21 January 2009

Mati Muda

Selalu ada cara untuk mengenang mereka yang telah pergi mendahului kita. Cukuplah kematian menjadi pelajaran bagi mereka yang masih hidup. Kematian bukan untuk ditakuti karena datangnya adalah pasti. Dalam setahun ini kabar duka susul-menyusul, beberapa kawan telah pergi dipanggil-Nya. Lalu ada seorang kawan yang bertanya : “kapan kamu menyusul mereka?”. Pertanyaan bodoh saya kira, seolah-olah saya mengetahui jadwal kematian sendiri. Atau dia hanya berolok-olok saja?. Apakah kematian pantas untuk diperolokkan?.

Bagi sebagian orang mati muda adalah tragedy, karena tidak bisa lama mengecap nikmat dunia katanya. Tapi bagi sebagian yang lain justru sebuah berkah, sebab mereka kembali kepada kesejatian menghadapYang Maha Abadi. Tapi yang terpenting bukan masalah kapan tibanya, melainkan sudah seberapa banyak bekal kita untuk menempuh jalan keabadian itu. Saya sendiri selalu khawatir dengan bekal yang masih sedikit atau mungkin belum ada sama sekali.

Untuk kawan-kawanku yang telah pergi meninggalkan fananya dunia, saya hanya bisa berucap selamat jalan dan berdo’a untuk kalian. Semoga kalian mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya. Amin.

Untuk kawan-kawanku yang masih hidup, saya teringat sepotong bait dalam sajak Pastoral karya Acep Zamzam Noor, mungkin kalian pernah mendengarnya :

Maut bukanlah kabut yang mengendap-ngendap

Tapi salju

Yang berloncatan bagai waktu

Dan menyumbat pernafasanmu

Maut bukanlah kata-kata

Tapi do’a

Yang memancar bagai cahaya surga

Dan membakarmu tiba-tiba [ ]

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai