19 July 2010

Kembali Kepada Dingin


Ruangan 3×3 adalah kotak istirahat, tempat saya memadamkan bara yang menyala sendirian. Sepertinya belum ada yang pastas menggantikan aroma kesendirian yang mengapung di tengah catatan, koran bekas, setumpuk buku, dan ricik hujan yang akhir-akhir ini menghunjam Jakarta. Inilah salah satu jenak terbaik untuk berbagi dengan kesenangan menulis, parade kata-kata, dan pemikiran ke dalam. Citarasa kehidupan sosial untuk sementara saya tanggalkan, dia menggantung di balik pintu, tempat beberapa ekor nyamuk berlindung dari serangan tepukan tangan atau obat yang dibakar.

Sudah dari sore mendung menggantung di langit, menampung air sebelum disiramkan ke permukaan bumi. Pintu kamar saya biarkan terbuka, lalu menyapa situs jejaring sosial lewat ponsel tanpa kamera. Dunia dalam genggaman, dan bisa disembunyikan di bawah bantal. Di layar kecil yang menyala saya membaca dan memperhatikan lalu-lintas komunikasi. Meskipun hanya menerka-nerka, sebenarnya para aktivis dunia maya bisa mendeteksi banyak orang tentang identitas, karakter, dan kegiatan hariannya. Inilah lab sosial digital yang garangnya tidak kalah dengan dunia nyata. Ada yang mundur teratur, ada yang menghilang, dan ada juga yang bertahan dengan macam-macam alasan. Tidak ada yang perlu diperdebatkan di sini: siapa menikmati, dia akan menjalani.

Hujan akhirnya turun, menyuburkan banyak inspirasi, puisi, kenangan, ojeg payung, sorak-sorai anak-anak kecil, dan keluh serta serapah. Ada juga yang berteduh di depan warung pulsa, pandangan dan pikirannya datar, sementara tukang es mulai resah menghitung laba. Jakarta sepertinya harus sering diguyur hujan, agar hawa dingin luruh menyelimuti setiap emosi yang bergemuruh. Saya tidak ingin mengingat puisi Sapardi di saat seperti ini, karena akan terlalu kental. Saya hanya ingin tetap duduk di depan layar monitor dan terus mengumpulkan kata-kata, mencoba mengikat makna. Tapi saya selalu gagal, terlalu susah untuk berjejak, umtuk menyemakan frekuensi dengan banyak pihak. Akan kamu temui bahwa ternyata saya tidak pernah bosan menambal-sulam, karena saya telah mencintainya diam-diam.

Sekarang telah banyak peringatan yang dilontarkan untuk mewaspadai musim hujan. Para penjaga pintu air mungkin telah mendengar kabar ini, kabar peringatan ini. Media pun telah banyak yang menurunkan beritanya tentang musim ini. Dan Jakarta selalu punya cerita: hujan satu jam, Thamrin dan Sudirman terendam. Kalau malam tiba, bola-bola api yang terang akan berkilauan di timpa air. Di kotak istirahat ini saya terkadang rindu: berjalan di tengan hujan yang menderu, atau bermain bola tanpa sepatu-di tengah lapang-di bawah guyuran hujan. Dua-duanya akan menyisakan rasa dingin atau bibir yang membiru. Dan ini akan lebih menyehatkan jiwa daripada mengeluhkan hujan sebelum berangkat kerja. [itp]

Foto: favim.com

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…