16 March 2012

OLVA (11) : Melawan Terlambat

Terakhir bertemu sekitar tahun 2008 awal. Dini namanya, kawanku sewaktu masih kerja di sebuah perusahaan layanan perjalanan. Laki-laki normal yang sedang puber atau yang sudah melewati masa puber, pasti akan sepakat bahwa dia adalah seorang perempuan cantik. Tapi ini bukan soal tampilan fisik, melainkan tentang kesadaran mencatat. Dia memang tidak semuda Hok Gie waktu mulai mencatat di buku hariannya, tapi setidaknya jauh lebih awal daripada yang aku kerjakan, aku tertinggal sembilan tahun setelahnya.

Sudah tiga hari aku berusaha menghubunginya lagi, tapi setiap jalan usaha selalu saja menemui titik buntu. GSM dan CDMA-nya tidak bisa dihubungi, tulis pesan di account facebooknya tak ada balasan, aku lihat fs-nya; sudah sepi dari lalu lintas komunikasi. Aku coba hubungi kawanku yang lain yang masih kerja di perusahaan layanan perjalanan itu, tapi dia bilang Dini sudah resign dan entah pindah kerja ke mana. Akhirnya aku putuskan saja, aku akan mengutip catatannya yang sempat dia publish di fs beberapa tahun ke belakang, ini tentu tanpa seizinnya, tapi biar saja, toh aku sudah berusaha menghubunginya, dan kalau nanti dia tahu serta menuntutku secara hukum, maka dari sekarang aku akan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, konon di negara ini hukum dan keadilan bisa dibeli macam gorengan, ah ini sangat menggoda, aku ingin membuktikannya sendiri.

Tapi aku yakin Dini tidak akan melakukan hal seperti itu, yang kutahu, dia anak yang manis, bersahaja berkawan, dan mempunyai sense of humor yang lumayan menyenangkan. Ini dia catatannya yang aku kutip itu :

“…………………………………………………………………………………………………………………………………”

Awalnya aku lumayan banyak tersenyum waktu membaca catatannya, dan kalau saja warnet yang aku pakai waktu itu tidak memakai tirai antara satu PC dengan PC yang lain, tentu pengunjung warnet yang lain akan menindasku dengan tatapan yang sedikit aneh. Tapi kemudian aku terdiam dan digelitik kesadaran, catatan itu telah berhasil merekam dan menghadirkan kembali aroma masa-masa “kejayaan” yang telah terjadi bertahun-tahun ke belakang. “Oh, sakti sekali yang namanya tulisan,” begitu gumamku waktu itu. Dan ternyata, di balik senyumnya yang manis, Dini adalah seorang pencatat yang rajin.

Tak lama setelah itu, aku kemudian meluncur ke Gramedia, membeli sebuah buku tulis tebal bercover hitam dan bermerk “Marabunta”, cap semut rangrang. Arus darahku terasa mengalir kencang, semangat untuk menulis datang meluap-luap. Selain pengaruh dari catatan Dini, aku pun telah lebih dahulu diserbu oleh catatan Hok Gie dan Ahmad Wahib, juga oleh sepotong kabar bahwa Dee punya catatan harian yang banyaknya satu peti besar !!. Di bawah lampu kamar yang sedikit temaram, bertahun-tahun setelah Dini menulis, aku mulai menulis :

“Usiaku kini 24 berjalan mendekati 25, rasa-rasanya bukan masa muda lagi sekarang ini, masa-masa kuliah sudah lewat dua tahun ke belakang. Itulah masa-masa yang luput aku catat dalam buku ini, tapi biarlah semua yang luput itu menjadi awan yang berarak di tempurung ingatan.”

***

Ada yang mulai belajar ballet ketika usianya sudah 42 tahun, ada yang melahirkan anak kembar ketika usianya sudah berkepala enam, ada juga yang menaklukkan Mount Everest ketika umurnya sudah 70 tahun lebih, dan tentunya ada Enong dalam kisah dwilogi Padang Bulan yang tak pernah menyerah untuk belajar bahasa Inggris. Tapi rupanya di lingkungan kita ada beberapa ungkapan yang berwujud seperti rem, tukang hambat, atau terasa tawar. “Nasi sudah menjadi bubur”, maksudnya apa?. “Cinta tak harus memiliki”, terdengar sangat Indonesia, apa pula maksudnya?. Dalam pandanganku yang awam tata bahasa, kedua ungkapan tersebut terdengar sangat pecundang, nrimo, dan bernada menyerah.

Tapi apa kabar dengan Olva?, bukankah aku juga telah menyerah?. Aku pikir yang telah selesai hanya orangnya saja, tapi gelombang frekuensinya belum habis, dan aku tidak menyerah untuk itu. “Perempuan tak cuma dia, ada tiga milyar dua puluh satu”, aku kira, lirik buatan The Panasdalam itu termasuk ke dalam deretan kata-kata paling optimis sedunia. Mari istirahatkan dulu dunia merah jambu. Di jenak mana saja kita merasa sudah terlambat, dan akhirnya menghancurkan semangat sampai tak bersisa?. Di wilayah mana saja kita sudah berhenti berharap, dan hanya menunggu waktu habis sampai hitam berjelaga?.

Setiap detik adalah baru, tidak ada pengulangan. Semangat yang hancur bisa diperbaharui, karena setiap jeda waktu adalah lembaran baru, seperti kanvas kosong tanpa lumuran cat. Aku kira, orang-orang yang hidupnya lesu dan murung sepanjang tahun, adalah mereka yang sudah pantas untuk diberi batu nisan di depan rumahnya, karena mereka telah memilih cat hitam dan kelabu sepanjang musim. Terberkatilah mereka yang mau bangun dari “tidur panjang”, lalu segera bangkit, minum kopi pahit, dan menyalakan tungku api sepanjang hidupnya.

Dan setiap orang tentu punya pemantik yang berlain-lainan. Ada yang berguru kepada para motivator jempolan, ada yang menyemai semangat di majelis-majelis religi penuh damai, ada yang dibangunkan oleh kawan-kawan sejalan, atau ada juga cinta kepada lawan jenis yang berhasil menguatkan. Tapi kata-kata dengan pilihan diksi yang terdengar lirih, suram, dan terkesan menghujam ke dalam, telah memilihku :

“Pada pagi yang tawar, kutuntun aroma itu ke dalam gelas kaca yang sedikit retak, menenggelamkannya dalam barisan partikel kecil yang bergerak lambat, kuseduh pula rindu itu lewat kata-kata yang mengalir deras di dalam lambung dan usus 12 jari. Akupun berlalu menembus lubang pintu yang berderak-derak tersayat angin, wangi tanah selepas hujan telah menyeretku dalam sketsa gerbang waktu yang terlalu cepat datang. Ini aku yang dulu pernah mengadili pikiran. Seperti membawa peti mati di atas kepala, kini terduduk tenang di atas dipan kayu tua dengan sebuah buku. Di sebuah halaman belakang yang terbuat dari keringat dan air mata yang asin.” (Bung Erlan)

Kata-kata seperti itu selalu saja berhasil membuatku bangkit atas kekalahan apapun, entah kenapa, aku tidak tahu. Sepotong cerita tentang survival, juga bisa membuatku semakin tidak percaya dengan kata terlambat, seperti di sekitar tahun 2004, ketika Muhidin datang dengan memoarnya yang sunyi dan perih, tapi berdaya sembuh hebat. Kecemasan akan ancaman riwayat akademik berhasil dibungkam oleh cerita Muhidin tentang mencicil buku dengan cara menguruskan badan, atau tentang mempertahankan hidup dengan modal menjadi penulis di koran yang nasibnya seringkali seperti para penjudi, bersaing dengan ratusan bahkan ribuan penulis lain untuk menarik simpati dewan redaksi, dan Muhidin akhirnya pernah terseret pada sebuah kondisi yang benar-benar memprihatinkan secara ekonomi, begini sepenggal ceritanya :

Uang tinggal seribu rupiah, lalu menyingkapkan kasur, bantal, merogoh kantong celana dan kemeja yang menggantung di dinding kamar, dengan harapan akan menemukan uang lima ribuan yang tercecer, tapi nihil. Kemudian menulis lagi di depan layar monitornya yang butut, badannya mulai menggigil diserang demam dan karena lapar yang menggerogoti lambung, dan tiba-tiba pintu kamarnya terdengar diketuk seseorang dari luar; seorang perempuan, tetangga kamarnya, bediri dengan enam potong tempe goreng lengkap dengan cabainya, selamatlah uang seribu rupiah yang masih tersisa itu untuk makan esok harinya.

***

Maka yang merasa sudah terlambat karena usia, merasa terlambat karena salah memilih jurusan ketika kuliah, merasa terlambat karena sudah terlanjur salah memilih tempat kerja, merasa terlambat karena mengidolakan ungkapan “nasi sudah menjadi bubur”, merasa terlambat karena kondisi keluarga tidak mendukung, merasa terlambat karena keterbatasan fisik dan dana, lihatlah tong sampah itu; buang semuanya ke sana. Bukankah Donny Dhirgantoro sudah pernah berkhotbah bahwa segalanya adalah soal 5cm, tidak lebih. Dan sayup-sayup kudengar dari kubur yang tak terlihat, Thukul masih lantang berkata : “Aku memang masih utuh, dan kata-kata belum binasa”.

Memang kadang-kadang bosan juga mendengar kata mimpi, dia seumpama tablet hisap ajaib yang laris manis di toko buku, dan dipajang di etalase tembus pandang, tapi matahari akan selalu lewat di depan rumahmu. Seperti kemarin, hari ini pun dia masih akan datang, tak peduli kamu sedang kalah dan rapuh. Nanti kalau kita bertemu, datanglah dengan kepala tegak. Dan pastikan kamu berdiri dengan kuat, lalu katakan selamat tinggal pada terlambat. [ ]

25 Januari '11

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai