16 March 2012

OLVA (1) : Laki-laki Konservatif dan Buku

Seumpama satu batalyon pasukan rahasia menyerang di malam yang gelap dan dingin sebelum subuh tiba untuk sebuah aksi kudeta. Seumpama ribuan piranha mengoyak korbannya yang sesaat menggelepar kemudian tenggelam tak berdaya. Seperti meteor yang melesat menembus atmosfir dan berhamburan menghujani bumi. Selalu saja begitu. Cinta selalu datang tiba-tiba, tanpa kabar peringatan, dan membelesak menancap semena-mena di langit jiwa. Penuh kejutan, indah, sekaligus perih tak terkira. Dusta belaka jika ada orang yang mengaku belum pernah disergap perasaan linu itu, karena cinta selalu gentayangan dalam berbagai ruang dan waktu, dia senantiasa siap menjamah siapa saja yang bernyawa. Di sebuah sore yang kering, ketika cuaca dijaga ketat musim kemarau yang garang, cinta melayang-layang di udara, mengintai mangsanya ; seorang laki-laki yang tengah berdiri di pinggir jalan menunggu bis kota yang akan melaju ke arah barat. Udara panas dan angin yang bertiup dari selatan seperti sebuah gerak konspirasi untuk memaksa pria itu membuka mulutnya, menguap, dan cinta yang berwujud renik bahkan virtual melesat masuk, tepat ke arah mulutnya yang terbuka, lalu menghujam ke sebuah telaga darah, dia seperti tak mau keluar lagi untuk selama-lamanya. Dia seumpama virus yang menyerang darah yang mengalir dalam tubuh, membuatnya cemar dan terkontaminasi. Dia selalu memperlakukan korbannya dengan semena-mena. Dia selalu membuat ada yang berdebar entah di mana, mungkin di telaga darah yang mula-mula dia serang.

Berapa banyak orang yang invalid dalam urusanyang satu ini?, tapi ini bukan cerita tentang oranglain, tetapi cerita tentang dia yang berdiri di pinggir jalan ketika menunggu bis kota yang akan melaju ke barat. Maka jatuhlah dia pada pesona seorang perempuan, dan memang begitu hukumnya, dia diserang rasa ngilu secara tiba-tiba, belum sempat dia mempersiapkan pertahanan yang kokoh, cinta telah membuatnya berpikir keras bagaimana menyusun siasat. Bagaimana agar karakter konservatifnya dapat berdamai dengan gejolak telaga darahnya.

***

Dari dulu kawan saya, si Joni, terus saja meledek, "Jangan sekali-kali mendengarkan nasihat cinta dari orang yang belum pernah jatuh cinta." Dan sangkaan itu, sangkaan belum pernah jatuh cinta itu pasti dilekatkannya kepadaku hanya karena dia belum pernah melihat aku berjalan dengan seorang perempuan yang bukan muhrim. Tawanya berderai-derai, nikmat betul nampaknya kalau sedang mengejek orang. Dan tak lupa dia juga menyelipkan pengalamannya di medan percintaan, sebagai penguat akan ejekannya, bahwa inilah dia si Joni yang sudah kenyang betul pahit manisnya dunia percintaan. Tap iwalau bagaimana pun ganasnya serangan pembunuhan karakter itu, dan walaupun kesalnya aku sama dia, tapi ujung-ujungnya aku kasihan juga melihat fakta real di ujung perjalanannya. Cintanya invalid, dan klasik, sangat klasik : sang pujaan hati mencuri start.

Di ujung senja yang kelabu, dia terlihat mencoba menguat-nguatkan diri. Di sebuah dermaga dia duduk merenung sambil menghirup kopi dan membakar cigarette, sementara matahari telah hilang ditelan awan. Angin mendesah dari arah barat laut, dari arah kampungnya nun jauh di sana, kampungnya yang telah sangat tega merebut orang yang sering hadir pada tulisan-tulisannya. Ketika resah hatinya tak tertanggungkan lagi, dia meluncur ke laut : mencari bulu babi.

Sebelum dia menekuni profesi barunya sebagai pencari bulu babi, sebuah profesi yang lebih tepat disebut sebagai pelarian, dia juga sebenarnya seorang konservatif. Jauh dari banyak cincong soal perempuan, mungkin ingin disebut tawadhu, padahal kenyataan sebenarnya adalah jarang memiliki keberanian lebih untuk melepaskan sebuah shoot yang jitu. Dan asal kau tahu Bung, orang macam begini jumlahnya tidak sedikit, mungkin sama banyaknya dengan mereka yang berkarakter Don Juan. "Orang-orang berkelakuan cap kelinci boleh masuk keranjang sampah," begitu kata si Joni. Buku yang sering dibacanya tak jauh dari syair Gurindam 12 dan kafilah buku-buku yang usianya seangkatan dengan kakek buyutku. Dia hanya satu garis di atasku jika menyangkut soal perempuan, tapi legegnya tak kepalang tanggung, maka ketika dia invalid aku sebenarnya ingin menyerang balik, tapi entah kenapa tabiat balas dendam seperti sedang malas untuk keluar.

Keadaan kemudian seperti roda pedati, dia mulai terlihat menggelinding, memutar nasib untuk bergantian, untuk bersiap pada sebuah shift yang diciptakan waktu. Si Joni belum sembuh betul dari sakit batinnya, ketika cinta yang melayang-layang di udara, yang berwujud renik bahkan virtual, melesat masuk ke mulutku waktu kantuk datang bergelombang, sementara bis kota yang akan meluncur ke barat belum juga datang. Dua detik setelah aku sempurna mengatupkan mulut, tiba-tiba di seberang jalan terlihat berdiri seorang perempuan berpostur tinggi. Aku menajamkan pandangan untuk menyakinkan bahwa yang berdiri itu bukan tiang listrik. Oh, benar perempuan. Dia kemudian menyeberang jalan, itu artinya dia berjalan ke arahku. Tak kurang dari isepuluh detik dia telah sampai di sebelahku, pandangannya sibuk menunggu mikrolet yang akan membawanya pulang. Ini memang bukan pertemuan yang istimewa, tapi cinta tidak pernah memilih waktu dan tempat untuk menjatuhkan kesaktiannya.

Mikrolet belum juga datang, dia terlihat resah. Bis kota yang akan melaju ke arah barat sudah bersiap meluncur, tapi aku pura-pura tidak melihatnya, bodoh sekali kalau aku buru-buru pulang dan meninggalkan perempuan ini sendirian. Sore itu Ramadhan belum menjejakkan kakinya,jadi bolehlah kalau mau minum aqua gelas. Aku seperti seorang mentalis, karena tiga detik kemudian, dia benar-benar membeli aqua gelas dingin dan meminumnya, eh salah menyedotnya. Di saat seperti itu, kalau misalnya aku disuruh menjadi sedotan, meskipun air yang disedotnya adalah aqua dingin karena sudah lama direndam es batu, kurasa tidak akan rugi betul. Benar apa kata Dewi Lestari, terkadang benda-benda mati justru mendapatkan apa yang kita inginkan. Lihat cara dia memegang aqua gelas, sangat anggun dan menggemaskan. Sedotan pun diperlakukannya dengan sopan.

Mata terkadang lupa diri, indera penglihat itu sering lupa dengan waktu. Dia tidak sadar bahwa mikrolet akhirnya datang dan membawa perempuan itu melaju ke rumahnya yang entah di mana, tapi kurasa tidak jauh dari sekitar rute Pulogadung-Senen. Aku hanya melongo, melihat jejak kakinya yang terakhir di pijakan mikrolet. Lalu lintas semakin macet, para jongos berlomba pulang dengan motor made in Japan yang kalau saja jumlahnya di seluruh Indonesia dikumpulkan di Jakarta, aku rasa provinsinya si Pitung ini bisa tenggelam. Tapi itu bukan pertemuan pertama dan sekaligus terakhir, bukan pula sebuah pertemuan yang sering didramatisasi oleh novel-novel jadul seangkatan bapakku. Dan kau pun harus ingat Bung, roda pedatiku tengah bergerak ke atas, dia tak mungkin mengkhianatiku.

***

ABG labil atau lebih populer dengan sebutan Ababil, sesungguhnya adalah singkatan dalam singkatan. ABG sendiri adalah sebuah singkatan, lalu entah siapa yang kurang ajar untuk menyingkat lagi singkatan itu. Tapi terlepas dari runyamnya singkatan, Ababil adalah sebuah kondisi kejiwaan pada level usia tertentu, yakni usia remaja yang tengah beranjak dewasa, sedang sibuk-sibuknya mencari identitas. Kalau ada orangtua yang masih saja labil, maka di sebutnya Kobil (kolot labil), kalau ada orangtua yang masih saja susah dinasehati, maka disebutnya Kogong (kolot bedegong), demikian khotbah singkat dari si Ivan Beruang, kawan saya yang termasuk bermazhab konservatif juga. Mari kucerikatan sedikit kelakuannya.

Biarpun dia juara bertahan dalam urusan meledek dan mengejek, tapi dia sesungguhnya adalah termasuk jenis laki-laki yang sering kehilangan ide kalau sedang berbicara dengan perempuan. Jika ditinjau dari segi biologis, dia termasuk laki-laki yang sering bersahabat dengan banjir keringat kalau sedang berduaan dengan kaum hawa. Maka kalau dia tersudutkan pada kondisi seperti itu, sondtracknya tak ada yang lebih pantas selain "Bigmouth Strikes Again" dari The Smiths. Orang Belanda menyebut sikap laki-laki seperti si Ivan ini dengan sebuah kata yang cukup manis, yakni "Geumpeuran".

Boleh kita buktikan kalau Bung mau fakta. Siapa yang tak kenal facebook?, semua yang membaca catatan ini pasti punya facebook,sebab aku menulisnya dalam note facebook. Nah, si Ivan suatu hari kedapatan menulis status dalam bahasa Sunda yang bernada lenjeh alias kemayu, jelas di sana dia memproklamasikan bahwa dirinya sedang jatuh cinta tapi tak punya cukup uang untuk merealisasikannya (padahal uang adalah hanya kamuflase saja, fakta sudah sering memberikan bukti bahwa dia tidak pernah punya cukup keberanian). Aku bayangkan, aura mukanya ketika menulis status itu pasti tak jauh beda dengan wajah Andika Kangen Band sewaktu bernyanyi, memang fans dan idol-nya selalu banyak mempunyai kemiripan. Begitulah keajaiban antara si Ivan Beruang dengan Kangen Band : chemistry manis antara idola dan pengangumnya.

Tak butuh waktu lama, statusnya kemudian menuai komentar. Kawan-kawan seangkatannya (usia dia memang di bawahku, tapi bolehlah kalau mau menghadiahinya dengan sebutan "bermutu" : bermuka tua) mulai menyerang dan menyudutkannya, dia bertahan. Kemudian kawan-kawannya menyerang lagi, dia mulai kerepotan. Kawan-kawannya mulai mengganas, dia hampir menangis. Kawan-kawannya menjadi bengis, dia tak membalas komentar : melarikan diri. Ternyata dia malu karena rahasia hatinya terbongkar lewat komentar-komentar tajam. Dia takut kalau perempuan impiannya membaca status dan komentar-komentar dibawahnya. Bigmouth stikes again. Ya, juara bertahan olok-olok tersebut telah mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Karirnya di dunia percintaan tak jauh beda dengan karir konvensionalnya sebagai seorang jongos : hidup segan mati tak mau.

Itu bukti kongkrit kegagalannya di bidang eceng gondok. Kalau Bung mau bukti bahwa dia memang seorang jempolan di bidang olok-olok, mari sini mendekat kepadaku. Pasti telah banyak yang menjadi korban akibat ulahnya. Kalau di sebuah pagi yang masih menyisakan embun, burung gereja belum berani menguasai kubah mesjid, Energen rasa coklat yang terhidang di mejamu masih terlalu panas untuk diminum, dan kau mulai login facebook, maka kau harus mencoba sekali-kali mengomentari status si Ivan Beruang, dan rasakan sensasinya. Tak jarang orang yang kasih komentar diberangusnya tanpa ampun :

"Hai siah Tongo!!"

"Hai ada Samiri si penyembah sapi emas!!"

"Naon siah enco-enco?!"

"Cepat kawin Wa, kamu sebentar lagi paéh !! (yang ini kurang ajar tingkat tinggi, kalau dikonversi ke dalam pangkat militer, ini setara dengan Jendral Besar)

"Buka puasa makan mie kocok buatan mamah. Enak sekali rasanya, pasti pakai kikil babi. Alhamdulillah" (ini salah satu statusnya yang menurut dia paling keren)

Dan masih banyak lagi citarasa belegug yang dengan sangat mudah dia hambur-hamburkan di account facebooknya. Pemilik mental sekeras molusca akan kocar-kacir dibuatnya. Paguyuban facebooker bermental bandeng presto akan langsung mem-blocked-nya. Ivan Beruang seumpama tokoh antagonis disinetron Cinta Fitri sesion Ramadhan yang menjadi kegemarannya sehabis berbuka puasa.

Awalnya aku mengira mungkin hal ini dipengaruhi oleh bacaannya, oleh buku-buku yang sering menemaninya, kupikir orang seperti si Ivan ini terlalu banyak membaca komik Petruk Gareng karyaTatang. S, tapi ternyata kenyataan tak selalu memberikan bukti seperti itu. Tak kurang dari tujuh buah buku Pramoedya berderet-deret di rak bukunya : GadisPantai, Arus Balik, Cerita dari Blora, Arok Dedes, Mereka yang Dilumpuhkan,Midah si Manis Bergigi Emas, dan Bumi Manusia. Ada pula buku Umar Kayam, LeoTolstoy, Emha Ainun Nadjib, dan Ayu Utami. Tak ketinggalan buku-buku bertema majalah Trubus hadir pula di situ : Beternak Ikan Lele, Budidaya Belut, Kawin Silang Durian Bangkok, dan Anturium si Gelombang Cinta yang Menggiurkan.

Semakin hari Ivan Beruang kian tenggelam kedalam lika-liku sinetron Cinta Fitri yang katanya, kata anak SMP yang rumah ibunya tidak jauh dari kostanku, semakin menggemaskan dan menegangkan. Di saat yang sama aku mulai sibuk menyusun strategi. Aku kumpulkan buku-buku yang selama ini berada di tangan orang-orang peminjam. Juga buku-buku yang bersembunyi di dalam dus bekas bungkus televisi, yang bau nya khas, bau kertas berpunggung lem kuning. Dua hari setelah perempuan bertubuh tinggi yang aku temui di pinggir jalan waktu menunggu bis kota, meninggalkanku dengan mikroletnya, ternyata aku bertemu lagi dengannya di tempat yang sama. Sore menjelang mabhrib itu dia memakai baju biru tua, rambutnya tergerai sebahu, aku tak berkedip. Jarum jam sudah duduk di pukul 17.56 wib. Kali ini dia yang menjadi seperti mentalis,sebab tiba-tiba aku diserang haus, tak lama segelas aqua pun aku bantai : adzan sudah berkumandang, sudah waktunya buka puasa, jadi dia bukan seorang mentalis. Hai, tapi kenapa dia diam saja tak ikut berbuka?, oh, tidaaaak!!!, mungkinkah dia....????.

***

Jarak antara kamarnya dengan kamarku hanya terpisah oleh satu kamar saja. Penghuni kost yang lain memanggilnya Uda, dia memang orang Padang Panjang. Kalau putar musik tak bisa pelan, volume minimal harus diposisi 15, biar mantaf katanya. Kebiasaannya adalah memutar lagu berulang-ulang, persis seperti metode anak-anak TPA menghafal Juz Am'ma. Belakangan aku tahu bahwa dia menulis lirik lagu itu di status facebooknya, jadi pengulangan lagu adalah semacam kelakukan meyakinkan diri sendiri bahwa lirik yang ditulis benar-benar sama tanpa salah sehuruf pun. Kukira, orang semacam ini memerlukan buku-buku petunjuk praktis cara meningkatkan daya ingat.

Pagi-pagi sebelum matahari terasa semakin panas, dia selalu seperti terburu-buru pergi ke pasar, barang dagangannya sudah siap menunggu di kios kecil sewaan. Telat sedikit rejeki bisa pindah ke tangan orang,begitu katanya. Demikianlah, dia setiap hari mencari piti di sana, di arena jual beli, di wilayah bertemunya orang-orang yang mau bertransaksi. Tiga tahun lalu selepas tamat SMU dia pergi merantau ke Jakarta. Ayahnya sudah almarhum. Mau kuliah tak ada dana, maka akhirnya ikut berjualan dengan kakaknya. Lepas satu tahun, dia pisah kongsi : pegang toko sendiri. Tokonya tanpa karyawan,berbanding lurus dengan hidupnya yang kerontang dari perempuan. Si Uda bolehlah mantaf di bidang jual menjual, tapi di bidang merah jambu dia tak lebih dari seorang pecundang. Kalau si Uda mau, bolehlah Uda juga masuk barisan konservatif.

Tapi malam itu, malam yang datang di bulan Juli yang berangin, waktu aku duduk di bawah jemuran, dia terlihat berjalan berduaan dengan perempuan di sebuah gang menuju kostan. Walaupun dia terlindungi oleh malam yang nircahaya bulan, tapi lampu jalan yang menggantung di pertigaan gang telah memberi tahu, bahwa muka si Uda terlihat grogi dan kurang percaya diri. Dan berpisahlah mereka di ujung gang. Tiba di kostan dia terlihat menenteng tiga buah buku berukuran sedang, warna covernya ABG banget, dari judulnya sangat menyengat aroma roman picisan. Oh, itulah dia buku-buku Khalil Gibran.

Aku sempat mau dipinjaminya buku itu, tapi dengan tegas aku tolak, "Hai Bung, tak usah ya aku dipinjami buku beginian, buku macam ini hanya cocok buat para pembuat lagu". Aneh, si Uda malah kembang kempis dan tidak marah , dia bangga merasa seleranya sama dengan Ahmad Dhani. Setiap malam aku lihat dia begitu khusuk melahap kata-kata bersayap yang seperti hantu. Demi membaca buku itu, maka lihatlah statusnya sangat mirip dengan lagu-lagu Dewa. Belakangan aku tahu bahwa buku Gibran itu milik kawannya, dan sengaja dia pinjam untuk memperkaya kosa kata dalam rangka urusan rayu-merayu.Tapi setelah dia pikir-pikir, ternyata dia tidak punya stok keberanian lebih untuk banyak berkicau di hadapan perempuan incarannya, akhirnya dia berniat meminjamkan buku itu agar si perempuan bisa membacanya sendiri. Jadi buku itu akan dijadikan semacam duta besar untuk menyampaikan suara hati yang tidak bisa keluar dari mulut. Si uda memang betul-betul seorang pemalu jika sudah berurusan dengan kaum hawa.

Dan waktu terus mengintai. Dalam waktu satu minggu akhirnya tiga buku roman picisan itu khatam. Esoknya dengan bicara agak gugup dan keringat mulai membasahi pelipis, dia pinjamkan buku itu ke perempuan incarannya, "Neng, suka baca buku kan, nih Uda punya buku bagus, eneng pasti suka, tapi nanti kalau udah selesai, Uda ambil lagi, soalnya ini punya kawan."Si eneng hanya tersenyum malu-malu sambil mengambil tiga buku itu. Uda dan eneng ternyata sama-sama pemalu. Dan waktu terus mengintai.

Maka tibalah hari deadline. Hari di mana Uda berseri-seri, nampak betul mukanya dipenuhi cahaya harapan, harapan bahwa dia bakal lebih berani dan lebih jago juga lebih mantaf dalam mendekati perempuan incarannya. Pagi sebelum pergi ke pasar untuk berdagang, dia pamit kepada seluruh penghuni kostan dan minta di do'akan, agar usahanya di bidang niaga dan di bidang merah jambu bisa lancar gilang gemilang dan tak kurang suatu apapun. Kemudian penghuni kostan pecah, semuanya bertebaran di muka bumi mencari karunia Allah. Dan semuanya kembali lagi ketika sore datang, kecuali si Uda, dia setiap hari selalu pulang agak malam. Tepat jam 19.30 wib, dia memperlihatkan batang hidungnya. Mukanya terlihat kuyu dan melankolik. Dia yang sehari-hari doyan betul memutar lagu-lagu dari band macam The Rasmus, The Red Jumpsuit Apparatus, Secondhand Serenade, dan A7x, kali ini wajahnya tiba-tiba terlihat seperti habis menikmati konser ST12. Sendu yang mengandung aroma lebay. Hasilnya invalid. Si eneng tak paham Khalil Gibran.

***

Bukan main, tiga orang kawan terkapar hampir dalam waktu yang bersamaan di medan laga eceng gondok, mengerikan sekali. Ingin rasanya aku mengibarkan bendera kuning di atap kostan sebagai tanda berkabung, tapi khawatir banyak tetangga yang datang membawa beras, yang datang untuk melayat karena disangkanya ada orang yang meninggal. Maka sehari setelah kawan-kawanku mengalami kekalahan yang menyakitkan, aku sengaja memakai baju hitam selama seminggu untuk mengekspresikan rasa belasungkawa yang dalam kepada mereka, kawan-kawanku, yang sebenarnya sudah berperang dengan gagah.

Tentu kelakuan konyolku itu terjadi sebelum aku bertemu dengan perempuan tinggi yang telah menyerangku dengan cinta secara tiba-tiba di pinggir jalan. Masih ingat dengan jelas, bahwa aku sempat mengirimkan ucapan belasungkawa kepada mereka bertiga via sms, "Bung, ada ku dengar kau telah invalid di arena percintaan. Tentu aku tahu belaka, bahwa Bung bukanlah person yang lemah, melainkan lebih gagah daripada tentara Gurkha. Bertahanlah." Semuanya kukirim dengan pesan yang sama, dan semuanya tidak ada yang membalas, mungkin mereka jengkel. Bahkan seekor tumila pun tidak ada yang tahu, bahwa sms itu suatu saat akan menjadi bumerang yang menyakitkan. [ ]

itp, 24 Agustus '10

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…