16 March 2012

OLVA (10) : Nol Kilometer

Meskipun kadang-kadang lingkungan sosial menggiring dan menuntutnya, tapi jujur, aku sebenarnya tidak peduli dengan persepsi oranglain terhadap diriku. Dulu memang pernah belajar persepsi dalam mata kuliah Consumer Behaviour, mempelajari teori-teori Loudon and Bitta, tapi aku tidak mau disamakan dengan produk yang berkompetisi di pasar. Aku hanya selalu berusaha untuk do the best, “di mana aku menjejakkan kaki, di situ aku berusaha melakukan yang terbaik”, begitu kata Andrea. Selebihnya, oranglain mau mempersepsikanku seperti apa, bagiku menjadi sekunder, bahkan tak berarti apapun. Lagipula, bagiku, hidup adalah soal kenyamanan, bukan penilainan.

***

Beberapa bulan setelah Olva menghilang tanpa jejak, yang hampir-hampir saja seperti ninja, tidak ada yang berubah dengan duniaku. Kecewa dan sedih pasti ada, tapi sudah aku titipkan semuanya pada huruf. Selalu ada yang datang setelah ada yang pergi, akan ada titik balik penuh daya yang mencerahkan, setidaknya begitu keyakinanku. Ternyata semuanya hanya soal mengatur hati saja, selebihnya, jika ada yang ingin dimuntahkan, biar tulisan menjalankan tugasnya dengan baik.

Sore, hari sabtu, aku sedang gandrung mendengarkan musik-musik dengan intrumen piano. Bunyi yang timbul dari piano selalu mengundangku untuk membayangkan beberapa scene dalam film yang lirih, kelabu, bahkan cenderung gelap. Tapi ini murni soal film, tidak ada hubungannya dengan cuaca di langit jiwa. Perasaanku sedang datar, tenang. Ponsel berbunyi, bung Rohman kasih kabar, “Bro, Bangkutaman launching Ode Buat Kita, nonton ga lo?” / “kapan?, di mana?” / “di Kemang, ntar hari kamis jam 8 malam, ada Zeke, Endah & Rhesa, sama Kholil ERK, jalan ga?” / “wah, males ah, jauh” / “The Adams aja kalo gitu, gimana?” / “di mana?” / “TIM, ntar malem jam tujuh, berangkat kita!” / “oke siap, gw ngapalin dulu lirik Konservatif kalo gitu” / “oke siap”. Dan lagu-lagu berinstrumen piano aku ganti dengan The Adams, Konservatif :

Siang kusaksikan engkau terduduk sendiri

Dengan kostummu yang berkilau

Dan angin sedang kencang – kencang

Berhembus

Di Jakarta

Dan aku kan berada di teras rumahmu

Saat air engkau suguhkan

Dan kita bicara tentang apa saja

Siang lambat laun telah menjadi malam

Dan kini telah gelas ketiga

Jam sembilan malam aku pulang

Damn, tiba-tiba dejavu. The Adams aku bunuh. Ponsel berbunyi lagi, nomor tak dikenal. Aku diamkan saja, tapi terus menyala. Akhirnya aku angkat, “Anyonghaseo”, tak ada jawaban, mungkin si penerima kaget, disangkanya salah sambung, disangkanya aku orang Korea. Kuulangi lagi, “Anyonghaseo”, masih tak ada jawaban, ah lebih baik aku putus saja, tapi kemudian ada suara di ujung ponsel yang sepertinya aku kenal, “iya, halo”. Aku diamkan, suara siapa ini?, sepertinya aku kenal, aku mencoba mengingat register suara relasi publikku, dan…..ya, aku ingat, tapi sambungan sudah terputus, mungkin dia terlalu lama menunggu. Kemudian sebuah sms masuk, “maaf, ini nomor Teguh kan? (Olva)”.

***

Sent by : olvaraindrops@yahoo.com

To : budakbaheula@yahoo.com

Hai, my……

Hhmmm…, aku bingung harus memulainya dari mana?. My…., aku masih ingat kamu begitu mencintai tulisan, makanya aku datang dengan tulisan ini. Maaf kalau kamu kesulitan menghubungiku, sampai sekarang aku masih setengah tidak percaya kenapa aku memilih jalan ini, jalan yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya.

Ayah tugasnya dipindahkan ke Surabaya, dan aku sebagai anak paling kecil tidak diijinkan untuk jauh dari rumah. Ibu selalu khwatir dan setengah kurang percaya kalau aku terlalu jauh dari rumah. The other side of affection, maybe?.

My…., terus terang, semua yang kamu berikan; buku dan gelombang tulisanmu, telah membuatku kaget dan gegar budaya. Aku tidak sanggup menampung semua perhatian dan sanjunganmu. Meskipun dalam bentuk tulisan, dan aku yakin kamu jujur, tapi semua jejalin kata-katamu dalam bahasa yang jarang aku temui sebelumnya, telah membuatku takut. Takut yang sulit aku definisikan.

Aku selalu membayangkan, kamu membuat tulisan-tulisanmu dalam keadaan lelah sepulang kerja, di bawah penjagaan ketat lampu kamarmu, sementara malam semakin larut dan dingin, dan kamu tetap memaksa tubuh lelahmu demi tulisan itu, demi aku. Sementara aku, yang selalu dihujani serbuk tulisanmu, malam itu, malam ketika kamu melahirkan tulisanmu, selalu saja tengah tertidur lelap dalam pengawasan benda-benda yang menempel di dinding dan langit-langit kamar, benda-benda glow in the dark yang menawarkan imajinasi benda malam. Ini tidak adil my…. Aku tidak sanggup menjadi birumu. Dan kamu harus tahu, ini tidak mudah.

***

Clouds were bold and grey

So i stopped by a mosque and pray

But sky were cold and grey

So i stopped by a mosque and pray

(The SIGIT : Midnight Mosque Song)

Jam akhirnya meninggalkan angka tujuh, sebentar lagi Isya. Aku tidak jadi ke Taman Ismail Marzuki, The Adams dan Konservatif-nya aku batalkan. Bung Rohman bisa jadi memang tidak tahu catatanku selanjutnya, atau bisa juga karena dia memang kurang ajar betul. Setelah saya dan dia deal, bahwa jam tujuh akan meluncur ke TIM, aku tiba-tiba teringat dengan hidupnya yang sudah tidak sendiri lagi. Kemudian aku telpon dia, “Halo, brur, bukannya lo baru married?” / “Iya” / “Nah lo, terus istri lo gimana?, ga marah gitu?” / “Ya enggalah, kan gw bawa” / “Yaahh, ga rame donk, masa bawa istri segala sih, lagian ntar gw sama siapa brur?!” / “Kan ada cewe lo, si Olva, bawa aja” / “Olva, tahu dari mana lo?” / “Yaaa..kan gw baca tulisan lo di fb” / “Udah ga ada boz, udah lewat” / “Maksud lo, lewat?, yang bener lo!!” / “Udah ngilang brur, tau ke mana. Udah lo aja deh ma istri, gw cancel, sory banget brur” / “Yaaahh…..” / “Udah, gapapa, oke?. Have fun ya…”

Dan Isya benar-benar telah tiba, musholla sebelah sudah menyeru warga Sumur Batu untuk meraih kemenangan, “Hayya a’lal falaaah….hayya a’lal falaaah…”. Aku meluncur dan menunaikan empat rakaat. Di luar terasa gerimis, betul kata Joko Pinurbo, Januari memang bulan yang rajin mandi. Langit gelap, angin lumayan menusuk, Jakarta terasa aneh.

Aku tidak membalas email dari Olva. Bagiku dia telah selesai. Bukan berarti aku sudah tidak mencintainya, tapi aku berusaha meninggalkannya sebagai masalalu, dan masalalu itu tidak akan aku bawa lagi. Semua file tulisan yang telah dan belum sempat aku berikan padanya mulai aku musnahkan. Dan tibalah pada sebuah tulisan yang tak berjudul, tulisan ini kira-kira ditulis tiga hari setelah Olva menghilang. Membacanya lagi membuatku merasa geli dan risih sendiri, betapa rona tulisanku beraroma lirik lagu band-band aliran Melayu yang kini sedang laku keras. Aku membacanya sekali lagi, setelah itu aku buang :

*** ”Kalau kamu mau pergi, pergi saja...aku tak akan menghalangimu. Tempuh saja jalan yang kamu yakini itu, karena aku pun yakin dengan pilihanmu. Atau mungkin maunya kamu, aku berusaha menghalangi dan menimbulkan sedikit perdebatan agar tercipta kesan dramatis ?, sebelum akhirnya kamu pergi juga. Aku tak berani menerka-nerka, karena salah pengertian selalu menyakitkan. Tapi kalau aku harus jujur, sebenarnya aku tak ingin kamu pergi meninggalkanku sendirian, karena kamu pun tahu bahwa sangat jarang aku menemukan orang yang pengertian, dan kamu adalah salah satu dari yang jarang itu. Aku juga tak ingin mengenang semua yang telah kita jalani, nanti saja kalau kamu telah benar-benar pergi dan mungkin tak kembali.

Aku tak akan mengantarkanmu ke bandara, biar kamu rasakan betapa sunyinya perpisahan yang dilakukan sendirian. Tak ada yang mengucapkan ’selamat jalan’, tak ada peluk cium perpisahan, tak ada do’a-do’a yang menguatkanmu untuk terus berjalan, tak ada lambaian tangan dan tak ada seseorang yang melihat jejek langkahmu yang semakin hilang itu. Nikmati saja perpisahan sendirian, karena akupun sendirian juga menikmatinya disini.

Kalau nanti di tempat barumu terasa sepi dan mungkin ingat aku, hati-hati...karena itu tipuan. Dengan berjalannya waktu, itu semua akan hilang perlahan dan kamu akan benar-benar melupakanku. Nikmati saja hidup barumu. Kehidupan yang kamu impikan itu.

Tapi kalau kamu berubah pikiran dan ingin kembali padaku, datang saja. Aku tak kan menyerah, sebab setelah kamu...aku tak menemukan siapa-siapa. Dan karena pertemuan tak bisa dilakukan sendirian, maka aku akan datang menjemputmu di bandara itu.

Mari sini, datanglah dengan cepat sayang. Aku ada di barisan paling depan para penjemput. Pakai baju biru tak bersepatu, sebab pakai sendal jepit aku lebih nyaman. Tapi kalau ternyata setelah para penjemput hilang, kamu tak juga datang, dan aku hanya menunggu angin, tenang saja...aku tak kan menyerah, sebab setelah kamu...aku tak menemukan siapa-siapa.”

Dan kalau semuanya akan terjadi sesuai dengan rencana, beginilah kira-kira cerita selanjutnya :

Aku bangun lebih pagi, memdahuluimu yang masih terbuai dalam mimpi. Lalu selimut itu aku tutupkan kembali sampai kelehermu, agar udara pagi tidak sanggup membangunkanmu. Kubiarkan saja begitu sampai tibanya waktunya unuk mengeksekusi iman, maka mulailah aku membangunkanmu. Seperti biasa kamu agak susah dibangunkan sebelum akhirnya membuka mata dan menguap beberapa kali. Lalu kita sama-sama sholat. Mendo’akanmu dan mendo’akanku. Mensyukuri hidup yang begitu biru.

Kamu pasti terkejut, karena diam-diam telah aku siapkan sarapan di meja itu. Sekali-kali aku juga ingin memasak, mematangkan cinta terutama. Karena aku percaya bahwa cinta bukan sekedar pemujaan tapi juga pengalaman. Dan pagi itu aku ingin mengalaminya, melakukan semua yang tiap pagi kamu kerjakan. Aku tak ingin menunggunya sampai tiba ulang tahunmu, karena bagiku kamu adalah sesuatu yang harus dirayakan tiap hari. Dunia menemukan miniaturnya di sana, disemesta dirimu. Kalau kamu tak menemukan kata-kata lain untuk semua yang aku tulis ini selain ’rayuan’, tak mengapa...karena kata-kata akan aku istirahatkan di sana.

Dulu kamu begitu menggemaskan kekasih, sekarang lebih. Kamu diam kalau marah, karena tahu kalau aku adalah sumbu yang setiap waktu bisa menyulut ledakan. Kamu tersenyum jika ingin sesuatu, karena merasa akan merepotkanku. Dulu kamu begitu menggemaskan kekasih, sekarang lebih. Kamu adalah waktu dan aku jarum yang mengitarinya. Kamu adalah rumah dan aku penghuninya. Kalau kata Chairil ’hidup hanya menunda kekalahan’, maka kamu si penunda kekalahan itu. Sekali lagi kamu boleh menyebut ini sebagai rayuan. Dan kata-kata kembali akan aku istirahatkan.

Sekotak rahasia hati telah lama aku simpan sejak dulu, dikunci rapat dan kunci itu telah lama aku buang jauh. Kini disepotong waktu ketika kamu mendekat kepadaku, kunci itu datang lagi dan terbukalah kotak rahasia itu. Biarkan saja semuanya terbuka, sampai nanti ketika rambutmu dan rambutku memutih, sebagai pertanda akan berakhirnya waktu. Pegang saja tangan ini senyaman mungkin, sampai nanti salah satu dari kita pergi mendahului untuk menghadap Nya, dan cinta tak kan berakhir oleh kematian.” ***

Damn, benar-benar Melayu!!. Setelah selesai membuang semuanya, aku mulai menulis lagi. Menulis hal-hal baru yang lebih menarik minatku. Aku akan tetap menulis untuk Republik Bulubabi dan untuk diriku sendiri. Kostan sepi, penghuni sedang pada pulang kampung atau mungkin sedang menikmati kehidupan malam Jakarta. Malam ini Januari masih mandi, dan serbuk hujan masih mengusai setiap gang di Jakarta. Inilah saat yang tepat untuk mendengarkan Jeruji, Virus, Tcukimay, Turtles Jr, dan Burgerkill. [ ]

itp, 22 Januari '11

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai