21 January 2009

Siasat

Apa yang dituliskan oleh para pengarang novel, pembuat puisi dan penulis cerpen sesungguhnya adalah tema yang diulang-ulang. Hampir semuanya mengusung tema percintaan, kemanusiaan, sosial, kepahlawanan, perlawanan, alam dan lain sebagainya. Tak ada yang baru di sana. Tapi kenapa selalu ada karya-karya mereka yang berkesan?, padahal tema yang mereka tawarkan itu-itu juga. Jawabannya adalah kekayaan bahasa. Kosa kata yang banyaknya entah berapa berhasil mensiasati pengulangan tema sehingga tidak membosankan. Dia selalu bisa memesona dengan kekayaannya.

Selalu ada citarasa yang berbeda ketika misalnya membaca karya Sapardi Djoko Damono, Acep Zamzam Noor, Joko Pinurbo, Danarto, Emha Ainun Nadjib, Ramadhan K.H, Taufik Ismail, Budi Darma dan bahkan tulisan kawan-kawan yang sering diposting di MP. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Bagaimana caranya memperkaya bahasa dan menabung timbunan kosa kata?. Salah satunya adalah dengan banyak membaca.

Membaca, itulah siasat pertama dalam menulis karya. Meskipun hasilnya tidak selalu seratus persen orisinil, tapi setidaknya ada sesuatu yang dituliskan. Dan sebuah karya yang dituliskan akan lebih mengabadi daripada yang diucapkan.

Dalam kehidupan juga sepertinya harus meniru bahasa, pandai bersiasat dalam mengolah citarasa agar hasilnya selalu mempesona. [ ]

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai