16 March 2012

OLVA (15) : Red

“Karena banyak batu terbengkalai di sekitar bangunan tak selesai, karena banyak penumpang di teras rumah orang, dan tak ada bangunan yang nyata hanya oleh ancang-ancang,” begitu kata Dewi Lestari. Maka cerita harus dilanjutkan, begitupun dengan hidup. Tak ada yang bisa menghentikan semuanya, kecuali yang berhak. Jadi, tentunya harus tetap bergerak. Dan jangan lupa sepenggal puisi Thukul : Aku berpikir tentang gerakan / tapi mana mungkin kalau diam?.

***

Di wajah yang menyimpan pura-pura, akan terlihat dengan jelas, bahwa ada arus deras yang mengalir di baliknya. Seperti semburat merah yang menguasai langit timur, maka sesungguhnya kamu tidak bisa kabur, tidak bisa menyembunyikan dengan rapat, karena arus itu bergerak, padat, hidup, bulat. Membentur-bentur langit imitasi yang ada di pedalamanmu. Seperti yang belajar keluar, seperti perasaan yang menjalar. Mengalir. Memancar.

Tapi itu sudah berlalu. Ternyata untuk mengujinya hanya dibutuhkan sedikit waktu panjang, dan bara merah perlahan akan mulai padam. Dia datang lagi, kini dengan keadaan yang lebih syahdu, lebih memungkinkan untuk berdekat-dekatan. Ijin tinggal di luar kota sudah dikantongi, tapi sayang sekali, saya sudah ditawan oleh seorang yang lebih sederhana, oleh seorang yang bara di matanya lebih hangat dan lebih tenteram.

Saya tidak menulis lagi untuknya, saya hanya menulis untuk diri sendiri dan untuk perempuan yang matanya membuat siang seperti beranjak akan menjadi temaram. Meskipun perempuan bermata juara ini tidak begitu menyukai tulisan, tapi itu bukan alasan untuk berhenti. Mungkin Olva menemukanku seperti sebuah kota yang sudah berbenah, banyak perubahan, setiap sudut direnovasi, dan membuatnya sedikit ragu; apakah ini kotaku?. Mungkin dia tidak akan tersesat, tapi bagaimana rasanya berpijak di sebuah kota yang tidak dikenali?.

“Hai, apa kabar?. Akhirnya aku boleh juga kerja di luar kota. Kamu masih di Jakarta kan?,” begitu sebuah sms yang masuk, dari nomor yang tidak dikenali. Siapa ini?. Tak kubalas. Malas. Sms masuk lagi, masih dari nomor yang sama, “Bung, masih menulis?.” Oke…oke…akhirnya saya balas, “Sorry, siapa nih?.” / “Olva.”

Tapi sudah saya bilang kawan, saya tak hendak mengulang yang telah lalu. Saya tak berniat berdekat-dekatan dengan Olva, dengan perempuan biru itu. Saya tidak akan menjadi Rahmi yang tak berdaya menghadapi kedatangan Nimo seperti yang ditulis Icha Rachmanti dalam novel Cintapuccino yang terasa geli. CLBK hanya pantas menjadi menu hiburan di video-video bus AKAP, dengan AC yang minimalis, melintasi jalan yang meliuk-liuk, kiri-kanan pohon dan jurang, senandung nostalgia hanya cocok untuk mereka yang usianya sudah berada di tepi 45, ketika rambut putih mulai banyak bertingkah. “Anak muda harus proggressif, Bung!”, begitu kata kawan saya, Bung Joni. Maka saya jalan terus, meskipun kenangan masalalu menggapai-gapai di belakang.

Dia, Olva, perempuan yang dulu pernah membuat saya bergiat menulis, kini terasa tak memantik inspirasi apapun. Kalaupun ada, mungkin saya hanya ingin menulisnya sebagai seorang anak yang baru mendapatkan ijin tinggal jauh dari orangtua, itu saja, titik. Selain itu, tak ada. Dia memang masih sama seperti dulu, masih cantik, bahkan lebih, tapi seringkali wajah dan hati tidak berbanding lurus. Maka saya menjaga jarak, dan menunjukkan padanya bahwa saya tidak merasa terkejut dengan kedatangannya ke kota di mana saya tinggal sekarang. Biasa saja. Nothing special.

Kini merah saya telah menemui jalan lain. Jalan yang lebih sederhana tapi memerlukan stok kesabaran yang lebih melimpah. Memang di mana-mana, setiap orang berbeda dalam menemukan dan menentukan “jalan”nya. Baru-baru saya membaca buku “Setelah Revolusi Tak Ada Lagi” yang ditulis Goenawan Mohamad. Dia bercerita tentang salah seorang kawannya, Hartojo Andangdjaja, seorang penyair yang dikatakannya agak misterius. Seorang yang jalan merahnya berbeda juga. Begini tulisnya :

***Dengan reputasinya sebagai penyair yang sudah berpengalaman, Hartojo agak membuat saya gentar mula-mula. Ia tidak banyak berbicara. Tubuhnya kecil dan kurus seperti orang yang menderita sakit. Tetapi ada kerapian dalam penampilannya yang sederhana, kerapian yang juga nampak dalam puisi dan prosanya. Ia bukan sosok yang liar dan garang, tetapi ia nampak dalam seperti sungai yang tidak banyak riak.

Puisi dan kesusastraan bagi Hartojo Andangdjaja nampaknya merupakan focus hidupnya, meskipun ia praktis tak mendapatkan apa-apa dari itu, selain pengakuan dan rasa kagum dari segelintir orang. Ia tidak banyak bergaul, selain dengan sejumlah teman sastrawan, terutama Gerson Poyk. Hartojo lebih sering menyendiri, saya bahkan jarang tahu bagaimana dan di mana ia sarapan dan makan siang dan makan malam. Makan, dan kebutuhan biologis lain, nampaknya sesuatu yang marginal dalam hidupnya. Tubuhnya yang kurus dan nampaknya ringan, yang dibungkus pakaian seadanya tetapi bersih, seakan-akan hanya berisi “rasa”.

Terus terang, dalam suasana sekarang, saya ragu tidakkah orang seperti dia terasa sebagai anakronisme : seseorang yang hanya menekuni sajak-sajak ketika di sekitarnya orang-orang berbicara tentang soal-soal yang lebih “riil”, seseorang yang melihat puisi sebagai keindahan tersendiri yang harus dirawat ketika orang memperlakukannya sebagai hanya alat komunikasi di pentas. Tetapi, kalaupun dia akan nampak sebagai anakronisme, saya yakin bahwa hal itu, seperti pilihannya untuk menyendiri, mengandung sesuatu yang heroik. Membaca esai-esai Hartojo bagi saya bukan hanya mengenang sebuah periode yang menarik, tetapi juga mendapatkan inspirasi bahwa ada hal yang sangat berharga dari percintaan Hartojo dengan puisi.***

Barangkali saya agak memaksakan diri dengan mengetengahkan tulisan Goenawan itu, tapi yang saya maksudkan adalah bahwa dalam diri seseorang selalu ada gairah yang mengalir. Alirannya terkadang aneh, absurd, dan menabrak logika orang kebanyakan. Tapi itulah merah yang terbit pada manusia, pijarnya harus merdeka, harus bisa menentukan jalannya sendiri.

Dan rupanya Olva sadar, karena dia memang pintar, bahwa lelaki yang dulu pernah menghujaninya dengan tulisan, kini telah berbalik arah. Angin berhembus menuju kota lain. Maka pada sebuah pagi yang masih basah, dia kirim lagi pesan, “Nanti ditunggu di XXXX, jam 19.00, aku ingin bicara. Kalau kamu bisa.” Oke. Saya harus menyelesaikannya. Dan saya siap untuk itu. Menghadapi, bukan menghindari, itu barangkali jalan terbaik untuk saya, untuk Olva.

Dan sore pun datang, lalu malam menjemputnya. Jejentik jam seperti orang gelisah, bergerak tik-tak tik-tak menuju angka tujuh. Di tempat yang dulu kami pertama kali dapat berbicara sambil duduk dan sambil makan, malam ini, tempat itu menjadi pilihannya. Beberapa detail masih sama seperti dulu, dan sedikit dejavu. Dia memakai baju biru dan rambut sebahu. Tak bisa dibohongi, dia memang cantik. Saya duduk menghadapnya, mata saya ditentangnya. Tapi alih-alih langsung bicara serius, dia malah mencairkan suasana dengan beberapa jokes ringan. “Hei Bung, ayolah, tak usah kita terlalu serius. Kita kan sudah lama tidak ketemu,” begitu katanya. Dan suasana pun berjalan tidak seperti apa yang saya bayangkan sebelumnya. Rileks. Cair. Dan membuat saya hampir saja lupa pada perempuan bermata juara.

Sebelum pembicaraan sampai di penghujung, Olva akhirnya mengutarakan apa yang sebenarnya ingin dia katakan : bahwa dia pergi meninggalkan Surabaya demi bisa dekat dengan saya, demi mengabulkan semacam rasa aneh yang sering mengusik pedalamannya. Mulanya saya diam. Saya tahu, ini tidak mudah. Tapi akhirnya saya angkat bicara juga. Saya katakan yang sebenarnya. Setelah mendengar semua, dia juga hanya diam. Tapi kemudian ada segaris senyum pahit yang terlihat di bibirnya. Wajahnya berubah menjadi langit kelabu yang kesepian. Bibirnya terlihat sedikit gemetar, dan ada kaca bening di matanya. It’s not easy to be me.

Setelah pulang, di kamar, saya bertanya-tanya kepada Sapardi, bagaimana rasanya melakukan perpisahan?. Saya yang hanya mengenalnya, mengenal Olva tidak terlalu lama, juga bisa merasakannya, apalagi Sapardi yang mungkin mengenal istrinya jauh lebih lama. Maka saya baca lagi sepenggal puisinya, puisi Sapardi Djoko Damono :

“Siapa yang mengantarkan kita? / Hati kita sendiri / Lebih unggul dari derita / Lebih unggul dari putus asa / Lebih unggul dari sepi; / Ditanamnya pohon jeruk di pekarangan bekas rumah kita / Dicoretkannya kapur penolak bala di tiap ambang pintu / Lalu kita tusuk sendiri duabelah mata kita / Agar tak terlihat lagi adegan-adegan cinta / Agar tak sakit hati mengenangnya.”

***

Setelah keputusan itu, butuh beberapa hari untuk mengembalikan saya kembali seperti biasa. Dan untunglah, keadaan dengan cepat menjadi normal. Olva merdeka, saya merdeka. Dalam pada itu, saya terus menjalin komunikasi dengan relasi sosial, dengan sahabat, yang jauh dan yang dekat. Tiba-tiba ada kabar mendung dari seorang kawan di Sukabumi : adiknya tercinta meninggal dunia dalam usia muda. Demi menerima kabar itu saya menjadi teringat kepada bulan Januari 2007 dan Maret 2009, di mana paman dan ibu wafat. Tentu sedih belaka ditinggalkan oleh orang-orang tercinta, tapi barangkali ditinggalkan oleh seseorang yang masih muda kesedihannya bisa lebih berat.

Saya membayangkan, adiknya itu tengah berada pada usia di mana matahari kegembiraan tengah bersinar terang. Jatah hidup tengah dinikmatinya dengan riang, lincah, dan penuh semangat. Pagi hari berangkat sekolah dengan kehangatan orangtua, persahabatan dan guru-guru layak yang untuk diceritakan. Pada usianya yang masih remaja, pasti juga sudah mulai merasakan ketertarikan pada lawan jenis, lalu ini membawanya pada malam hari yang redup dan nyata. Di matanya berkilauan cahaya masadepan, hangat dan menyala-nyala. Tapi ternyata, Yang Maha Kuasa membuat cahaya itu perlahan menjadi redup dan akhirnya padam. Skenario-Nya membuat mata orang-orang yang ditinggalkan menjadi merah oleh airmata.

Ini adalah ujian kesabaran dan ketabahan kawan, yakinlah bahwa Alloh selalu memberikan yang terbaik bagi kita.

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan "Innalillahi wa inna ilaihi rooji'uun”. (Al-Baqarah ayat 155)

***

Siang, setelah sholat Jum’at, saya membaca buku sejarah yang ditulis oleh para wartawan TEMPO. Begitu mengagumkan. Sejarah dibuatnya tidak membosankan, bahkan menarik. Dalam kata pengantar buku tersebut tertulis : “Dalam pendekatan jurnalistik, yang diharapkan muncul adalah pesona sejarah, meski tidak berarti fakta disajikan serampangan dan tanpa verifikasi. Tujuan jurnalisme adalah mengetengahkan fakta dengan menarik, dramatik, tanpa mengabaikan presisi.” Begitu memesona. Konsep menulisnya begitu kuat. Tapi kemudian saya berpikir, bagaimana konsep yang bagus untuk menulis gradasi?, menulis cerita di batas fakta dan fiksi?. Hal ini sangat menggoda.

Beberapakali telah saya coba untuk menulis dengan mengadopsi gaya oranglain, meskipun tentu hasilnya bukan untuk dibandingkan dengan para penulis “sungguhan”. Pernah suatu kali saya terkesan dengan gaya menulis Miranda Risang Ayu yang mengalir, lancar, seperti tidak terbebani untuk menghadirkan magma pesan. Lalu kemudian saya bertemu Atta, tulisannya lebih manis, sabar, puitis dan bening. Dengan Yudi Latief saya belum diperkenankan bertemu, sehingga tulisan-tulisannya, yang kata orang lain sangat lincah dan mendesak-desak, belum bisa saya nikmati. Adapula satu tulisan Remy Silado tentang resensi buku yang sangat mengesankan. Dari banyak penulis, tentu yang paling sering saya kagumi adalah gaya menulis Pram, Jhumpa Lahiri, dan Herper Lee. Kadang-kadang saya merasa, bahwa sesungguhnya saya tidak sedang menulis, tapi hanya menyampaikan omongan oranglain. Lalu saya mendengar ada yang berseru, “Larilah, kawanku, ke dalam kesendirianmu!”, ternyata itu suara Zarathustra.

Sekarang sudah di penghujung Mei, sudah lama saya tak menyambangi Gudang Mesiu untuk sekedar numpang minum kopi dan membakar cigarette. Bung Joni, kawan yang mengusai Gudang Mesiu itu, sebentar lagi akan pesta toga, akan meruntuhkan status mehasiswanya. Dan saya semacam ingin ngobrol-ngobrol dengannya, untuk membicarakan banyak hal, diantaranya tentang rencana bisnis peternakan ikan bawal dan bulubabi. [ ]

27 Mei '11

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai