, Bung sudah boleh mendapati sebuah rumah bertingkat dua, bercat hijau, dan banyak betul dihiasi oleh tanaman di dalam pot. Nah, Gudang Peluru letaknya tepat berada di lantai dua.

Beberapa hari ini aku disibukkan oleh kegiatan menyampul buku dengan plastik bening. Buku-buku baru yang kubeli sebelum lebaran dan yang kubawa dari kampung serta dari tempat kakakku di Buitenzorg, semuanya masih dalam keadaan telanjang. Mereka membutuhkan baju untuk melindungi diri dari keadaan yang jorok, yang selalu merasa oke dengan buku yang lecek, dekil, serta penuh lipatan. Setelah selesai kukasih baju, mereka lalu bergabung dengan para pendahulunya yang sudah beberapa tahun berdiri di rak kayu. Peluruku bertambah lagi. Aku pun semakin kaya. Apalagi sekarang aku “mempunyai” seorang Menteri Luar Negeri yang cantik, setidaknya begitu menurut penilaianku. Dan kecantikan selalu berada si wilayah selera.

Ini memang bukan cerita tentang negara yang nama Menteri Luar Negerinya Marty Natalegawa, yang rakyatnya sedang memanas-manasi pemerintah agar segera menyerang negara Malay, tapi ini adalah kisah tentang menepati janji. Beberapa waktu ke belakang, di tulisan yang kuberikan ke Olva, aku menyebut-nyebut Republik Bulubabi. Dan waktu itu aku berjanji akan menjelaskan semuanya tentang republik itu. Kurasa, inilah saatnya untuk membuktikan bahwa aku bukan seorang laki-laki pelupa. Dengan disisipi sedikit teori, aku kembali menjelma menjadi surat kabar ibu kota yang selalu setia menyapa pembacanya. Dan pembacanya adalah dia yang selalu berkata, “Makasih ya, tulisannya bagus, aku suka.” Aku selalu berharap; mudah-mudahan dia memakai baju biru waktu aku memberikan tulisan ini :


VIRUS AKALBUDI DI REPUBLIK PARA PEJALAN JAUH

*** “Pernahkan Anda bertanya-tanya, mengapa : tayangan misteri, kriminal, gosip punya rating tinggi?. Café, resto, fast food menjamur?. Wartawan bodrex terus berkeliaran?. Koran kuning tetap dibaca orang?. Politikus korup dan tukang kipas masih terpilih?. Ilmu pengetahuan sepi penggemar?. Darwin sering salah dimengerti?. MTV, Mc Donald keren abis?. Industri iklan meraksasa?. Kapitalisme terus berjaya?. Arisan multilevel tak pernah mati?. Agama bertahan ribuan tahu?. Fundamentalis berkembang subur?.

Virus akalbudi bisa membelokkan usaha manusia meraih kebahagiaan. Hidup jadi tegang, sedih, bosan, dan hampa. Semakin tua semakin loyo. Richard Brodie, perancang Microsoft Word, dengan lugas, jernih, dan memikat mengurai ilmu memetika, salah satu penemuan mutakhir biologi evolusioner. Memahami memetika merupakan jalan keluar dari perbudakan virus akalbudi.”

Siapa yang tidak terprovokasi oleh narasi seperti itu?. Dengan cover berwarna oranye stabilo, alias oranye menyala, buku “Virus of The Mind” karya Richard Brodie, akhirnya aku ambil juga dari rak buku di sebuah toko buku independen di kota Bandung, waktu hujan terus-menerus turun seperti tidak akan berhenti untuk selama-lamanya. Aku masih ingat, mbak kasir terlihat cantik sore itu, waktu aku memberinya uang 100 ribu rupiah untuk kemudian dikembalikan lagi dengan jumlah 45 ribu rupiah. Senyum manisnya tak dapat kutolak—meski memang tidak layak untuk dibandingkan dengan senyummu yang jauh beberapa puluh kali lebih manis dari senyumnya,---tapi sayang sekali dia tidak memakai baju biru, jadi bertambah jauhlah jaraknya dengan pesonamu. Buku itu menjadi semacam batu tapal atau tanda merah bagi perjalanan kecintaanku pada buku, bahwa sesungguhnya banyak sekali buku-buku yang sangat susah untuk dimengerti.

Aku hanya bisa meraba-raba, apa sesungguhnya simpul utuh dari jejalan teori yang ada dibuku itu?. Virus akalbudi, meme, dan memetika menjadi penghuni baru di pembendaharaan pengetahuanku. Aku baca kembali beberapa kutipannya :

  • “Virus akalbudi tidak berwujud. Virus akalbudi tersebar karena hal-hal yang biasa seperti berkomunikasi. Dalam bebearpa hal, virus akalbudi merupakan beban atas kebebasan kita yang paling berharga : kebebasan berbicara. Semakin besar kebebasan untuk berkomunikasi, semakin menyenangkan lingkungan itu untuk virus akalbudi.”
  • “Kita terjangkiti virus akalbudi tidak hanya dengan cara-cara baru, seperti lewat televisi, lagu-lagu popo, atau teknik pemasaran, tetapi juga dengan cara-cara yang sangat kuno, seperti pendidikan, agama, bahkan ngobrol dengan teman. Orangtua tanpa sengaja menjangkiti kita ketika kita masih kecil. Kalau Anda punya anak, besar kemungkinannya Anda menularkan virus akalbudi kepada mereka setiap hari.”

Aku tak mau buru-buru menafsirkan kutipan-kutipan tersebut. Sekarang aku hanya ingin menepati janji, janji tentang penjelasan Republik Bulubabi yang pernah aku sebut pada tulisan-tulisanku sebelumnya. Sebenarnya semua berawal dari tulisan kawanku, Bung Joni, di note facebooknya :

110710 Derajat Lintang Utara

***“Meski kontrak tidak resmi yang pernah kita sepakati sudah tidak berlaku lagi, tapi sesekali saya masih sering mengintip dinding rumah kamu. Rasa penasaran masih tetap ada walaupun sekarang dinding itu sudah resmi berpenghuni. Sayang saya tidak bisa menikmati perhelatan seumur hidup sekali itu, semoga itu pertama dan yang terakhir dalam hidup kamu. Bahagia?...mungkin demikian, tapi sedih sudah pasti ada. Kemudian dengan santainya Muara Angke pagi ini dipenuhi manusia yang bosan hidup di darat. Mereka berlomba menuju pulau. Saya pun akan pergi kesana, ke pulau harapan tempat orang tertawa dan berdiri memandang sunset di dermaga sambil menyeduh kopi dan menghisap tembakau.

Hari itu ketika upacara haru biru dirayakan, ketika para undangan datang memberi selamat, saya merenung memandang bulubabi yang sudah terbuka cangkangnya. Pada kondisi seperti itu bulubabi pun nikmt rasanya, sungguh luar biasa mampu menghilangkan sejenak kegelisahan. Tapi tetap saja dia adalah bulubabi yang jika dipegang malah menyengat. Tapi tak mengapa..mungkin dia iba melihat saya, melihat harapan yang jelas-jelas sudah dilupakan.

Hari itu, ketika sesuatu yang berharga telah diserahkan dan disaksikan tamu undangan, saya berenang menikmati karang, menikmati tarian ikan-ikan dan ubur-ubur. Puncak-puncak yang dahulu pernah saya datangi seakan-akan lenyap menjadi meter di bawah permukaan laut. Apakah ini saatnya kita pindah haluan?. Sebab sudah tidak ada lagi yang berdoa dua kali lebih khusyu dan berharap tiga kali lebih kuat tentang jalan pulang. Setidaknya di sini saya bisa mandi berkali-kali, sudah tidak perlu cemas lagi tentang persediaan air yang hanya digunakan untuk minum dan memasak mie.

Ini sungguh pulau harapan. Pulau yang membuka jalan bagi saya untuk selalu teguh pada keadaan. Pulau yang mengajarkan saya tentang rasa tenang dalam tekanan. Pulau yang menuntut kita tidak boleh panik sedetikpun. Pulau ini sungguh menyimpan godaan yang teramat besar untuk dilawan. Merayu pada airnya yang jernih, memikat pada nyamuknya yang berjumlah 1000.

Tunggu saya dapat A1, saya akan datang lagi padamu. Bermesraan pada kedalaman dan berbagi cerita tentang daratan. Tentang dia dan dirinya yang sekarang dalam kebahagiaan.”***

Apakah aku harus berbohong bahwa cerita ini hanyalah khayalan belaka?. Tapi terlepas dari real atau tidaknya cerita tersebut, bagiku tulisan ini terasa menyegarkan, apalagi pada kalimat yang aku bold (saya merenung memandang bulubabi). Kalimat itu seperti sebuah iklan yang out of the box. Bagaimana tidak?, di tengah keadaan yang seharusnya membuat si penulis guslag, terpukul, atau menangis bombay, Bung Joni justru keluar dengan meloloskan diri melalui tulisan. Maka sehari setelah aku membaca tulisannya, aku bilang sama dia, “Kalau saja saya belum pernah tahu apa yang dimaksud dengan bulubabi, tentu saya akan tertawa dibuatnya,” dan dia malah tertawa, aneh sekali. Maka setelah itu, aku seperti mendapat inspirasi untuk mendirikan komunitas baca-tulis dengan nama yang sangat keren : Republik Bulubabi.

Tapi komunitas ini bisa juga disebut sebagai Republik Pejalan Jauh, sebab yang kami lakukan adalah rangkaian perjalanan dari waktu awal yang tercecer di belakang. Bahwa hidup sudah pergi jauh dari waktu permulaan, juga bahwa jejalan informasi dan pergesekan budaya telah membuat masing-masing pribadi bergeser beberapa derajat dari posisi awal. Sedangkan manusia tidak akan pernah selesai mencari, dia akan selalu berjalan, berjalan sampai jauh. Dia akan selalu belajar mengurai segala hal, atau dalam pandangan Richard Brodie, akan meniru segala sesuatu.

Kalau virus akalbudi tersebar melalui komunikasi, maka facebook adalah lingkungan yang sangat menyenangkan bagi virus tersebut. Dan tentu saja, setiap tulisan yang kita baca sangat berpotensi untuk menularkan virus akalbudi. Yang artinya lagi, setiap tulisan yang diupload oleh para anggota Republik Bulubabi, lalu dibaca oleh oranglain, pasti menyimpan virus akalbudi dengan kadar yang berbeda-beda. Lalu apakah komunikasi yang selama ini kita jalin, juga berpotensi menyebarkan virus akalbudi?, jawabannya “iya”. Tapi kurasa, virus itu bukan untuk dipikirkan, kita hanya cukup tahu saja, bahwa pernah ada teori yang membahas tentang virus akalbudi.***


Tulisan tersebut kubuat dengan modal laptop pinjaman dari seorang kawan kostan yang kebetulan baru membelinya dari Glodok, dan itu jelas bukan si Uda yang kerapkali menjadi trouble maker, karena dia lebih tertarik dengan DVD player. Bung tahulah alasannya kenapa dia lebih memilih benda tersebut?, selain tentu saja lebih murah, juga lebih leluasa memutar DVD bajakan yang sering dibelinya di emper jalan. Film seperti apa yang paling disukainya?, coba Bung tebak sendiri, apa kira-kira film yang cocok untuk seorang laki-laki muda, sehat, dan asupan gizinya cukup, sementara dia masih membujang?. Kira-kira dua jam aku menyelesaikan tulisan itu. Setelah dipindahkan ke flashdisk, aku segera mengembalikan laptop dan pergi re rental komputer untuk mencetaknya. Di Gudang Peluru, sambil membakar cigarette, aku baca lagi tulisan yang baru dicetak itu. Aku baca berulang-ulang, sementara tetanggaku si punya laptop terdengar memutar lagu-lagu cerah-ceria, mirip sekali dengan musik di pesat ulangtahun balita, dan dari suaranya aku yakin, bahwa yang sedang bernyanyi adalah Mocca :

“Life is just a bowl of cherries

Sometimes it’s afraid filled with worries

Don’t be afraid, when things go wrong

Just be strong”.

***

Pertemuan ke enam. Ini benar-benar kisah cinta yang absurd. Hanya karena tidak berani menyatakan cinta secara langsung dengan lisan, yang sebenarnya kata orang-orang itu gampang. Gampang sekali. Hanya karena terlanjur tenggelam pada dua cinta, yaitu buku dan Olva, maka aku bergerak dalam wilayah gradasi, wilayah sensasi perasaan kepada pesona perempuan dan gairah yang meluap kepada buku serta tulisan. Aku melacak diriku sendiri, berusaha memetakan identitasku dan minat yang sebenarnya. Dan hasilnya tak kutemukan hal yang baru, bahwa aku tetap saja seorang peminat buku dan suka menulis serta penakut dalam urusan soal perempuan. Adapun tentang teori virus akalbudi, aku tak mau berpusing-pusing memikirkannya.

Ini adalah tulisanku yang ke lima. Dan sore itu, seperti harapanku, dia memakai lagi baju biru. Benar-benar biru yang sangat cantik. Waktu aku berikan tulisan itu, sambil tersenyum, dia sempat berucap, “Makasih ya Bung.” Edan dia manggil aku “Bung”, seperti panggilan di Republik Bulubabi saja. Lalu dia berucap lagi, “Semalam habis lihat Metro files, jadi ikut-ikutan deh manggil Bung,” lalu dia tersenyum lagi. Dia lalu pulang duluan, meninggalkanku yang melihat jejaknya di mikrolet yang telah menculiknya.

Kadang-kadang aku berpikir, mungkinkah dia bosan menerima tulisanku?. Tapi dari responnya, kurasa tidak ada masalah. Begitulah kalau kondisinya dua arah, selalu ada sisi perasaan yang dipengaruhi oranglain, tentang harapan bahwa tulisanku itu dibaca dan disukainya, tentang sedikit kecemasan bahwa tulisanku bisa jadi tidak dibacanya sama sekali. Sampai akhirnya kutemukan jalan kebebasan; aku akhirnya bersikap seperti Pram, yaitu menulis terus-menerus apa pun yang terjadi, bagaimanapun kondisinya, sampai ada orang yang bilang, “Pram, kau itu bukan menulis, tapi berak.” Mungkin para ababil menyebutnya Nothing to lose. Aku harus mengurai dua jalan, bahwa menulis adalah passion-ku yang dramatik, menantang, meluap-luap, sekaligus memusingkan kadang-kadang. Sedangkan Olva, aku sedang ingin memanggilnya my cherry, adalah jalan lain yang lebih sederhana tapi sekaligus rumit, sunyi tapi mendebarkan, tak banyak bicara tapi selalu menawan, di dirinya ada sesuatu yang tak dapat aku definisikan. Maka kalau ternyata (misalnya) tulisanku tidak dibaca, itu bukan alasan bagiku untuk berhenti menulis. Pasti selalu ada cari lain untuk mendekatinya, tapi aku belum tahu apa namanya. Tapi jujur, aku hanya ingin mendekatinya lewat tulisan. Aku telah memulainya, dan aku tidak boleh melarikan diri, sebab melarikan diri adalah kelakuan para kriminal.

Dan karena aku bukan seorang kriminal, maka aku kembali menulis. Ini berarti tulisanku yang ke enam yang akan segera berpindah ke tangan Olva. Sementara itu, kawan-kawanku yang telah cukup lama cuti menulis, kini memuntahkan kegelisahan dan pikirannya dengan mulai menulis lagi. Bagiku ini sangat menggembirakan, karena kawan-kawanku mulai berani mengikis budaya lisan, mereka mulai membuat jarak yang tegas dengan budaya infotainment yang ratingnya terus melambung. Pada kondisi seperti ini, menulis bisa diartikan sebagai sebuah gerakan tidak populer, sebuah aksi menentang rating, sebuah langkah melawan budaya mainstream. Bung Joni dan Bung Erlan mulai memuntahkan peluru-pelurunya. Mereka mulai menggali lagi, mereka kembali bekerja untuk keabadian.

Tulisanku yang ke enam hanya berselang sehari dari tulisanku yang ke lima, dan waktu menerimanya, sambil tetap tersenyum, Olva sampai berkata, “Luar biasa Bung ini.” Dua kali sudah dia panggil aku dengan sebutan “Bung”, tayangan Metro files rupanya belum sepenuhnya terhapus dari memorinya. Untuk mengenang dan mengabadikan peristiwa kembalinya Bung Joni dan Bung Erlan dari cuti panjang menulis, maka beginilah jadinya tulisan ke enamku itu, dan diam-diam aku berdo’a, semoga saja Olva tidak hanya membaca tulisanku, tapi juga tertarik untuk mencoba menulis :


SYAREKAT PENGGALI

***Bukan kebetulan jika Pram dalam Tetralogi Buru-nya menulis bahwa organisasi modern yang mula-mula lahir di Nusantara adalah Syarekat Dagang Islam. Roman empat seri yang semuanya dilarang Jaksa Agung itu ditulis dengan pengawalan data sejarah yang ketat. Pram sepenuhnya sadar bahwa pemerintah seringkali melakukan distorsi sejarah hanya untuk melanggengkan kekuasaannya. Maka bagi Pram, menulis adalah perjuangan melawan lupa kolektif masyarakat. Sebagai sebuah roman sejarah, Tetralogi Buru dengan gamblang membeberkan sepak terjang muslim pribumi dalam melawan kolonialisme Belanda. Islam sebagai agama yang pemeluknya tersebar hampir di seluruh kepulauan Nusantara, berhasil menjadi perekat yang kuat dalam menyatukan berbagai ras di Nusantara. Hal inilah yang mendasari didirikannya Syarekat Dagang Islam, selain untuk memperkuat para pedagang muslim pribumi, juga sebagai wadah untuk menyuarakan aspirasi yang terkadang tidak didengar oleh Belanda. Organisasi ini terkenal dengan gerakan boycott-nya yang membuat Belanda sadar bahwa di Nusantara telah hadir sebuah organisasi yang mengancam operasional perdagangan mereka.

Berdasarkan catatan sejarah Pram, baik di buku Tetralogi Buru, maupun di buku Sang Pemula, Syarekat Dagang Islam (SDI) didirikan pada tahun 1904, atau empat tahun sebelum Boedi Oetomo (BO) lahir. Sekarang mari kita urai kedua organisasi tersebut. SDI menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa organisasinya, karena bahasa tersebut adalah mayoritas yang dipakai oleh penduduk di Nusantara. Sistem keanggotaannya selain mewajibkan anggotanya harus seorang muslim juga terbuka bagi seluruh suku dan ras yang ada di Nusantara. Adapun BO, bahasa organisasinya menggunakan bahasa Jawa, dan anggota adalah para priyayi Jawa, jadi organisasi ini sebenarnya adalah organisasi kesukuan. Tapi ironisnya, hari kebangkitan nasional selalu diperingati dengan mengacu kepada tanggal didirikannya BO. Kebenaran tidak selalu berbanding lurus dengan kenyataan.

Yang menarik dari SDI adalah cara-cara mereka melakukan propaganda. Sadar bahwa pribumi belum punya media atau corong untuk menyuarakan atau menggugat keadaan, SDI kemudian mendirikan Medan Priyayi (selanjutnya disebut Medan) di Bandung. Koran ini dimotori oleh Minke (tokoh cangkokkan dari Tirto Adisoerjo) beserta beberapa pengikutnya. Koran ini berhasil memberikan advokasi kepada kaum pribumi dalam memperjuangkan hak-haknya. Meskipun pada waktu itu koran yang terbit bukan hanya Medan, tapi karena koran yang lain mewakili suara kaum Tionghoa, maka sebagai satu-satunya koran kaum pribumi, tiras Medan mengalami kenaikan yang sangat cepat, dan makin banyak pribumi yang merasakan manfaatnya. Dengan kenyataan ini, Tirto Adisoerjo pun dikenal sebagai bapak pers nasional. Dari dulu tulisan telah membuktikan kesaktiannya.

Apa yang aku dan kawan-kawanku lakukan di Republik Bulubabi sesungguhnya ingin merasakan kesaktikan tersebut. Memang pada kenyataannya, sekarang ini tidaklah sulit untuk menemukan media propaganda seperti koran ataupun majalah. Bahkan kalau mau, mendirikannya pun bukanlah soal yang terlampau sulit, tapi bukan itu yang kami inginkan. Kami hanya ingin menumbuhkan budaya baca-tulis yang akhir-akhir ini semakin terkikis oleh budaya lisan, oleh budaya yang lebih populer karena dikemas dengan tampilan yang lebih ciamik dan marketable. Maka kami pun bergiat membaca dan menulis. Kami berangkat bukan dari pertanyaan : “apa yang kami tulis?”, tapi dari semangat pembibitan budaya, bahwa di balik kegiatan membaca dan menulis, selalu ada hal-hal baru yang bisa digali, dipelajari, dan diperbincangkan untuk kemudian bisa melahirkan lagi hal baru yang lebih menarik. Selain itu, kegiatan membaca dan menulis akan selalu melatih kita bahwa segala sesuatu akan terasa lebih baik jika didukung oleh data tertulis yang lengkap.

Kawanku, Bung Joni dan Bung Erlan, sekarang mulai menulis lagi setelah beberapa bulan cuti panjang. Mereka kembali bekerja untuk keabadiaan, setidaknya itu yang disebut oleh gadis Jepara yang mati muda. Mereka kembali bergerak dengan cara-cara seperti syarekat, dengan cara yang menurutku lebih elegan daripada hanya sekedar menjadi tukang komentar, tukang kipas, ataupun tukang hantam membabi-buta. Tentu saja aku gembira dengan kenyataan ini, karena semakin memperbanyak tukang gali di kesunyian. Tukang gali??, begini ceritanya, aku kutip dari kata pengantar Dee di buku “Filosofi Kopi” :

“Dalam setiap wawancara dan diskusi buku yang saya jalani, salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan adalah; ‘kenapa tiba-tiba menulis?’. Konsep ‘tiba-tiba’. Seakan-akan kemampuan/minat/bakat itu runtuh dari langit begitu saja, pada satu malam yang tak terduga, dan esok paginya saya menyalakan komputer lalu seperti orang kesurupan menulis novel pertama saya, Supernova.

Menulis, sesungguhnya merupakan karier panjang yang berjalan paralel dengan karier saya yang lain, yakni musik. Yang kedua lebih dulu menemukan lampu sorotnya, sementara yang pertama berjalan diam-diam, di bawah tanah, seperti wombat yang keasyikan menggali.”

Itulah yang aku maksud tukang gali, seperti wombat yang bekerja di bawah tanah, berjalan diam-diam dalam sunyi, tapi sesungguhnya itu adalah sebuah gerak produktif. Dari dua keterangan inilah aku akhirnya memberi judul untuk tulisan ini : Syarekat Penggali. Kamu mungkin menganggapnya berlebihan, tapi percayalah, bahwa dari sekian banyak tulisan yang kubuat, ada energi yang meluap-luap, energi itu adalah kamu.***


Setelah menyelesaikan tulisan yang ke enam, aku jatuh sakit; demam dan sakit kepala. Kuhajar dengan obat warung, tapi tak mempan. Akhirnya aku diamkan saja, inilah kesempatanku untuk banyak istirahat. Aku berbanyak minum air putih, dan sebanyak itu pula aku bolak-balik ke kamar kecil untuk buang air. Dingin terus-menerus menyerang. Kututup pintu dan jendela Gudang Peluru, tiba-tiba aku merasa, aku begitu sangat kecil. Dari ventilasi kamar mulai terdengar suara adzan isya. [ ]

25 September 2010

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai