19 July 2010

Membaca Desember


Curah hujan masih tinggi dan mendung masih sering menggantung di langit, ketika Desember datang lagi. Siapa yang mau mundur? Selamat, kamu tidak bisa melakukannya. Silahkan saja mencatat penyesalan, karena kamu hanya akan mendapati jajaran kata-kata dari tinta yang kamu tumpahkan. Evaluasi sudah dari dulu menjadi kosa kata istimewa, sehingga tidak banyak orang yang bisa melakukannya. 

Siapa yang bisa memfosilkan waktu? Karena saya hanya mendapati angka yang dikasih tanda stabilo merah. Kata siapa waktu berulang? Yang serupa hanyalah angka yang merekat di kalender usang. Agenda apa yang telah kamu selesaikan? Tidak ada, karena kamu tidak pernah mencatatnya, dan memilih menjadi manusia air, mengalir, menyandarkan segalanya berjalan apa adanya, lalu lamu menyebutnya takdir.

Saya tahu, setiap kali Desember datang, kamu tidak pernah ingat pada kue ulang tahun, atau nyala lilin di ujung musim. Saya tahu, karena kamu menganggapnya tidak perlu. Bahkan kamu sering lupa, ketika mendapati tanggal itu tiba-tiba. Yang kamu lakukan hanyalah mencari kalender baru, dan bersiap melipat masalalu, kemudian menyimpannya dalam saku. Sekali-kali kamu buka lagi lipatan itu, kalau kamu rindu. 

Ingat hari kelahiran adalah waktu ketika ingat siapa yang telah melahirkan. Lalu ada yang menderu di dasarmu, gemuruh itu adalah ketidakberdayaan untuk membalas segala yang telah kamu dapatkan. [itp]

1 Des ‘09

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…