16 March 2012

OLVA (5) : Biru

Buku yang aku sampul dengan plastik bening, yang aku berikan kepada Olva tempo hari, adalah dia yang hampir saja mempermalukanku. Tapi ini semua pasti gara-gara si Uda, tetangga sebelahku. Bung tentu masih ingat, pada aksi yang kedua, aku kirim buku dan catatan sebagai duta besarku. Malam hari sebelum besoknya aku bertemu dengan si tukang stempel prangko yang bertugas sebagai kurir, aku mencari ide, kira-kira tulisan apa yang pantas aku bubuhkan di buku yang akan aku berikan ke Olva. Kubongkar buku-buku puisi, kulihat buku Sapardi Djoko Damono, ah bosan. Masa “Hujan Bulan Juni” lagi, masa “Aku Ingin” lagi. Tapi ada satu puisi yang masih jarang dikutip orang, judulnya “Seperti Kabut”, meskipun keren tapi aku tak jadi mengambilnya, kupikir terlalu romantis, begini bunyinya :

“Aku akan menyayangimu

seperti kabut

yang raib di cahaya matahari

aku akan menjelma awan

hati-hati mendaki bukit

agar bisa menghujanimu

pada suatu hari baik nanti”.

Lalu ada buku Chairil Anwar, bahasanya susah kucerna, terlampau jadul, lagipula masa sih aku harus kayak Rangga AADC yang sok-sok niru Chairil dan bergaya sastrawan?, membayangkannya saja perutku mulas. Dua buku Joko Pinurbo terlihat meringkuk di sudut rak, kubaca dia dan kutemui terlalu banyak kata celana. Emha lain lagi, buku puisi trilogi Padhang Bulan, Kenduri Cinta, dan Do’a Menghapus Kutukan, kurang bisa kunikmati. Apa pula ini Toto Sudarto Bachtiar?, sama seperti punya Emha, kata-katanya kurang bisa kunikmati. Sudah beberapa buku kubuka, tapi belum ada tanda-tanda akan menemukan sebuah paragraf yang betul-betul keren. Udara di gudang peluru terasa panas meskipun kipas angin bekerja bagai romusha. Rasa haus mulai mendesak, kulirik aqua dingin yang berdiri di dekat pintu, dia melambai dan berseru, “Mari sini datang padaku, kamu sedang musim kemarau, bukan?,” kubantai dia, lalu rasa haus kubikin anumerta.

Aku menjamah lagi rak buku. Kuambil buku Taufiq Ismail, “Tirani” dan “Benteng” melemparku jauh ke tahun 1966. Aku seperti ikut dalam gelombang besar mahasiswa menuntut penurunan harga, retul kabinet dwikora, dan pembubaran PKI. Sampai di kampus UI aku melihat darah tumpah dari balik jaket kuning, Arif Rahman Hakim dan Zaenal Zakse tumbang dihajar peluru timah. Kusudahi buku-buku Taufiq Ismail dan mengambil buku Sutarji Calzhom Bachri, ampun kata-katanya pusing banget, sangat susah dimengerti, satu menit kubuka langsung kututup lagi. Buku-buku puisi ternyata tak banyak membantuku. Tiba-tiba tetangga kamarku, si Uda, sudah berdiri di pintu, lalu dia berkicau, “Amboi, saya dengar sudah dua hari ini lagu si akang temanya cinta melulu, eh sekarang buka-buka buku puisi pula, apa hal ni?”. Kujawab, “Biasalah, Da, Mowan”. Lalu kuceritakanlah mengenai operasiku esok hari. Tentang buku dan catatan yang akan kuberikan kepada Olva, dan mengenai aku yang sedang mencari kata-kata bagus untuk kutulis di buku duta besarku. Dia kemudian berkicau lagi, “Kalau awak perhatikan, nampaknya si akang ini tak faham sejarah sastra. Hei, Kang, tahukah akang siapa gerangan pengarang roman terkenal Siti Nurbaja dan Di Bawah Lindoengan Ka’bah?. Itulah mereka saudara Marah Rusli dan HAMKA. Kedua-duanya adalah orang Minang, tetangga awak. Jadi akang, tak usahlah kau risaukan mengenai kata-kata yang hendak akang tulis di buku itu. Serahkan saja sama Uda, insyaAlloh semuanya beres,” edan, aku ga’ kuat lihat gayanya yang seolah-olah sudah menjadi redaktur senior majalah sastra Horison.

Tentu saja aku 100 persen tidak percaya. Bagaimana tidak, kalau kulihat bacaannya tak lebih dari buku dedengkot roman picisan si Khalil Gibran, dan beberapa novel cinta karya para pengarang yang namanya beraroma mesir. Tapi aku diam saja tak banyak cincong, takut si Uda tersinggung. Di sebuah menit yang kurang bagus aku kebelet dan meluncur ke toilet. Buku duta besarku dan pena tinta hitam masih tergelatak di gudang peluru. Si Uda belum beranjak dari ambang pintu. Selesai melepaskan beban biologis, aku kembali menemui buku yang akan aku tulisi itu, kubuka halaman yang paling pertama, dan…%^!!$#@^&*)&%$*#@*!!!. Emosi mencapai ubun-ubun waktu kulihat sebuah tulisan pendek yang sangat norak dan kampungan , sebuah tulisan dari si Uda : “DUA TIGA AYAM BERLARI, INI BUKU BUAT KAMU YANG TENGAH MENANTI”. Paraaah, perempuan cantik rambut sebahu disangkanya penggemar Upin Ipin, si Uda berkata-kata layaknya Jarjit Singh. Kuhampiri kamarnya, pintunya kugebrak, “Hei, Da, kau pikir perempuan incaranku masih bocah, kau pikir aku ini pedofhil ?!!”. Belum sempat dia mennjawab, aku hantam lagi, “Ngaku aja tetangganya sastrawan, tapi gaya bahasamu macam bocah playgroup!!!”. Kuhantam lagi, “Saya ga’ mau tahu, sekarang cepat kau beli correction pen!!.” Kubanting pintu kamarnya dan kembali ke gudang peluru. Sambil mencoba menurunkan tensi kemarahan, aku menarik nafas dan melepaskannya ke langit kamar sambil rebah di kasur. Sementara suara orang yang sedang tadarus Al Qur’an terdengar dari arah musholla, Jernih dan syahdu. Astaghfirullah, setan telah menjelma lewat kata-kata Jarjit Singh.

Tak lama si Uda pun datang membawa correction pen berwarna biru. Setelah minta maaf dia pun berlalu. Aku bergumam, “Anak ini telah mengkhianati nama besar para satrawan dari tanah Minang.” Emosi sudah hampir reda seluruhnya, kuhampiri laptop dan menyuruh The Corrs bernyanyi, dan….Eureka!!!. Akhirnya kata-kata itu aku dapatkan. Oh, terimakasih The Corrs. Kuambil pena dan mulai menulis di buku duta besar : “HEAVEN KNOW NO FRONTIERS”. Sebenarnya kata-kata itu belum selesai, masih ada lanjutannya, tapi aku pikir belum saatnya, belum waktunya aku menulis itu buat Olva. Nanti saja jika waktu sudah duduk di tempatnya yang syahdu.

***

Masih jelas dalam ingatanku, bagaimana bapak selalu menyampul buku-buku yang baru dibelinya dengan plastik bening, dikasih tanggal dan ditandatangani, lalu disimpannya dengan hati-hati di rak buku. Memang tidak setiap hari beliau terlihat membaca buku-buku itu, tapi setiap kali beliau kebagian jadwal untuk khotbah Jum’at, aku mendengarkan kata-katanya yang diucapkan di atas mimbar, selalu saja terdengar padat dan mendesak-desak. Belakangan aku tahu, bahwa beliau memperkaya bahasanya dari buku-buku yang disampul dan berjajar di rak. Sesekali aku tengok buku-buku itu, oh aku tidak mengerti, semuanya terasa gelap dan kabur, maklum saja masih SD. Kalau ada yang dapat kucerna, ialah dia koran namanya, sebab bapak juga berlangganan Pikiran Rakyat. Maka berita sepakbola tentang liga Italia dan berita tentang Persib selalu menjadi santapan utamaku. Pikiran Rakyat sudah bosan lalu pindah ke Republika. Di sinilah aku mulai bertemu dengan rubrik Resonansi yang selalu diisi oleh tulisan Miranda Risang Ayu, Zaim Uchromi, Parni Hadi, dan beberapa penulis lainnya. Kali ini aku mulai mengerti tulisan-tulisan non sepakbola, maklum saja sudah mulai menginjak bangku MTs. Waktu itu mataku masih dua, tapi karena sering membaca sambil telentang atau tiduran, maka bayangan objek baca jatuhnya tidak tepat di retina. Pandanganku mulai kabur, tulisan yang posisinya jauh mulai tidak terbaca. Masuk SMA aku divonis : minus satu. Maka aku pun berkacamata, mataku bertambah dua, itulah dia lensa namanya. Dan diam-diam mulai suka membaca buku.

Di SMA tidak banyak buku yang kubeli, maklumlah tiap bulan hanya disangoni seratus ribu, dan harus cukup sebulan penuh. Maka aku bersiasat, kutengok perpustakaan sekolah, oh my god, pengunjungnya bermuka serius semua. Aku sedikit gentar tapi kupaksakan juga untuk masuk. Kudengar mereka sedang berdiskusi pelajaran fisika sambil ditemani buku-buku yang dipenuhi oleh rumus dan latihan berhitung, mendengarnya saja aku berkeringat. Aku menyingkir ke pinggir ruangan, kudekati rak buku-buku cerita, dan mulailah aku berkenalan dengan para pengarang Balai Pustaka, juga dengan para pengarang generasi selanjutnya macam Nh. Dini, Mochtar Lubis, Ahmad Tohari, Hamsad Rangkuti, dan lain-lain. Kubenamkan wajahku di balik buku-buku cerita, aku berusaha untuk tidak mendengar ocehan tentang pelajaran fisika. Demikian sering kulakukan, sampai akhirnya aku lulus SMA dengan angka-angka eksak yang memprihatinkan.

Masuk kuliah tak ada yang berubah. Dana pas-pasan, keinginan untuk membeli buku harus dibenamkan. Gramedia, Gunung Agung, Palasari, dan Kebon Kalapa tak pernah disambangi. Perpustakaan kampus kurang berpihak kepada jurusan-jurusan sosial, maklum saja namanya juga Politeknik. Rak-rak buku dikuasai berbagai disiplin ilmu teknik; mesin, elektro, sipil, refrigerasi, aeronautika, listrik, komputer, telekomunikasi, konversi energi, dan teknik kimia. Ilmu eksak memang mendapatkan tempatnya yang mulia di kampusku. Jangan tanya buku fiksi, selama tiga tahun aku menyuntuki kampus, tak ada satu pun kutemui. Maka aku menderita tuna dan rabun. Tuna uang untuk membeli buku, dan rabun membaca buku sosial dan cerita. Mau ke perpustakaan di luar kampus agak beresiko, uang transportasi bisa bengkak, maklumlah kampusku terletak di kampung adat dan tidak ada di peta, persis seperti letak geografis markas para gerombolan separatis. Jam tujuh malam angkot habis, dan kampung dikuasai sunyi.

Begitulah riwayat itu berjejalin di catatan sejarahku, seumpama awan, dia berarak di tempurung batok kepalaku. Dan kemarin, waktu sore mulai merampas terik matahari, ketika awan yang berarak di langit mulai berwarna jingga, aku membuka email mendapati inbox dimasuki satu pesan. Kubuku, setelah kubaca aku agak mengerutkan kening, maksudnya apa ya?. Kawanku yang tinggal di Yogya, namanya tak usahlah aku sebutkan, menulis sebuah pesan, begini tulisnya :

“Kalau kubaca status dan catatan kau di FB, nampaknya kau mau bergaya sok sastrawan, sok pecinta buku sejati. Asal kau tahu Bung, di Yogya tempat aku menjejakkan kaki, kehidupan literasinya keras. Kau cobalah main ke sini dan pertahanlan gayamu itu, niscaya habislah kau kena bantai para pegiat buku dan sastra. Hati-hati Bung, modal semangat saja tidak cukup.” (Pencinta Yogya)

Demi membaca pesan itu aku tertegun. Apakah aku selama ini bergaya sok sastrawan?, sok pencinta buku sejati?. Kulihat rak buku, jumlahnya masih sangat sedikit, kuteliti judul-judulnya, mayoritas dikuasai buku agama dan beberapa novel sejuta umat, artinya siapa pun bisa melakukan seperti apa yang telah kukerjakan. Kubaca beberapa tulisanku di blog, jarang sekali yang sengaja kutujukan untuk konsumsi publik, mayoritas untuk konsumsi pribadi. Lalu aku bertanya, dari sudut mana dia melihatnya?. Kubalaslah pesan itu :

“Bung, terkadang kita menilai oranglain dari sudut pandang idealisme diri sendiri. Tapi itu terserah pribadi masing-masing, aku tak mau banyak urusan. Adapun mengenai sangkaan kau itu, mengenai sok sastra dan sok pecinta buku sejati, siapalah aku ini?. Aku hanya seorang jongos yang pergi kerja waktu pagi belum sempurna, dan kembali setelah sinar matahari sudah temaram bahkan gelap. Kau tahu di mana aku setiap hari memadamkan bara yang menyala seharian?. Aku padamkan energi hitam di gudang peluru, di antara buku-buku yang tidak terlalu banyak. Dan menulis bagiku adalah kegiatan rekretif. Siapa pula aku ini sampai para pegiat buku dan sastra menjadi banyak urusan dibuatnya. Kupikir kau terlampau agitatif, dan sikap kau seperti ini bagiku tidak produktif. Selamat membaca dan menulis.” (Penguasa Gudang Peluru)

Setelah itu dia tak pernah muncul lagi di emailku, kabar pun tak ada, mungkin terlalu sibuk dengan dunia literasi Yogya yang katanya, kata kawanku itu; keras. Kutendang dia dengan sebuah jawaban, dan langsung menghilang, begitu aneh. Aku kini tengah bersiap untuk pertemuan selanjutnya dengan Olva, tentu walaupun bukan pertemuan pertama, tapi bagiku selalu mendebarkan. Bagaimana responnya tentang buku dan tulisanku yang kedua yang aku berikan lewat si tukang stempel prangko kantor pos, ah menunggu besok untuk bertemu lagi dengannya seperti menunggu lebaran di malam takbiran, sebentar lagi sekaligus terasa lama. Aku rebahkan tubuhku di kasur gudang peluru, lima hari lagi lebaran. Pusat-pusat perbelanjaan sudah sesak oleh pembeli. Manusia multi usia berlomba mendapatkan barang yang sesuai dengan kantong. Para pedagang berseri-seri, di mukanya terbit sinar harapan akan mendapatkan profit yang besar. Sekali waktu pernah aku ke ITC Cempaka Mas, aku masuk lewat pintu selatan, baru dua meter kepalaku melewati pintu itu, kulihat lautan manusia di dalamnya : edan pinuh pisan!!!. Aku balik kanan, dan kembali kegudang peluru.

Waktu terus berputar di jam dinding, oh sudah pukul 23.15, sudah waktunya tidur. “Bismika Allahumma ahya wabismika amut,” sedetik setelah do’a itu rampung dan aku sudah mulai berdamai dengan mata, seperti biasa hartaku yang paling melek tekhnologi berbunyi, dapat kau dengar bahwa ringtonenya memang bagus betul. Ah, siapa pula ini, kubuka : manusia invalid made ini Riau. “Lima hari lagi Bung. Yaasiin sudah saya genggam, kau di mana?, ayo bersemangat wahai kau anak muda!!”. Kubalas sekenanya, “Juz 29!!”, dia membalas lagi dengan nada kaget dan sangat tidak percaya, kata-katanya terlihat panik, “waduk siah !!”.

***

Di hari ketika aku pulang dari ITC Cempaka Mas karena tak sanggup melihat lautan manusia, aku langsung dihampiri sebuah ide yang manis manja grup : mengganti tradisi baju lebaran dengan buku lebaran. Di kampungku, keluarga yang sehari-harinya dianggap miskin karena penghasilannya tidak tetap, di hari lebaran berubah menjadi keluarga yang sejahtera, sehingga para tetangga kesulitan mencari keluarga yang miskin, semuanya banyak belaka dengan makanan dan baju baru. Artinya dana baju lebaran setiap tahun pasti selalu disiapkan, bahkan oleh mereka yang keadaan ekonominya kurang beruntung sekalipun. Tapi kenapa ketika ditanya untuk membeli buku mereka selalu berkata seperti anak kecil di iklan mie Sedap?. Mereka selalu menyalahkan pemerintah yang dianggap tidak becus menyediakan bahan bacaan yang banyak dan layak untuk rakyatnya. Terkutuklah pemerintah, begitu mungkin serapahnya. Mungkin benar juga sih apa yang dituduhkan mereka itu, tapi itu kupikir bukan solusi. Mengganti baju dengan buku, bagi orang-orang di kampungku tak ubahnya seperti menawarkan roti untuk mengganti nasi, pasti ditolak mentah-mentah.

Tapi it’s ok. Jutaan langkah yang telah kita kerjakan awalnya pasti dimulai dengan langkah pertama. Bagi sebuah mimpi dan cita-cita selalu ada langkah pertama yang akan menguatkan dan meneguhkan langkah-langkah selanjutnya. Maka langkah pertamaku adalah mengganti tradisiku sendiri : selamat datang buku lebaran. Dan tak lupa aku juga akan memberikan buku lebaran untuk dia perempuan cantik rambut sebahu, siapa lagi kalau bukan Olva. Besoknya aku menengok saldo ATM, dia berucap, “Tenang Bos, THR sudah saya tangkap. Bos carilah buku yang bagus buat perempuan cantik itu..hehehe”, kudamprat dia, “Tahu apa kau mesin duit?!!”. Kupenuhi dompet lalu meluncur ke Matraman. Kali ini aku tidak terlalu kesulitan menentukan buku untuk lebaranku dan lebarannya. Cukup hanya satu jam keliling Gramedia, dua buah buku sudah di tangan. “40 Days in Europe : Maulana M. Syuhada” untukku dan “Perahu Kertas : Dee” untuknya. Sebelum senja mencuri siang, aku meluncur ke halte bus way dan menunggu angkutan ke arah Central Senen.

Dua buku itu tak kupamerkan ke si Uda, aku masih trauma dengan kata-kata Jarjit Singh-nya. Malah sengaja dua buku itu aku simpan rapat-rapat di bawah baju yang berada di dalam lemari yang juga kukunci rapat. Ketika malam hari sudah larut, kira-kira jam 00.45, aku baru mengeluarkannya dan mengambil pena untuk menulisinya dengan kata-kata keren, kali ini aku tidak pusing lagi menentukan kata-kata. Kuambil buku Perahu Kertas, di halaman paling awal kutulisi dia dengan tinta penaku, inilah dia kata-kata pembuka yang aku tulis di buku Olva-ku :

“Biru. Warna itu bagiku selalu memesona. Entah kenapa. Langit biru kata orang-orang bukan berarti warnanya begitu, tapi adalah lukisan maha dahsyat, lukisan tentang jarak yang tak berujung antara bumi dengan semesta di atasnya. Biru. Lautan biru kata orang-orang disebabkan karena kedalaman laut yang sangat. Warna itu terutama mewarnai palung-palung terdalam yang ditutupi semesta lautan. Biru. Masih kata orang-orang, api yang paling panas itu bukan yang berwarana merah menyala, melainkan yang biru memesona. Kau juga dapat melihat di setiap obat yang tersebar di warung, bahwa bulatan biru menandakan bahwa obat itu kategorinya keras. Itu tentang biru yang beredar di wilayah pengetahuan umum. Tapi ada satu biru yang hanya diketahui olehku. Dalam semesta pesona yang melekat dan mengapung di diri seorang perempuan, bagiku itu juga biru. Dan kamu, perempuan biru itu."

Setelah selesai, buku itu langsung kututup. Kemudian kusampul dengan plastik bening yang mengingatkanku pada kebiasaan bapak memperlakukan buku-bukunya. Inilah peluruku yang ketiga. Aku tidak tahu harus sampai peluru ke berapa agar dia bisa memperlihatkan perhatiannya. Tapi ini bukan masalah bagiku. Kurasakan diam-diam dalam hidupku, bahwa memberi, apa pun bentuknya, selalu memberikan efek lega yang selama ini terasa menghimpit dada. Kulihat jam dinding, oh sudah hampir sahur. Ramadhan sudah memasuki tanggal tua. Status-status FB yang bernada religius mulai berkurang, dan aku bertanya pada diri sendiri : imanmu sudah sampai di mana?. [ ]

4 September ‘10

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai