16 March 2012

OLVA (3) : Strategi Muhidin

Demi menemukan, lalu membaca buku cacatan harian yang berwarna hitam, tiba-tiba waktu seperti terpental beberapa tahun ke belakang, melayang-layang, lalu hinggap di tahun 2002 Masehi. Aku yang tengah duduk di gudang peluru dan menyuntuki ratusan buku dalam rangka mempersiapkan sebuah aksi yang mendebarkan, tiba-tiba didatangi kawan-kawan masa laluku, persis seperti hewan-hewan yang menyerbu di film Jumanji. Kawan-kawan masa kuliah yang kehidupan percintaannya invalid, tanpa direncanakan akhirnya masuk ke dalam catatan harianku. Awalnya buku catatan itu aku rencanakan hanya untuk mencacat kondisi, situasi, dan aktivitasku di dalam organisasi kampus.

Enam bulan berjalan masih sesuai rencana, buku itu masih dikuasai oleh catatan mengenai orientasi, kaderisasi, dan politik kampus. Catatan yang sering aku ulang-ulang adalah mengenai perang urat syaraf antara organisasi intra dan ektra kampus. Anak-anak BEM tampak sibuk sekali menghalau organisasi-organisasi luar macam KAMMI dan LMND, ada pula bentrok antar Himpunan kalau lagi musim POM, tak lupa ada juga cerita mengenai penggembosan calon-calon Ketua Himpunan. Semuanya aku catat dalam buku bersampul hitam.

Memasuki bulan ke tujuh manusia-manusia invalid datang memenuhi catatan harianku. Mereka tiba-tiba membuatku semakin bersemangat menulis. Yang paling sering muncul dicatatan adalah Bung Asrul. Dia tipe konservatif nomor wahid, kalau derajat konservatifnya dikonversi ke dalam beras, dia termasuk beras super produksi Cianjur. Bukan main, tak kurang dari duapuluh lembar buku catatanku dipenuhi oleh kelakuannya. Seperti laki-laki normal lainnya, sekali waktu dia pun pernah jatuh cinta. Ini aku kasih sedikit kisahnya, sangat sedikit :

  1. Perempuan incarannya ternyata diketahui mengidolakan Coki Sitohang, alasannya karena presenter muda itu selalu tampil klimis tanpa selehai rambut pun tumbuh di atas bibir dan di bawah dagunya. Maka Bung Asrul bersabda : “Bung, cinta ternyata terlalu sederhana. Tak lebih dari soal mengkurud kumis. Bukan main mudahnya.” Besoknya dia babat kumis lelenya yang bersemayam di sekitar bibir. Asrul tampak sangat percaya diri.
  2. Lain waktu perempuan incarannya kedapatan batuk-batuk karena terkena asap rokok kawan laki-lakinya. Tak lama Asrul pun kembali bersabda : “Bung, cinta ternyata hanya untuk orang-orang sehat belaka, orang-orang yang menghargai karunia Tuhan. Sungguh tak terperi indahnya. Mulai detik ini akan kutinggalkan cigarette. Ambillah kalau kau masih doyan,” dia melemparkan rokoknya ke arahku dan berlalu.
  3. Tak sampai lima menit dia balik lagi, wajahnya memelas, matanya bagai disengaja dibikin sayu, macam orang mau menangis Bombay, menyebabkan aku ingin ngepret mukanya, tapi kutahan : “Bung, tak tega rasanya aku meninggalkan Djarum Super, dia sudah bertahun-tahun menemani hidupku, sudah kuanggap macam adik kandung sendiri. Biarlah aku akan menyelami cinta dengan ditemani cigarette, kalau perlu aku akan berkonsultasi dulu sama dokter.” Lalu dia mengambil lagi rokoknya dari kantongku. Dasar cerobong asap!!.

Kisah kawan-kawan invalidku yang lain susul menyusul, berderet-deret seperti barisan semut rangrang di dahan pohon. Aku berkali-kali tak dapat menahan senyum, tak disangka catatan delapan tahun yang lalu masih tersimpan rapi di atas kertas yang mulai menguning. Setelah puas membaca, aku lipat lagi buku itu, dan tiba-tiba kawan-kawan invalidku berhamburan keluar kamar, persis seperti hewan-hewan liar di film Jumanji yang melarikan diri ketika kotak ajaib ditutup kembali.

Aku mulai penat, puluhan buku telah selesai kubongkar. Setiap kata, kalimat, dan paragraf yang mantap dan seksi, aku kasih dia stabilo kuning untuk selanjutnya akan ku goreng sehingga menjadi sebuah tulisan yang mengesankan dan keren. Akan kujadikan tulisan itu sebagai duta besar kepada perempuan rambut sebahu, itulah dia Olva namanya. Aku mulai haus, oh tenang, rupanya di gudang peluruku ada sebotol Coca cola dingin oleh-oleh dari Carrefour. Dahaga kubikin almarhum, dan aku mulai membakar sebatang lagi.

***

Lagi-lagi aku pergi ke tempat si Joni, kali ini untuk menyikat laptopnya. Gudang peluru tidak dilengkapi oleh fasilitas komputer, bahkan mesin tik pun tidak ada, maklum tegangan listrik sering tidak stabil jadi ibu kost melarang membawa komputer, juga karena ada tetangga yang baru melahirkan, jadi tak elok kalau bunyi mesin tik mengganggu bayi yang baru beberapa minggu menikmati hidup. “Kemarin kau sikat buku, sekarang laptopku mau kau gasak juga, alangkah tak bermodalnya kau punya hidup!!,” senapan angin mendesing-desing di telingaku. Aku katakan kondisi yang sebenarnya mengenai tegangan listrik yang tidak stabil dan mengenai ketentraman hidup seorang bayi, aku katakan dengan betul-betul tanpa dikurangi sedikit pun, tapi aku dibungkam dengan cepat, “Ah, Hoobastank kau!!”, maksud dia pasti The Reason. Aku yakinkan dia, bahwa laptop itu tidak akan sampai lecet sedikit pun, lagi pula aku hanya butuh waktu tiga hari. Dengan sebuah ultimatum yang mengerikan aku berhasil memboyong laptopnya ke gudang peluru, “Jika nanti betul ada suatu masa, di mana saya melihat laptop ini lecet atau pilek karena diserang Trojan dan Brontok, maka boleh kiranya Bung saya kepret!!.” Asal tahu saja, ukuran telapak tangan si Joni di atas rata-rata, macam telapak dewa. Boleh kalau Bung mau mencoba; pagi-pagi jangan sarapan dulu, lalu rasakan hantamannya : welcome to the hospital.

Malamnya aku semakin bergiat melahap buku. Sudah beberapa hari aku seperti kerani yang dijaga ketat oleh pikiran-pikiran manusia yang mengendap dalam deretan huruf. Roh-roh para penulis yang sudah game over, seperti bergelantungan di kusen jendela, di kipas angin, di gantungan baju, dan di atas lemari plastik. Jam setengah satu malam aku menggigil, bukan karena takut, ternyata perut lupa diisi. Aku meluncur ke warung mie rebus, setelah sebelumnya aku pamit terlebih dahulu kepada hantu-hantu Tagore, Tolstoy, Chairil Anwar, Sun Tzu, Rendra, Hemingway, HAMKA, Mochtar Lubis, Romo Mangunwijaya, Pramoedya, Al Banna, Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, Ivan Shcumbag, dan Dewi Lestari, PLAAKK…!!!, “Hai, anak muda, hati-hati dalam berucap, kakak saya masih segar bugar tak kurang suatu apa pun!!,” Arina menamparku, pantes saja musik di laptop berhenti, beberapa detik Mocca kehilangan vokalisnya.

Sementara aku berjalan menembus gelap menuju warung mie rebus, di sebuah kamar yang kubayangkan lampunya sengaja dibikin redup, wangi, sejuk, penuh pernik-pernik glow in the dark, bersih dan keren, Olva sedang tertidur pulas. Membayangkan tempat tidur perempuan-perempuan cantik merupakan hiburan tersendiri, apalagi perempuan itu telah menawan hari-hariku. Maka siapa yang tak iri pada guling, bantal, kasur, seprai dan baju tidurnya?, benda-benda mati itu kurang ajar betul dengan leluasa membelai, memeluk, dan merabanya, PLAAKK…!!!, “Hai, plagiator amatir, kalau nyontek yang cantik dong, semua orang juga tahu, itu kan kata-kata saya di buku Filosofi Kopi!!.” Edan, tadi adiknya, sekarang kakaknya, Dewi Lestari tak terima kata-katanya kuplagiasi. Dalam satu malam pipi kanan dan kiri sudah khatam dua tamparan. Aku mencoba menghibur diri, kuanggap tamparan ini adalah resiko mencintai seseorang. Olva, ingin rasa kau bertanya padaku tentang cita-cita, sebab akan ku jawab : aku ingin menjadi baju tidurmu.

Setelah menentramkan perut, aku memilih untuk rehat dulu dari buku-buku serius, sambil sebatang lagi, buku dwilogi Padang Bulan mulai kubaca. Besok kalau aku masih diberi kesempatan untuk hidup dan bertemu lagi dengan Olva, berarti itu adalah pertemuan yang ketiga. Ramadhan masih menyejukkan bumi, sebentar lagi anak-anak muda akan berkeliling membangunkan orang untuk makan sahur. Sebelum puasa datang si Joni pernah kirim sms, “Bung, puasa sekarang kita harus menjadi juara, biar nanti lebaran kita berhak mengklaimnya. Posisi saya sudah di surat Yunus, silahkan kejar kalau kau mampu.” Demi ingat sms itu aku tiba-tiba merasa lambat sekali, bahwa Ramadhan sudah memasuki hari ke-14, posisiku masih kedodoran di surat At Taubah, surat yang menurutku sangat tegas, karena dimulai tanpa basmalah. Baiklah, mulai besok aku akan sprint, dan bersiaplah kau Jon, sebentar lagi kau akan menjadi runner-up.

Kulanjutkan dwilogi Padang Bulan, dan urat-urat tertawaku mulai menemukan waktunya. Aku mulai berkenalan dengan Enong, Syalimah, Zamzami, Deteftif M. Nur, Ikal, Jose Rijal, Ratna Mutu Manikam, Preman Cebol, Matarom, Selamot, Giok Nio, Chip, Paman, Mustahaq Davidson, Bu Indri, Overtse Djemalim, Zinar, Nockha, Alvin and The Chipmunk, Modin, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh lain berderet-deret di buku tersebut. Demi menikmati gaya bercerita yang menggoda dan pemilihan kata-kata yang gemulai, aku tertawa sendirian di gudang peluru, tengah malam, dan tak lama pintu ada yang mengetuk dari luar, “Hai Pak Cik, kalau kambuh jangan tengah malam dong, awak nak tidur, bisuak nak cari piti !!,” si Uda merasa terganggu, lalu dia tidur lagi. Aku terus membaca, setiap kali mau tertawa, mulut kubekap dengan sarung biar suaranya dapat diredam. Begitu keadaannya selama dua jam, sampai suara pasukan gerebek sahur terdengar di kejauhan.

***

Pagi-pagi sekitar jam delapan, aku mendapatkan laptop sudah berhasil menyimpan satu tulisan. Windows Media Player belum sempat aku bunuh, Sixpence None The Richer masih bersuara :

"You're a painting with symbols deep, symphony soft as it shifts from dark beneath a poem that flows, caressing my skin in all of these things you reside and I want you flow from the pen, bow and brush with paper and string, and canvas tight with ink in the air, to dust your light? from morning to the black of night.”

Kulihat layar monitor, oh ada Trojan, langsung kubabat dengan Smadav. Ini peluru pertamaku. Rencananya besok senin aku kasihkan sama Olva. Isinya seperti gado-gado, bahannya aku ambil dari buku-buku yang dihighlight dengan stabilo. Beginilah jadinya :


MEMBONGKAR YANG DISEKAP

***Di balik tebaran aforisma yang memesona dan penggunaan banyak media untuk menelusuri nilai, buatku pribadi cerita di buku Supernova; Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, sesungguhnya mengandung kebencian. Apa yang dilakukan Rana dan Ferre dengan perselingkuhannya yang sangat dihayati, sehingga seolah-olah mereka adalah manusia yang teraniaya dan terdzolimi, membuatku tidak pernah mau membaca lagi buku itu secara utuh. Aku hanya mau membaca potongan-potongan puisinya yang manis dan cerdas.

Adegan yang paling membuat aku mual adalah ketika Ferre datang ke acara ulangtahun selingkuhannya, Rana. Sebelum dia sampai ke rumah Rana, dia menghentikan mobilnya dan tidak berani melihat rumah selingkuhannya itu. Dengan suasana hati yang memelas dan seperti minta dikasihani, dia berkata sendiri bahwa tidak sanggup melihat benda-benda yang ada di rumah Rana. Dia tidak sanggup melihat sofa, meja, dan dapur yang mungkin sering dipakai, maaf, ML oleh Rana dan suaminya. Atau adegan di kamar tidur ketika Arwin (suami Rana) hendak merayu istrinya untuk, maaf lagi, ML. Sebelum action, Rana sempat menjerit dalam hati, “Toloooong, aku diperkosa!!, padahal hubungan itu dilakukan dengan suaminya sendiri hanya karena merasa mengkhianati selingkuhannya. Sangat mengerikan.

Dan yang membuatnya lebih mengerikan, Dee berhasil membuat cerita itu menjadi memikat dengan gaya bertutur yang tidak biasa, pencarian nilai lewat spiritualitas dan sains, belum lagi taburan aforismanya yang orisinal dan jernih, sehingga kalau saja ketika buku itu terbit pada cetakan pertama, dan aku sudah mengenal facebook, mungkin akan banyak status yang aku ambil darinya. Tapi tetap saja, walau bagaimanapun menariknya tampilan gaya bertutur dan gaya bahasa, bagiku cerita cinta segitiga itu layak untuk ku benci. Maka perselingkuhan adalah sesuatu yang paling aku benci, dan mereka, para pelaku perselingkuhan adalah orang-orang yang paling ingin aku bunuh.

Aku justru lebih senang cerita Dee dalam buku Filosofi Kopi yang berjudul Rico De Coro. Cinta seekor kecoak (coro) yang bernama Rico kepada seorang manusia bernama Sarah. Gaya penceritaan yang menjadikan Rico sebagai yang bertutur membuatnya menjadi lucu dan unik. Bagaimana kecoak itu bercerita tentang sejarah hidup bapak, ibu, dan dirinya sendiri. Katanya, dulu Bapaknya sangat menyukai film Hunter karena hidupnya dibelakang televisi. Bapaknya juga mengenal nama-nama seperti Marimar, Bella Vista, dan Sun Silk. Tapi itu tak penting, yang menarik bagiku adalah bagaimana Rico, si kecoak yang menaksir Sarah, memperjuangkan cintanya sampai dia mati. Picisan sih, tapi aku jadi berpihak kepada kecoak daripada orang-orang yang berselingkuh. Kalau kau mengambil kesimpulan bahwa orang-orang yang berselingkuh lebih buruk daripada kecoak, tanggapanku hanya satu : setuju!!.

Aku pun membaca buku Menggelinding karya Pramoedya Ananta Toer. Di dalamnya kutemui sebuah judul “Tentang Emasipasi Buaya”, yang bercerita mengenai sebagian kehidupan sosial di Belanda yang menyangkut hubungan laki-laki dan perempuan. Ketika Pram tinggal di Belanda, tetangganya seorang perempuan Belanda memberinya kopi, yang artinya itu dalah sebuah ajakan untuk “bermain”, tapi dasar Pram yang tak mengerti budaya di sana, dia pun menanggapinya dengan dingin. Barulah ketika kawannya memberi tahu mengenai apa maksud si perempuan Belanda itu, Pram mengerti, tapi dia kemudian berucap, “Aku sudah punya bini. Bila memiliki hati perempuan maka memiliki seluruhnya dan untuk selama-lamanya, tidak terbatas oleh menit dan jam.” Kurasa, aku lebih menghargai dan menaruh hormat bagi orang-orang seperti dia. Orang-orang yang menghormati arti hubungan dan tidak mau berkhianat.

HAMKA lain lagi, dari dua buku karangannya yang kubaca; Tenggelamnya Kapal van der Wicjk dan Di Bawah Lindungan Ka’bah, keduanya bercerita mengenai kasih tak sampai, dan tentang cinta yang dibawa sampai mati. Sebagaimana Hamid dan Zainab yang kasihnya tak sampai, begitu pula Zainudin dan Hayati. Kedua pasangan anak manusia itu tidak diperkenankan bersatu dalam kehidupan rumah tangga, tapi jangan ditanya seberapa besar rasa cinta di antara mereka, sebab HAMKA telah berhasil mendadarkannya dengan baik dan jelas. Kurasa, orang-orang seperti tokoh-tokoh dalam dua novel tersebut perlu diberikan apresiasi atas keteguhan cintanya.

Lalu susul menyusul kisah cinta yang beragam, ada yang mengesankan juga ada yang berjelaga, pahit tak terkira. Cerita yang ditaburi aforisma menambah menarik perhatianku. Dengan membaca buku-buku itu, aku berusaha membongkar pikiran-pikiran manusia yang disekap di kertas yang menguning. Aku menimbang perasaan para penulis dan menyusuri ke mana sebenarnya pikiran mereka berlari. Buku-buku itu telah menawanku dalam kesenangan yang menggoda. Aku tak tahu apakah kamu juga mencintai buku?, apakah kamu juga tertarik untuk membongkar pikiran-pikiran para penulis?. Aku tak tahu sedikit pun. Bagiku kamu misteri, dan itu indah dan mendebarkan.***


Besoknya setelah aku print, aku lipat tulisan itu dengan kerapihan di atas rata-rata; tukang administrasi kantor kecamatan lewat. Sore menjelang, aku bersiap bertemu dengannya. Lima menit berlalu, Olva akhirnya terlihat di seberang jalan, kali ini aku tak menyangkanya sebagai tiang listrik. Dia semakin mendekat, dan aduh.., kok aku gemetaran ya??!. Katanya dia harus pulang buru-buru, ada acara, jadi tak sempat aku bicara berlama-lama. Sebelum mikrolet sialan menculiknya dariku, aku kasih tulisan itu,”Bacanya ntar aja ya di rumah!”. Setelah dia berlalu, aku kupikir; “edan, betapa memalukan. Hari gene masih pakai surat??!!.”

Tapi pikiran itu cepat berlalu, karena aku dihajar pikiran yang lain. Ya Allah, aku tidak bisa menahan ketawa. Aku tertawa sendiri macam orang stress. Tiba-tiba aku jadi teringat si Ikal dan Detektif M. Nur dalam buku dwilogi Padang Bulan yang terobsesi untuk menambah tinggi badan, sedangkan Olva, perempuan cantik yang baru saja berlalu dari hadapanku justru tingginya di atas rata-rata, pikiranku mulai bekerja, oh mungkin inilah dia contoh sukses dari alat peninggi badan yang sangat fenomenal, sepertinya di tubuh perempuan cantik ini ortoceria telah berhasil menunjukkan kegemilangannya. [ ]

28 Agustus ‘10

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…