19 July 2010

Melihat Kosong


Selalu ada tafsir kerinduan pada setiap celah hidup yang kosong. Seperti air yang tunduk bergerak mencari saluran. Seperti dering ponsel yang menggugah pendengaran. Seperti sebatang lilin yang terbakar di hampa cahaya. Riak manusia selalu menuju kepada aktivitas mengisi. Memenuhi setiap kosong untuk dipadati. Pencarian yang resah adalah simbol terbukanya gerbang kekosongan dalam diri. Lalu pundi-pundi materi, spirit, dan imajinasi akan datang menghampiri. Membuat kita sibuk untuk memilih dan memilah, lalu mengendapkannya dalam celah.

Mungkin akan lebih mudah jika kita tidak pernah disapa kesadaran yang memerah. Atau tidak pernah bertanya-tanya tentang perilaku yang terus berjibaku. Tapi setiap diri telah dibekali tiang pancang yang menghunjam, yang memaksa kita untuk mengolah begitu banyak berita, metafora, ritinitas, relasi publik, dan bahkan cermin berdebu yang menempel di dinding. Inilah denyut perlombaan sementara, kompetisi mengumpulkan isi, agar hidup tidak layak untuk ditangisi. Saya lebih suka menyebutnya “menyambungkan gerbong-gerbong kesenangan”. Meskipun kita berbeda dalam menandai setiap makna, definisi, dan arti, tapi lihatlah apa yang tidak kita sambungkan? Selembar curiculum vitae sudah cukup mewakili gerbong kesenangan yang tengah kuncup.

Kita sudah terbiasa melihat orang-orang membangun rumah tangga. Memperhatikan anak-anak muda yang rajin kuliah sambil memanggul pena. Menjadi bagian dari antrian panjang pengangguran yang mencari kerja. Bahkan pernah ikut mengeja keteduhan di rumah Tuhan dan di buku-buku pencerahan. Peta apa yang terlukis dari rangkaian aktivitas itu?

Maka setiap kali melihat kosong, akan ada dorongan untuk mencari dan mengumpulkan sebanyak mungkin nutrisi. Bentuknya saja yang berbeda: ada yang berjalan di tengah berderang, dan ada pula yang bermanuver di antara gradasi dan kamuflase. Yang akan berjalan adalah dia yang boleh menentukan lewat arah mana akan melalui.

Lalu saya teringat sepotong puisi Chairil Anwar:

“Juga malam akhirnya berlabuh
Dan dingin pun menyebarkan kalam
Seperti hujan di ujung melempar sauh
Menyekalkan rindu dan cinta dalam-dalam”. [itp]

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…