16 March 2012

OLVA (14) : Like Dying in The Sun

Agar nanti, para pencari dokumentasi tidak lagi hanya sekedar membongkar gudang demi menemukan selembar foto usang, tapi juga bisa melacak jejak peristiwa dan mungkin pemikiran yang sempat dituliskan. Bagi saya yang dibesarkan di tengah keluarga yang miskin dokumentasi visual, menulis bisa dikatakan sebagai sebuah balas dendam. Waktu saya ditadah oleh tangan dukun beranak, dan pertama kali menghirup udara dunia, saya sudah tuna kakek dan nenek, dari pihak ibu maupun pihak bapak. Setelah agak besar saya mencoba melacaknya lewat album foto, tapi yang ditemukan hanyalah selembar foto hitam putih yang hampir hancur dimakan usia. Begitupun ketika saya merindukan foto-foto sendiri waktu kecil, yang ada hanya sebuah juga, gambar saya waktu berusia sekira empat tahun, sebuah, hanya sebuah.

Maka diam-diam, saya mengenal perjalanan bapak bukan dari foto-foto masa mudanya (karena memang sedikit, sangat sedikit), tapi dari tulisan-tulisan khotbah jum’at yang sering beliau tulis. Adalah sebuah kehilangan besar ketika kakek saya yang di lingkungan sosialnya dianggap sebagai ulama, sebagai ustadz, tapi tidak meninggalkan tulisan apa pun. Ini bukan menyepelekan amal keseharian, tapi alangkah susahnya saya menemukan jejak pemikirannya. Ini adalah proses pewarisan yang terputus, dan sejarah tidak pernah bisa dibuktikan.

Orang kebanyakan menyebut peristiwa yang telah berlalu sebagai ibrah, sebagai pelajaran, tapi dari mana melacak pelajaran, itu yang masih harus dibuktikan. Maka dalam ritme pekerjaan yang mulai surut, pada sebuah siang yang gerah, saya mendapati diri sedang membuka-buka halaman sebuah buku tipis bersampul merah. Ada Sobron Aidit di sana.

Beberapa hari sebelum Sobron Aidit meninggal pada tanggal 10 Februari 2007, seperti yang diceritakan salah saeorang anaknya, beliau terpeleset dan jatuh si sebuah statiun bawah tanah Paris saat mencari layanan internet untuk urusan berkomunikasi dengan kawan-kawan muda di dunia maya, di Indonesia. Sobron yang dikenal sebagai seorang pelarian politik memang hidup jauh dari tanah air, beliau menghabiskan 18 tahun di Tiongkok, dan 21 tahun di Prancis. Pasca gempa politilk 1965 yang menelan banyak korban dan disebut-sebut sebagai tragedy paling berdarah di Indonesia, Sobron tak bisa kembali ke tanah air. Beliau bersama pelarian politik yang lain harus rela terseret-seret dalam Revolusi Kebudayaan yang terjadi di Tiongkok yang memaksa mereka untuk turun ke sawah sebagai petani.

Setelah belasan tahun tinggal di Tiongkok, mereka mulai berpikir untuk mencari negara baru dan mencari suaka politik. Dan pilihan akhirnya jatuh kepada beberapa negara yang berada di wilayah Eropa Barat : Belanda, Jerman, Prancis. Dalam prosesnya, Prancislah yang akhirnya menjadi tempat mereka berlabuh. Saya tak hendak bercerita mengenai sejarah eksodus para pelarian politik, tapi ada yang lebih menarik buat saya untuk menuliskannya kembali di sini, yaitu kegemaran Sobron untuk dialog dan menulis. Dalam millist [aksarasastra], Sobron sangat rajin menulis dan berkomunikasi dengan anak-anak muda Indonesia yang menikmati tulisan-tulisannya. Tulisan Sobron sangat beragam, dari catatan perjalanan sampai menu masakan yang kerap kali mengundang selera makan. Beberapa tulisannya telah diterbitkan dalam beberapa buku, diantaranya : Surat Kepada Tuhan (2003), Gajah di Pelupuk Mata (2002), Kisah Intel dan Sebuah Warung (2000), dan Mencari Langit; Sebuah Kumpulan Sajak (1999).

Membaca tulisan-tulisan Sobron, kita harus terlebih dahulu menyingkirkan hantu persepsi yang seringkali meneror. Sobron memang adik kandung Dipa Nusantara Aidit (D.N. Aidit)---ketua Centra Commite Partai Komunis Indonesia---, dan beliau juga pernah menjadi wartawan Harian Rakjat dan Bintang Timur (kedua-duanya adalah Koran berhaluan kiri pada akhir 1950-an dan awal 1960-an), tapi menelisik tulisan-tulisannya yang lahir di tanah perantauan, jejalin paragraph yang dia bangun adalah sebuah lorong jernih tentang kehangatan keluarga, persahabatan yang manis, dan kecintaan kepada kuliner. Salah satu tulisan pendeknya yang saya rasa sangat menyentuh adalah tulisannya tentang kehilangan kawan-kawannya, inilah dia tulisannya itu :


SEMAKIN KEKERINGAN PERSINGGAHAN, SEMAKIN LANDAI PANTAI

***Ketika saya kelelahan seusai olahraga jalan kaki, letih karena bekerja menghadapi computer dan buka internet, adakalanya saya ingin santai, duduk-duduk beristirahat. Lalu apakah yang terpikir oleh saya ketika istirahat itu?. Sejak tanggal 30 April 2006 ketika meninggalnya Mas Pram---sedikit banyak bagaimanapun hal ini sangat memengaruhi saya. Rasanya satu lagi tempat persinggahan, satu lagi pelabuhan-tambat, pelabuhan istirahat saya lepas ke laut bebas. Dan saya tak bisa menggapainya. Orang-orang itu sudah pergi dan tidak akan kembali. Ketika saya datang pertama kali ke Jakarta, setiap pagi dari jam 06.00 sampai 09.00 saya olahraga jalan kaki dari kediaman saya dekat Kelapa Gading menuju Jalan Pemuda. Biasanya itu memakan waktu satu jam. Saya menuju rumah Joebaar Ajoeb. Dan kami ngobrol. Adakalanya diskusi sengit. Adakalanya sedikit kasar dan sedikit maki, tapi tetap pegang kendali. Kami tetap saling ramah, saling terbuka, dan jujur.

Adakalanya Ajoeb mengajak saya ke rumah Pram yang letaknya tak jauh dari Jalan Pemuda. Di rumah Pram lebih ramai lagi dan makanan bertambah banyak ragamnya. Apabila kami makan pergi ke rumah Ajoeb, itu artinya kami harus beli sendiri. Ngewarung!. Habis dia sama dengan saya. Sama-sama duda!. Pembicaraan jadi ramai terkadang saling ejek-mengejek, tetapi penuh humor dan sehat. Kata Pram, “Si Sobron ini makin progressif orangnya. Mau tahu apa tandanya?. Coba lihat itu perutnya!. Maju ke depan, ke arah buncit. Itu kan progressif, toh?,” kami semua tertawa lepas. Kalau sudah hampir jam 10.00 di rumah Ajoeb mulai banyak tamu yang dating. Ketika itulah saya sudah boleh minta diri dan pulang ke Kayu Putih Utara, ke rumah ponakan saya. Joebaar Ajoeb selalu banyak tamunya, baik dari dalam maupun luar negeri. Anak-anak muda berdarah segar, lincah, cerdas, cekatan, ada aktivis LSM, pada datang ke Ajoeb. Mereka selalu membawa berbagai problem.

Juga tidak jarang para wartawan, ilmuwan, sejarawan dari Amerika, Jepang, dan Australia selalu datang ke rumah Ajoeb yang sangat sederhana itu. Mereka membawa pertanyaan dan segala apa saja yang mereka ingin tahu. Pada umumnya mereka puas akan jawaban yang bersifat diskusi. Artinya keterangan yang diberikan bukan semata-mata dari Ajoeb sendiri. Saya pernah bilang, Ajoeb adalah gunung tinggi sekaligus teluk yang dalam. Gunung tinggi adalah tempat timbunan awan. Sedangkan teluk yang dalam adalah tempat berlabuhnya berjenis perahu dan kapal. Itulah dia, Ajoeb. Tempat orang banyak bertanya, mau tahu, mau cari informasi, ada yang mau diperoleh.Dari tahun 1993 sampai meninggalnya Joebaar Ajoeb pada 1997, setiap tahun ketika saya dating di Jakarta, saya akan selalu ke rumah Ajoeb. Kami tertawa, bergurau, berdiskusi. Kami bisa bertengkar, selalu saling memerhatikan, dan menyayangi. Tidak hanya sekali-sekali memaki!.

Namu, setelah Ajoeb meninggal, daerah persinggahan saya berubah. Bukan lagi di Jalan Pemuda, tetapi di rumah Mas Pram. Tak terasa waktu berjalan terus. Mas Pram lebih banyak sakitnya dan usianya pun sama sekali tidak muda lagi. Tapi semangatnya tak pernah uzur. Yang uzur adalah badn raganya. Banyak yang saya dapatkan dari Mas Pram. Sesudah Mas Pram meninggal, saya bingung mau ke mana lagi. Oya, saya masih ingat, dulu saya juga tidak hanya ke rumah mereka saja. Saya juga ke rumah Mas handoyo. Tapi dia kini sudah menggunakan kursi roda. Sakit. Dulu saya ke rumah Rivai Apin di Jalan Malabar. Tidak lama lalu Rivai yang kami panggil Pai itu meninggal. Tadinya kami juga ke rumah Pak HR Bandaharo dan Pak Bakri Siregar. Keduanya kini sudah meninggal. Akh…..saya tersentak kaget sendiri. Saya sedang di atas bukit dekat rumah saya.

Dulu masih begitu banyak daerah persinggahan, masih begitu banyak gunung tinggi dan teluk yang dalam dan luas. Tetapi kini rasanya sudah semakin mengecil. Sudah semakin mongering dan pantainya sudah semakin landai. Dan saya dalam hati terisak-isak sendiri. Mau ke mana saya sesudah ini?. Sudah begitu kekeringan tempat persinggahan. Sudah begitu landai pantai yang dulu sangat bagus, sangat menarik dan asyik. Kini tak tahulah saya. Barangkali memang begitulah adat dunia dalam kehidupan ini.

Paris, 4 Mei 2006***


Kalau saja Sobron tidak pernah menulis, tidak pernah memindahkan suara hatinya ke dalam tulisan, barangkali orang-orang hanya akan mencapnya dengan label sebagai seorang komunis, anti Tuhan, otak pemberontakan, dan merek-merek lain yang terdengar sangar. Tapi untunglah, ternyata Sobron sadar akan tulisan, peka akan sejarah. Dalam sebuah tulisan yang lain beliau pernah menulis : “Dengan penuh senyum kami biasanya menyambut mereka. Hatiku bergumam, syukur Alhamdulilah, ikan dan udang berkaki dua itu telah memberikan rezeki kepada kami. Terimakasih kami pada-Mu, Tuhan.” Siapapun tentu boleh melekatkan tafsir, bahwa tulisan Sobron itu bisa jadi hanya sebuah kepura-puraan untuk menutupi ke-Atheis-annya, tapi itu bukan wilayah kita, itu adalah wilayah Sobron dengan keyakinannya, yang dapat kita lihat adalah tulisannya, kita dapat melakukan spasi perenungan, dan akhirnya bisa membuat kemungkinan sejarah, bahwa seorang Sobron Aidit, adik kandung dedengkot PKI ternyata pernah sangat mesra berterimakasih kepada Tuhan, sesuatu yang dulu dianggap sangat tidak mungkin.

Dari sini sebenarnya saya ingin berangkat, bahwa tulisan---sekali lagi---bisa membuka berbagai kemungkinan yang selama ini tertutup rapat. Maka menulis, sebenarnya, bukan lagi sebuah tugas untuk “para dewa”, tapi tugas setiap orang yang sadar akan sejarah, yang hidupnya tidak ingin disikapi hanya sebagai sebuah siklus biologis : lahir – besar – tua -- mati. Dalam bentuk kesadaran semesta, menulis bagi setiap anggota keluarga adalah sebuah usaha untuk mendokumentasikan banyak hal, merekam sisi lain yang tidak bisa dilakukan oleh dokumentasi visual. Kalau selama ini ada jadwal untuk foto bersama atau foto keluarga lalu dipajang di ruang tamu demi bangga : “Inilah keluarga kami, keluarga penuh bahagia dan penuh sukses”, maka mungkin harus dimulai juga untuk ada waktu luang, untuk menulis, demi sebuah suara di masadepan, demi generasi pengganti yang tidak kesulitan mencari tulisan-tulisan absurd para moyangnya.

Di simpul inilah untuk kemudian saya mulai bergerak, menggerakkan jari untuk mengumpulkan serak peristiwa, imajinasi, perasaan, dan hal lain yang remeh-temeh, yang sedikit pun saya tidak pernah menyesal karena telah menuliskannya. Menghilangkan muka yang retak bukan dengan men-delete tulisan lalu merasa bersih, tapi dengan terus menulis, dengan terus berproses, pun kalau pada akhirnya kita tidak pernah mencapai sesuatu yang ideal, tapi setidaknya kita telah berusaha untuk melakukannya. Terdengar klise memang, tapi saya tidak menemui diksi hebat untuk menyamarkannya.

Lalu ketika saya meyakini pertemuan waktu, dan Olva datang lagi di kehidupan saya, maka huruf kembali menagih janji. Dia tidak bosan-bosannya meminta untuk dihamburkan, meskipun kerapkali dihujani ejekan tentang mazhab melankolik, tentang invalidisme, atau tentang sandra virus ranger pink. Tapi barangkali, saya tetap harus memulainya lagi, tetap harus tak letih-letihnya menjadi pendokumentasi, minimal untuk diri saya sendiri. Sebab cerita belum selesai, siapa memulai tidak boleh melarikan diri.

Dan sore ini, akhirnya saya bisa tertawa : berpanjang-panjang membuat prolog sampai membawa-bawa Sobron Aidit segala, hanya untuk mendeklarasikan bahwa saya semacam ingin menulis (lagi) cerita tentang Olva. Ah, Sudah beranjak malam kawan, Radiohead sudah menyuruh pulang :

"You look so tired and unhappy

Bring down the government

They don't, they don't speak for us

I'll take a quiet life

A handshake of carbon monoxide

No alarms and no surprises

No alarms and no surprises

No alarms and no surprises Silent, silent…" [ ]


23 Mei '11

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…