16 March 2012

OLVA (4) : G 30 A / PGP

Kalau Olva membaca tulisanku yang pertama, pasti dia tahu, bahwa isi tulisan itu tak lebih dari serangkaian iklan yang terselubung di balik resensi buku yang sangat terbatas. Tapi aku lebih senang menyebutnya sebagai sebuah pernyataan sikap. Dengan demikian derajatnya akan lebih terhormat daripada sebagai iklan yang seringkali menerabas kenyataan demi sebuah pencitraan yang diinginkan. Maka aku menjadi lebih ringan berjalan, tak merasa dibebani oleh tulisan yang diberikan padanya. Tapi kau juga harus tahu Bung, ternyata aku diam-diam menunggu responnya. Ironi, atau mungkin pergerakan hati yang fluktuatif.

“Bagus, aku suka,” that all, tak lebih dari itu. Seperti cap jempol alias like this di facebook. Komentar pendeknya bikin aku teringat pada sebuah kalimat manis : kurang ajar betul!!. Dia pikir gampang apa menggoreng tulisan dari buku?. Dia pikir aku hanya copas dari internet?. Padahal aku mempersiapkannya berdarah-darah. Begadang semalaman, lupa makan, masuk angin, dan menyuntuki buku yang jumlahnya tidak sedikit. Rona sikapnya juga tidak ada yang berubah, seperti biasa masih datar. Dia seperti tidak mengerti dan tidak peduli bahwa tulisan itu sesungguhnya adalah duta besarku untuk menarik perhatiannya. Tapi kemudian aku cepat insyaf, bahwa itu hanyalah sebuah usaha awal, tidak sebanding jika menimbang semesta Olva dengan hanya sebuah tulisan, yang artinya aku harus menambah usaha. Harus lebih kreatif (kere tapi aktif). Maka aku bersiap lagi dengan tulisan baru dan akan menambahkannya dengan memberi dia buku. Aku tak mau keluar dari jalur literasi, jadi ide-ide tentang pendekatan konvensional, seperti misalnya ngajak dia nonton, jalan ke mall, makan ditemani lilin yang bergaya sok syahdu, atau menghadiri live music, semuanya aku benamkan di bawah kasur. Biar semua cara-cara konvensional itu tertindih beban tubuhku ketika aku penat setelah menulis dan melahap buku. Kini aku bersiap bekerja kembali di kotak istirahat, itulah dia gudang peluruku. Bersiaplah hai kau perempuan cantik rambut sebahu, aku akan beraksi lagi di bawah bendera operasi “Gerakan 30 Agustus / Penguasa Gudang Peluru”.

***

Satu hari lagi masa pinjam laptop si Joni akan memasuki waktu deadline, yang artinya aku jangan telat mengembalikan benda itu kalau tidak mau di serbu desingan peluru, juga harus benar-benar teliti untuk memastikan benda itu tidak lecet dan tidak pilek olah virus Trojan dan Brontok. Lecet sedikit bersiaplah masuk rumah sakit, karena gamparan tangan telapak dewa yang lebarnya di atas rata-rata. Maka aku harus bekerja dengan kecepatan di tinggi, malam ini aku harus merampungkan sebuah tulisan yang mampu membuka gerbang perhatiannya, menawan dan sekaligus keren. Dan waktu bergerak seumpama pasukan rahasia yang menyerang di tengah malam yang gelap dan dingin sebelum subuh tiba. Dia nyaris tak terlihat, tiba-tiba saja siang tergelincir ke petang rembang, dan senja kemudian di jemput malam. Inilah saat yang tepat untuk memulai menulis; cuaca mengambang dalam komposisi yang tepat : hujan, gelap, dingin, dan sedikit menyeramkan. Kadang aku berpikir, bahwa para penulis adalah mereka yang berusaha melahirkan cahaya ketika gelap mulai merayap.

Laptop kunyalakan, ini adalah malam ke 21 di bulan Ramadhan. Aku sudah di posisi Al Furqon, lalu aku kirim sms sama si Joni, “Bung, saya sudah di Al-Furqon, kau di mana?, tancap gas Bung sebentar lagi malam takbir.” Sms tak berbalas, pasti posisi dia sudah aku lewati. Para supporter sudah bersiap di posisinya masing-masing; dua botol besar aqua dingin, segelas kopi hitam nan kental, sebungkus cigarette, dan sekotak kue yang sangat manja : Amanda (kata siapa Amanda Brownies kukus hanya ada di Bandung?, buktinya tadi sore aku beli di Kayu Putih). Playlist sudah mantap dengan deretan lagu-lagu keren. Kau mau tahu apa lagu-lagu itu?, baiklah aku kasih sedikit bocoran :

  1. Dead from The Weist Down (Catatonia)
  2. Out of My Head (Fastball)
  3. Dying in The Sun (The Cranberries)
  4. Sweet Disposition (The Temper Trap)
  5. Melody of You (Sixpence None The Richer)
  6. No Frontiers (The Corrs)
  7. Girlfriend in A Coma (The Smiths)
  8. Mr. Ego (Speaker 1st)
  9. Walt Musim Pelangi (Float)
  10. Did I Ask Your Opinion (The SIGIT)
  11. No Fruits for Today (SORE)

Dan berderet-deret lagu yang lain masih antri, jumlahnya ratusan, sehingga dengan begitu musik bisa terus menyala sampai pagi hari. Tentu volumenya aku sesuaikan dengan kuping si Uda yang tengah tidur, yang besok mau kembali berjualan, keras sedikit dia bisa marah besar. Dan aku mulai menulis. Edisi kali ini aku memasukkan beberapa resensi film yang singkat, yang DVDnya lumayan bertumpuk di kamar. Film-film ini aku namakan peluru cadangan. Maka kalau aku diibaratkan seorang koki, inilah dia hasil masakanku :


MENULIS; SEBUAH PERTEMPURAN MELAWAN WAKTU

***Bagi generasi sepertiku yang dilahirkan setelah tahun 1980 dan sebelum tahun 1985, usia 30 sudah melambaikan tangannya di depan. Ini adalah titik yang selalu mengundang kontroversi. Bagi orangtua yang masih punya anak perawan, usia 30 adalah ketika waktu terasa berjalan terlalu cepat dan menyebalkan, sementara jodoh untuk sang anak belum kunjung datang. Bagi sebagian atlet, usia 30 adalah ketika prestasi mulai tergelincir sebelum akhirnya terbenam. Bagi para politisi, usia 30 masih terlalu muda untuk mendapatkan kursi empuk parlemen yang dibagi-bagikan partai. Bagi lulusan sarjana dan kemudian bekerja di sebuah perusahaan bonafid, usia 30 adalah sudah waktunya untuk naik ke pelaminan. Bagi para sarjana yang waktu kuliahnya ikutan rohis, usia 30 adalah waktunya untuk menimang anak yang kedua atau ketiga. Bagi pemain sepakbola Liga Indonesia, usia 30 berarti harus sudah siap-siap gantung sepatu, sebab para pamain muda mulai bermunculan di Persib dan Arema. Bagi si Joni, usia 30 sudah harus meraih gelar Master, lalu pulang kampung untuk mengembangkan bisnis kelapa sawit. Jika itu tidak tercapai, dia mungkin akan menjalani rencana alternatif; menjadi pengusaha bulubabi. Bagi si Ivan Beruang, usia 30 harus sudah khatam keliling Indonesia dan mulai mengunjungi negara-negara tetangga, di dadanya bersembunyi seorang backpacker sejati nan kere. Bagi si Uda, usia 30 harus sudah punya toko dua buah di Cempaka Mas, dan satu di Blok A Tanah Abang. Sedangkan bagiku, usia 30 harus sudah menulis minimal dua buku.

Jika kita bertanya kepada mereka yang sudah duduk di usia 30 tentang hidupnya, pasti mereka akan menjawab, “Ga’ kerasa, perasaan baru kemarin SMA, sekarang udah kepala tiga, benar-benar terasa sekejap.” Sekejap, itulah artinya 30 tahun. Sekarang berapa rata-rata usia manusia?, kita ambil saja 60 tahun. Jadi sisa hidup bagi mereka yang sudah 30 tahun adalah sisa hidup yang tinggal sekejap, alangkah singkatnya. Dan aku juga adalah manusia yang ingin mewariskan sesuatu. Aku tidak ingin meninggalkan penerus tanpa warisan buku, tanpa warisan catatan. Aku ingin para penerusku mencintai buku, atau setidaknya mencintai catatan yang kutulis sepanjang hidupku. Jadi menulis bagiku adalah pertempuran melawan waktu.

Selama pertempuran, kini aku telah menghabiskan dua buah buku kuarto dengan masing-masing mempunyai 200 halaman, semua kutulisi dengan catatan harian. Aku juga menulis di Blog Kompasiana, Multiply, Blogspot, Blog FS, dan Note FB. Aku menulis apa yang ingin kutulis, tak peduli penting atau tidak penting, perlu atau tidak perlu, keren atau tidak keren, garing atau tidak garing, pokoknya menulis, karena bagiku menulis adalah juga sebuah kegiatan rekreatif. Maka kalau kau suka menonton film tapi belum sempat membaca resensinya, ini aku punya resensi singkat beberapa film yang sempat aku tonton dan aku catat :

  • My Blueberry Night

Wong Kar Wai seperti ingin berpuisi di film yang dibintangi oleh Jude Law, Natalie Portman, dan Norah Jones. Pengambilan gambar yang sering dari bailk kaca dan komposisi warna yang cerah serta lembut menjadikan film ini menarik secara visual. Tapi sayang sang director seperti lupa kepada cerita. Film dengan pesan yang ingin disampaikan sangat sederhana menjadi kurang menggigit. Film tentang apa sih?, apalagi kalau bukan cinta. Seorang perempuan muda baru saja putus dengan pacarnya. Kok bisa putus?, apalagi kalau bukan karena perselingkukan. Sudah kubilang pada kau, bahwa perselingkuhan memang kurang ajar betul. Karena sedih, dia lalu pergi melakukan semacam petualangan dengan bekerja dari satu tempat ke tempat yang lain di kota yang berbeda-beda. Selama berpetualang dia menemui banyak orang yang mengalami kesedihan dan kekecewaan dalam menjalin hubungan dengan teman hidup, dan ternyata lebih parah dari yang dia alami. Demi melihat kondisi oranglain yang lebih berat daripada hidupnya, maka dia segera membenahi hati. Edan, menonton film ini seperti sedang berbicara dengan praktisi motivator, terlampau menggurui dan tidak super. Tapi lumayanlah bisa mendengarkan musik berirama jazz sepanjang film.

  • After The Wedding

Ini film produksi Denmark. Sebuah film tentang pilihan. Di covernya banyak betul logo padi dan kapas, yang artinya banyak menyabet penghargaan di festival film, padahal ceritanya biasa, sinetron Cinta Fitri mungkin hanya satu tingkat di bawahnya. Seorang aktifis kemanusiaan membutuhkan dana untuk membantu anak-anak di sebuah negara miskin. Suatu hari ada seorang calon donatur yang berasal dari Denmark (kampung halamannya) yang mau membantu, maka bertemulah mereka. Dunia seluas daun kelor ternyata berlaku juga di Denmark, si donatur adalah suami dari mantan kekasih si aktivis kemanusiaan tersebut. Ketika anak perempuan si donatur kawin, si aktivis kemanusiaan pun diundang untuk menghadiri resepsinya, ternyata anak perempuan itu adalah darah dagingnya sendiri hasil hubungannya dengan istri si donatur waktu mereka berpacaran. Klise banget kan?. Cerita berlanjut, si donatur yang ternyata mengidap penyakit akhirnya meninggal. Film berakhir dengan visualisasi kebimbangan si aktivis kemanusiaan, memilih antara kembali ke aktivitasnya di sebuah negara miskin, atau tinggal bersama mantas kekasihnya dan anak kandungnya sendiri. The end.

  • (500) Days of Summer

Konon si Ivan Beruang sudah menonton film ini sebanyak tujuh kali. Kawan-kawannya menyebut dia sebagai banci cinema. Tapi menurutku tidak mengherankan kalau memang seperti itu, karena film ini secara hiburan sangat berhasil. Jalan cerita yang non linear, visualisasi yang menarik dengan dimasukkannya unsur animasi, soundtrack yang menyegarkan, dan para pemain yang tampil prima; Zooey Deschanel (Summer) dan Josep Gordon Levits (Thom). Ini bukan love story, tapi story about love, begitu taglinenya. Ceritanya Thom naksir sama Summer. Awalnya berjalan lancar, mereka sama-sama tertarik, lalu jalan bareng, senang-senang, bercanda konyol, dan sorry, ML (kenapa sih film-film produksi sono selalu gitu, belum lama kenal langsung maen hajar aja?). Tapi ternyata Summer itu kurang ajar betul, setidaknya menurut Thom. Dia ternyata hanya senang-senang doang, tak ada embel-embel hubungan yang serius, dengan begitu dia dapat melupakan Thom kapan saja dia mau. Thom sebaliknya, dia ternyata laki-laki bermental Bombay. Waktu Summer mulai meninggalkannya, dan mulai tidak perhatian lagi, dia merasa terpuruk dan sedih berat. Sikap Summer tersebut membuat Thom seperti hidup di musim panas. Di Akhir film, Summer akhirnya menikah dengan laki-laki lain, dan Thom mendapatkan perempuan lain yang bernama Autumn. Thom memulai lagi hidup baru dengan musim gugur. Alur yang maju-mundur membuat penonton harus berkonsentrasi lebih, lengah sedikit tidak mustahil akan membuat bingung dalam mengikuti jalan cerita. Dan soundtrack di film ini menurutku; juara.

Film cinta melulu, aku jadi ingat Efek Rumah Kaca. Tapi tidak selamanya tentang cinta laki-laki kepada perempuan. Aku juga mencatat film tentang cinta seorang ibu kepada anaknya, judulnya Changeling, pemerannya Angelina Jolie. Dia sebenarnya pemain watak yang mumpuni, sayang Holywood malah lebih tertarik dengan kemolekan tubuhnya (Original Sin, Take Alive, GIA, Tomb Raider, dll). Ada juga cinta seorang warga negara kepada ideologi bangsanya, kita dapat melihatnya di film Goodby Lenin. Cinta platonic juga sering menjadi tema di film-film yang DVDnya mulai menumpuk dan minta dirapikan.

Catatanku tentang film semakin bertambah sejak aku menikmati JIFFest ke-11, Desember tahun kemarin. Berderet-deret film dokumenter yang mengangkat tema tentang politik, lingkungan, agama, pendidikan, dan sosial juga aku catat. Mungkin sebagian orang tidak tahu bahwa menulis mempunyai efek penyembuh bagi rasa sepi, tersisih, ditinggalkan, dikalahkan, diasingkan, dan luka di sisi-sisi jiwa yang tak tersentuh lainnya. Mereka yang telah tahu efeknya akan terus menulis selama hidupnya, ini yang aku pelajari dari buku Catatan Harian Seorang Demonstran yang ditulis Soe Hok Gie. Bagaimana tidak, sejak berusia 14 tahun dia telah menulis di catatan hariannya, kata pembukanya begini : “Aku dilahirkan pada tahun 1946, ketika perang tengah berkecamuk di Pasifik.” Dari detik dia menulis kalimat itu, sampai tahun 1969 dia terus menulis, dan hanya kematian yang dapat menghentikannya; gas beracun gunung Semeru mencekiknya.

Catatan juga bisa menjadi alat untuk meneropong perkembangan pribadi kita di masalalu. Dia seumpama perekam jejak langkah yang telah kita lakukan. Tujuannya untuk apa?, salah satunya untuk muhasabah. “Haasibuu anfusakum qobla antuhaasabuu”, demikian kata Umar bin Khatab. Tapi terkadang mencatat juga dilakukan tanpa motivasi yang jelas, seperti misalnya di sebuah siang yang panas, kipas angin tak pernah berhenti berputar bagai kerja rodi, dan aku terbangun dari tidur siang, karena terganggu dengan suara musik dari pengamen topeng monyet yang melintas di gang, aku bisa saja tiba-tiba mencatatkannya :

Sumur Batu, 29 Agustus ’10 (Ahad)

Ini sebenarnya waktu untuk istirahat, jatah rehat untuk tubuh yang dihajar enam hari sebelumnya. Enam hari yang manis untuk mencari karunia Allah. Sekarang para pengamen topeng monyet itu berisiknya minta ampun, tapi mereka juga sedang mencari karunia-Nya, jadi haruskan aku merasa terganggu?. Oh, udara panas betul hari ini, aku jadi rindu es kelapa.

Atau pada sebuah malam yang bagus waktu aku masih di Bandung. Aku nongkrong di tempat jemuran, pemandangan kelap-kelip lampu di utara, di sekitar Lembang dan Cikole. Ada suara perempuan di bawah, aku melihat ke jalan gang, oh ada beberapa anak gadis sedang mesra dengan lawan jenis, lebih dari dua pasangan. Aku langsung mencari buku catatan :

Sarijadi, 16 September 2007 (Sabtu)

Ini malam apa sih?, kok banyak betul yang bermesraan?. Oh, malam minggu rupanya. Bandung yang tua dan sepi, anak gadismu telah ambil pencuri. Dan ini lebih berbahaya daripada residivis nomor wahid yang dikurung di kantor polisi, sebab pencurinya adalah para pemuda yang datang dengan wajah ramah ke rumah orangtuanya, lalu dengan sekali sikap memikat, anak gadis itu telah berhasil diambilnya dengan selamat. Dan kini mereka berjalan berdua di bawah langit yang gelap, di bawah langit Bandung yang tua dan sepi.

Selain di kedua tempat itu, aku juga sempat mencatat beberapa peristiwa ketika tinggal di tempat yang lain. Sering kubaca lagi catatan-catatanku yang usianya sudah lebih dari setahun, dan aku merasakan bahwa begitu saktinya tulisan. Dia seumpama kamera cctv yang merekam potongan-potongan peristiwa dan pergerakan jalan pikiranku. Dia juga seringkali mengingatkan bahwa penyesalan adalah ribuan kertas yang hangus dibakar oleh waktu. Awalnya aku juga seperti kebanyakan orang yang menganggap catatan harian alias diary adalah pekerjaan yang hanya cocok untuk kaum perempuan, tempat mereka curhat di atas kertas yang menggelikan karena seringkali dihiasi gambar bunga atau putri Cinderella. Jadi kalau aku punya catatan harian maka akan mempermalukan diri sendiri, demikian pemikiran awalku bersekongkol dengan kenyataan sosial. Tapi akhirnya aku buang pemikiran itu, dan aku mulai menulis. Ini hanyalah masalah media, tinggal kuganti saja dengan buku biasa, maka aku tak perlu bertemu dengan kertas berbunga atau putri Cinderella. Maka aku tetap dapat menulis dan tetap bisa keren.

Membaca dan menulis. Selamanya demikian. Pram menyebutnya sebagai tugas nasional, sebagian penulis lain menyebutnya bekerja untuk keabadian. Aku tidak muluk-muluk, bagiku membaca dan mencatat adalah kerja rekreatif. Kalau kupikir, kedua pekerjaan itu juga ternyata adalah cara-cara Tuhan. Bukankah ayat pertama berbunyi : Iqro, bacalah. Lalu sering kudengar kelak nanti di hari pembalasan, kita semua akan menerima catatan amal kita selama hidup di dunia. Membaca dan mencatat. Selamanya demikian. Apa pun sebutannya untuk kedua kegiatan ini, kurasa aku akan tetap berjalan. Adapun kamu, setidaknya sampai saat ini, aku tetap tidak tahu, apakah kamu mencintainya seperti yang aku lakukan?, yang jelas kamu tidak akan aku lepaskan dari catatanku. Alasannya sederhana, kamu begitu memesona.***


Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Besok akan aku print tulisan itu di rental komputer yang ada di ujung gang. Setelah diprint, langsung beli buku di Matraman. Buku apa kira-kira yang pas?, jujur saja aku masih bingung. Mata mulai terasa pedas karena konspirasi yang aneh antara layar monitor, rasa ngantuk, dan asap cigarette. Aku mencari angin segar di luar kamar, oh bulan sedang hampir sempurna. Itu ada bintang yang berdekatan dan seperti membentuk rasi, tapi pelajaran tentang rasi bintang sudah sangat lama aku lupa. Kutebak saja, mungkin rasi bulubabi. Ramadhan mulai memasuki sepuluh hari ketiga, diam-diam aku ingin seperti orang-orang sholeh terdahulu yang merasa sedih ketika Ramadhan akan segera berakhir. Tapi aku teringat status facebook Bung Erlan Capluk yang mengatakan bahwa Islam kita masih berantakan, jadi demikian adanya, aku diserbu perasaan mengambang; antara sedikit sedih dan banyak gembira karena lebaran akan segera tiba. Aku menghitung hutang-hutangku kepada Tuhan, aku merasa sangat miskin.

Tiba-tiba ada yang berbunyi di gudang peluru, ringtone bagus terdengar jernih sebab sudah larut malam, oh sebuah sms dari Bung Joni, “Bung, kau harus segera meninggalkan Al Furqon, sebab saya sudah di Al-Ankabut. Ramadhan hampir tergelincir ke Syawal, kau malas maka target khatam akan lepas. Sudah dulu Bung, besok mantap betul makan sahur pakai rendang.” Apa maksudnya coba ada informasi makan rendang segala?, dia pikir di Sumur Batu tak ada rendang gitu?. Hai kau Jon, hati-hati ya dalam berucap, duapuluh langkah dari kamarku berdiri di situ warung nasi Padang paling enak se-Sumur Batu., itulah dia warungnya Uda Mahmud. Tak lama datang lagi sms, kali ini dari si Ivan Beruang. Edan ya, sudah larut malam begini manusia-manusia invalid itu belum juga pada tidur. Si Beruang berkirim sms yang bernada sombong, ”Pengumuman : The Temper Trap akan datang ke Jakarta, tiketnya 300 ribu, saya sudah punya satu.” Langsung kubalas, “THR sudah tidur di rekening, tinggal menyapa ATM, urusan selesai. Aink rék meuli dua!!”.

***

Setelah merasa loyo karena putar-putar di Gramedia Matraman, akhirnya aku berhasil memutuskan, bahwa buku yang akan menjadi duta besar adalah buku terbaru dari Pidibaiq yang berkolaborasi dengan Happy Salma : Hanya Salju dan Pisau Batu. Ini keputusan yang sulit. Beberapa buku yang menjadi nominasi harus rela tersingkir : A Cat in My Eyes (Fahd Djibran), Filosofi Kopi (Dee), Kolam (Sapardi Djoko Damono), dan Negeri van Oranje. Alasannya apa sehingga aku memilih bukunya Haji Pidi?, kurasa Bung tak perlu tahu. Aku sampul buku itu dengan plastik bening sehingga mengkilat bagai kepala plontos para profesor, dan tulisan yang kubikin semalam aku selipkan di buku baru itu. Kali ini aku tak akan memberikannya langsung, tapi akan minta bantuan kantor pos.

“Yaaah…, ini mah tetangga dong, ga usah lewat kantor pos juga bisa nyampe!,” si tukang stempel prangko berkicau. Kujawab, “Bang, tak usahlah abang banyak cakap, pokoknya sampaikan saja bingkisan ini kepada alamat yang tertulis. Terserah mau caranya bagaimana, pokoknya hari ini juga harus nyampe!. Nih, buat beli kolak bakal ta’jil”, kukasih dia duapuluh ribu, dan aku berlalu. Kantorku ada di seberang kantor Olva, hanya terpisah jalan raya, dan kantor pos persis di sebelahnya kantor Olva, jadi memang sangat dekat. Tapi aku telah memutuskan, bahwa buku dan tulisanku harus sampai lewat tangan oranglain, harus lewat perantara.

Sore sebelum pulang aku ketemu dengan si tukang stempel prangko, dia hanya mengangkat tangan, telunjuk dan ibu jarinya dibuat melingkar, itu artinya : OK. Sore semakin cepat berlalu, dan malam akan segera menjemput. Oh, suara adzan maghrib sudah mulai terdengar, saatnya buka puasa untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Kuraba kantong untuk mengambil uang, ya ampun ternyata aku bangkrut, uang tersisa tinggal lima ribu. Olva telah membuatku menjadi miskin. [ ]

1 September ‘10

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai