18 August 2008

Kanvas dan Cermin

Fajar Merah bergegas membereskan bukunya. Hari itu cuaca mendung dan sepertinya sebentar lagi hujan akan turun. Angin mulai kencang menerbangkan debu-debu yang dari pagi bersemayam di bumi. Kampus pun mulai sepi ditinggalkan para penghuni satu-persatu. Di halte angkutan kota yang setiap hari setia mengangkutnya, Fajar Merah menemukan kertas yang bergulung. Karena penasaran, Fajar Merah mengambilnya. Sebuah tulisan nampak tercetak di atasnya :

" Hari ini seperti kemarin, bagiku tak ada yang istimewa. Biasa. Sangat biasa. Orang-orang terlelap dengan kesibukannya masing-masing. Angin, debu, batu bahkan matahari juga tak mau memperlihatkan bentuknya dalam wajah yang istimewa. Semua seperti hamparan kanvas kosong. Datar. Tak bertekstur.

Hari ini seperti kemarin, bagiku sama saja. Waktu hanya berloncatan menghabiskan geraknya. Perputarannya telah kehilangan rasa. Hambar. Tak berasa. Kata-kata bijak yang sebelumnya ampuh menjadi suplemen jiwa, kini tak mampu lagi menjadi nutrisi. Kata-kata itu telah terbenam. Tenggelam di tengah-tengah penggembosan makna. Sangat absurd.

Hari ini seperti kemarin, bagiku adalah cermin. Hanya bolak-balik bidang yang bertautan dalam visual yang sama. Apa yang diharapkan di sana ?, jika komposisi rupa menjadi sama. Kenapa cermin telah meninggalkan hakikatnya ?, seharusnya dia hadir membawa bopeng kita di pelupuk mata !!"

Fajar Merah tak tertarik dengan isinya. Lalu hanyutlah tulisan itu di bawa arus air yang mengalir di got depan halte. Hujan turun deras siang itu. Dan tulisan hanyut entah kemana ?.

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai