22 January 2009

Masyarakat Imunisasi

Satu hal dari banyak hal yang patut disyukuri adalah bahwa kita dianugerahi pengetahuan tentang gaya bahasa. Tentang Metafor. Tentang kiasan. Tentang suatu cara untuk menyampaikan pendapat, ide, kritik dan saran secara tidak vulgar. Menyampaikan partikel gagasan yang disamarkan dengan kekayaan bahasa, dengan tujuan agar "si objek tembak" tidak merasa ditelanjangi. Tidak merasa diserang bertubi-tubi.

Tapi memang zaman minta perubahan. Dia menuntut segalanya serba terbuka. Serba transparan. Serba blak-blakan. Dengan doktrin demokrasi, kebebasan, persamaan hak dan dogma perubahan lainnya menggiring kita untuk akhirnya mentabukan majas. Mengalienasi perumpamaan.

Dan efek yang ditimbulkan dari kondisi itu cukup "mengagumkan". Kita kehilangan rasa peka. Kita menjadi malas berkontemplasi. Gerak reflek kita jadi lamban. Sinyal-sinyal untuk menangkap pesan yang tersirat semakin melemah. Atau mungkin sengaja dilemahkan?.

Dengan berjalannya waktu, individu-individu yang dimuntahkan oleh kondisi ini semakin bertambah dan membentuk komunitas-komunitas kecil, sebelum akhirnya membentuk sebuah masyarakat yang lebih luas. Dan kita adalah anggota sah masyarakat tersebut.

Kita nyaman dengan kondisi seperti ini, sebab tidak direpotkan dengan kegiatan menganalisa pesan-pesan yang berada di balik timbunan kata-kata. Kita adalah masyarakat tabu kiasan. Masyarakat miopy perumpamaan. Masyarakat yang terimunisasi dari kritik dan saran. Masyarakat terdidik yang bebal. [ ]

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…