09 April 2008

The Jongos


Sekali waktu pernah juga saya pergi ke Jakarta, melihat-lihat gedung-gedung yang tinggi itu. Bukan kepalang tingginya sebagai monster mencakar langit yang biru. Tak tanggung juga banyak manusia yang menghuninya, maksudnya hanya hunian untuk bekerja saja zonder menetap di sana. Manusia-manusia itu rapi pula kelihatannya oleh mata kepala saya sendiri, tak kepalang rapi dan wibawanya sebagai orang-orang yang mengerti akan ilmu pengetahuan. Sempat juga saya masuk ke dalam gedung itu, menyaksikan mereka yang sibuk duduk di depan computer yang dibatasi sekat-sekat pendek hampir setengah badan. Ada juga yang mondar-mandir mengantarkan minuman, atau yang sibuk mengangkat gagang telepon, atau yang sibuk main game, atau sekali waktu saya juga melihat orang yang sebentar-sebentar berdiri lalu duduk lagi, begitu saja kerjaannya sebagai suami yang cemas menunggu kelahiran anak pertamanya. Sungguh sebuah kesibukan yang manis nampaknya.

Dalam sebuah pagi yang masih sangat awal, mereka manusia-manusia itu sudah bersiap berangkat menuju rahmat kerjanya masing-masing. Rahmat kerja yang lain-lain juga kesibukannya, bergantung profesi dan keahliannya masing-masing. Begitu saja perputaran aktivitas di dalam gedung-gedung berpendingin itu. Kemudian di akhir bulan, ramailah mereka mengantri di ATM buat mengambil uang, hasil keringat satu bulan ke belakang itu, untuk dihabiskan pula pada satu bulan ke depannya. Tapi ada juga sebahagian yang ditabungkan untuk penghidupan selanjutnya, untuk pendidikan anak-anaknya, untuk mencicil rumah, untuk bayar kredit motor, atau bila mereka belum berkawin, maka disimpan pulalah uang itu untuk meminang calon pasangan hidup dan pesta perayaannya. Tapi kebanyakan dari penghasilan itu adalah untuk makan-minum saja dan untuk berbelanja fashion, dan ada pula untuk sedikit bersenang-senang dengan pacar dan kawanya, semacam melepas penat dari lelah kerja seharian.

Kehidupan manusia memang tidak terlepas dari siklus itu-itu juga, dari kerja-lapar-makan-buang hajat dan ditambah sedikit bersenang-senang, hanya sedikit porsinya untuk senang-senang itu. Alangkah sederhananya. Lalu ada juga manusia yang alim, mereka sibuk mendekatkan diri pada Tuhannya masing-masing, berharap beroleh berkah dari rahmat kerjanya itu. Dan dalam pekerjaan yang diagung-agungkan itu pastilah ada yang namanya tuan dan jongos, kebetulan dari manusia-manusia itu kebanyakan adalah jongos. Apa pun nama dan pekerjaannya, jongos tetaplah jongos yang mengabdi kepada tuannya sampai dibela-bela juga nama baik perusahaannya itu, perusahaan milik tuannya itu. Derajatnya saja yang berlain-lainan, yang membedakan satu jongos dengan jongos lainnya. Dan saya juga adalah manusia yang menyukai rahmat kerja, pernah pula menjadi jongos di sebuah pabrik service perjalanan, dengan salary yang cukup untuk hidup dan sedikit bersenang-senang. Begitulah kalau jongos, sempat juga saya kena damprat majikan dan tuan-tuan muda majikan yang berkuasa itu sebagai mereka adalah penguasa kehidupan saya, sebagai mereka yang membeli saya dengan salary itu. Padahal kata orang-orang tua dulu, yang mengusai kehidupan adalah hanya Tuhan dengan semesta kekuasaan-Nya, tapi beda zaman beda pulalah pemahamannya.

Demikianlah saya menghubung-hubungkan konstelasi pemahaman sambil melihat awan dari balik jendela trem, antara sebentar lewat para penjual makanan dan para pencatut yang tak habis-habisnya itu. Tak terasa trem sudah sampai di daerah Senen, lalu saya loncat dari trem itu menuju penjual kue pancong di dekat pasar buku loak. Sedari pagi belum terisi rupanya perut ini, sehingga terdengar bunyi-bunyian sebagai orang main musik keroncong dalam perut ini. Penjual kue pancong nampak sedang sibuk meniup-niup api untuk pembakaran. Dua buah kue pancong dan segelas kopi encer sudah masuk ke perut saya, membuat segar sedikit badan yang mulai letih ini. Saya sedang menunggu si Hadi sebenarnya siang itu, ada janji mau bertemu di pasar loak buku itu untuk membeli barang satu atau dua buku untuk sekedar dibaca-baca saja nanti di ‘rumah’nya, di bilangan Manggarai.

Semenjak reformasi pecah hanya kue pancong itu saja yang dapat saya beli, kebutuhan hidup melambung tinggi, harga-harga menjerat rakyat kebanyakan sebagai penjahat yang beringas membunuh korbannya. Antara sebentar saya ambil rokok dan menyalakannya, rokok pun hanya rokok murahan hasil produksi Kudus zonder pemantik, maka antara sebentar saya pinjam pemantik ke penjual kue pancong itu. Tak lama ada trem berhenti, kemudian muncul pula batang hidung si Hadi itu, sialan sudah menunggu setengah jam baru muncul bocah itu. Tanpa basa-basi diambil juga sebuah kue pancong ke mulutnya yang rakus. Si Hadi itu pasti juga kelaparan seperti saya, karena dia juga adalah pemuda zonder pekerjaan, sudah dua bulan dia berhenti menjadi jongos, tidak betah katanya, makanya dia keluar. Tak lama lalu dia merogoh kantongnya untuk bayar kue pancong zonder kopi encer, sekalian juga membayar semua yang saya makan. Lalu kami pergi meningglkan si penjual kue pancong dan menuju pasar buku loak itu. Tak henti-hentinya dia minta maaf karena terlambat, karena tremnya telat datang katanya. Dan saya biarkan saja dia berkicau sebagai burung yang tidak menghiraukan cicitan anaknya yang kelaparan.

Jalanan sudah ramai sedari tadi oleh becak dan sepeda, ada juga suara oto yang meraung-raungkan mesinnya. Pasar buku loak juga sama, sudah ramai oleh orang-orang yang sibuk mencari buku dan bertransaksi antara satu dengan yang lainnya.Di jajaran keempat sebelah lapak buku-buku agama kami berhenti untuk melihat-lihat buku sastra yang mulai tua dimakan usia. Tampak si Hadi membuka-buka bukunya Umar Kayam, sedangkan saya sibuk mencari buku Prameodya yang sudah langka, maksudnya karangan-karangannya yang terdahulu sewaktu huru-hara di republik ini belum juga reda. Ada saya lihat ’Arus Balik’, kemudian saya ambil dan lihat-lihat isinya. Antara sebentar saya baca sedikit-sedikit buku tebal itu. Cukup menarik juga buku itu, entah buku yang sedang dibaca si Hadi itu. Kami tak beranjak dari lapak buku itu, meskipun antara sebentar jelalatan juga mata ini melihat-lihat lapak yang lain, tapi kami urungkan juga niat itu sebab kalau terlalu banyak lihat buku, maka akan terlampau bernafsulah nanti kami untuk membelinya, sedangkan duit saja hanya tinggal beberpa rupiah lagi, itu pun sudah dipangkas oleh tukang kue pancong tadi. Kemudian kami deal membeli dua buku itu saja. Si Hadi beli ’Para Priyayi 1’nya Umar Kayam dan saya beli ’Arus Balik’nya Pramoedya. Setelah selesai bayar sama si penjual buku, lalu kami pergi naik trem lagi menuju Manggarai ke tempatnya si Hadi yang katanya mulai ramai oleh orang-orang pergerakan.

Dari dalam trem nampak orang-orang sibuk mencari penghidupannya. Keluarga para manusia yang sibuk itu, di rumah juga sedang sibuk berbelit urusan dengan perutnya, semenjak harga-harga melambung membelah angkasa, manusia-manusia republik ini nampak pula kelihatannya seperti di zaman Jepang, bersibuk diri menggapai urusan perutnya yang tidak satu itu, sebab banyak pula keluarganya yang harus ditanggung juga urusan perutnya. Para pedagang jadi banyak mengeluh tentang dagangannya yang sepi dari pembeli. Demontrasi di mana-mana menuntut penurunan harga, dan kisruh di mana-mana. Antrian pembeli minyak goreng nampak mengular berbelok-belok saking panjangnya, padahal demi mendapat beberapa kilo minyak saja. Laku itu nampak pula pada antrian calon-calon jongos di departemen-departemen pemerintahan dan di perusahaan-perusahaan yang masih dapat memberi salary buat para calon jongos itu. Si Hadi pun nampak pula melihat-lihat ke jendela dan sesekali melambai-lambaikan tangannya entah kepada siapa. Terus saja begitu zonder percakapan. Ada juga saya lihat para penjual kue pancong di tepi-tepi jalan yang panjang itu. Sebentar lagi trem akan tiba di Manggarai, si Hadi masih asyik juga melihat ke jendela, entah melihat apa. Lalu para pengamen mulai pada naik bertanda itu trem sudah berhenti di Kemayoran, lalu saya loncat meninggalkan si Hadi yang masih melongo melihat jendela trem yang kusam itu. Saya tunggu dia dekat sebuah warung penjual nasi, tak lama kemudian dia pun muncul dengan membawa dua kantong tahu lengkap dengan cabainya.

Turun dari trem itu terus masuk gang yang berkelok-kelok, di kiri-kanannya tampak rumah-rumah kumuh lengkap dengan jemuran yang bergelantungan, tempat jongos-jongos pabrik berumah tangga, membangun lembaga kehidupan tempat di mana anak manusia untuk pertama kalinya di ayun-ayun dengan segenuh kasih dengan segenap sayang dari orang tuanya. Ada saya dengar suara radio berkoar-koar memberitakan kemenangan pasangan anu mengalahkan pasangan anu dalam pilkada Jakarta. Gempita juga terdengarnya berita itu, suara si penyiar terasa empuk dan berat. Tapi wajah-wajah jongos yang beranak-pinak di sekitar gang itu lesu saja saya lihat. Anak kecil merengek-rengek ingin ditetek ibunya, sedangkan si ibu lesu saja melihat ke langit biru dengan tatapan kosong melompong sebagai merenung-renung saja kelihatannya. Kebetulan hari sedang gilang-gemilang waktu itu, yang membuat gedung-gedung jadi mengkilat dicumbui sinar matahari, gedung-gedung tempat sebagian jongos yang lebih tinggi derajatnya itu memenuhi penghidupannya. Hidup yang itu-itu juga, sama seperti moyang mereka dulu ketika masih menikmati dunia. Si Hadi sudah jauh meninggalkan saya yang tercecer di belakang karena tadi membeli dulu rokok di satu warung kecil di gang itu. Entah di belokan yang keberapa akhirnya sampai juga saya di ’rumah’nya si Hadi yang juga terlihat kumuh. Banyak benar buku si Hadi itu, di dalam bertumpuk-tumpuk ratusan buku yang tidak teratur sebagai kapal pecah habis dihantam gelombang besar. Si Hadi keluar dari dapur membawa dua cangkir kopi pahit selaku temen rokok untuk menemani obroran kami. Lihatlah kemudian saya dan si Hadi ngobrol panjang-lebar. Panjangnya ga ketulungan, lebarnya juga ga ketulungan. Antara sebentar lewat tukang gorengan memukul-mukul wajannya yang panas, ada juga tukang bakpao lewat di depan ’rumah’ si Hadi itu. Lingkungan gang ini memang ramai sepanjang hari.

”Mana orang-orang pergerakan itu?”, tanya saya ke si Hadi yang sedang asyik menyeruput kopi pahit.
”Ntar agak sorean mereka datangnya”, jawab si Hadi sambil menyalakan lagi rokoknya, entah batang yang keberapa.
”Maksud lu itu pergerakan apa sih?”.
Tenang dia menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menjawab ”pergerakan perbukuan bung”.
”Maksudnya gimana?”, tanya saya masih bingung.
”Manusia-manusia republik ini kan belum semuanya melek baca bung, bahkan kebanyakan dari mereka sebenarnya. Nah ada anak-anak mahasiswa yang sering main ke tempat gua ini ngajakin bikin yang namanya ’Ruang Baca’ buat rakyat”, begitu si Hadi menjelaskan.
”Oh, maksudnya bikin perpustakaan?, alaah bikin perpustakaan aja dibilang pergerakan, gua pikir macam pergerakan yang sering ditangkepin polisi itu”.
Masih tenang di menghisap rokoknya, kemudian menjawab lagi ”buat bikin perpustakaan atau ruang baca juga kan harus bergerak, mana bisa kita bikinnya sambil diam aja, mana ada buku-buku itu jatuh dari langit dengan sendirinya?!, mana bisa kita mengelolanya sambil tidur aja, kita kan harus bergerak juga!!”, berapi-api dia menjawabnya laku seorang calon gubernur berkoar-koar di depan rakyat dengan janji-janji manisnya yang menggiurkan itu, ”yang namanya pergerakan kan tidak melulu harus mengkritisi pemerintah, lalu demonstrasi, lalu ditangkepin polisi, mau bung dijeblosin ke sel?!”, timpal dia melanjutkan, sementara saya hanya manggut-manggut saja sebagai jongos kena damprat majikannya.
”Sudah capelah saya melihat manusia-manusia republik ini terus-terusan dijejali sinetron, berita kejahatan, beritan kelaparan, berita bencana alam, berita anggota dewan yang jalan-jalan ke luar negeri dan masih banyak lagi, apakah bung tidak mau bikin sebuah kegiatan alternatif buat manusia republik itu?!, apa gunanya reformasi jika hanya berita-berita itu saja yang berlaku di televisi kita?!”, kicauan si Hadi semakin panjang saja.
”Tapi kan lu tahu, manusia-manusia itu masih lapar perutnya, mana mau mereka baca buku sementara perutnya masih kencang bunyi keroncong karena lapar?!, tanya saya dengan nada menyerang.
”Kita bagi-bagi tugas bung, biar pemerintah saja yang ngurus perut mereka itu, buat apa ada pemimpin yang setiap pemilu mereka pilih jika tidak bisa kasih solusi perut lapar, nah kita bagian urus masalah melek bacanya”, jawab si Hadi ga mau kalah.
”Kan ada Departemen Pendidikan Nasional, itu kan tugas mereka, buat apa kita susah-susah bantu para beliau itu?!”.
Rokok yang entah batang keberapa dia bakar lagi, lalu kicauan terdengar lagi ”Departemen itu terlalu sibuk bung, kasian mereka harus urus berjuta-juta manusia republik ini, belum lagi urus masalah UAN yang sering bocor dan didemo di mana-mana, belum urus masalah penerimaan mahasiswa baru yang akhir-akhir ini diributkan beberapa universitas dan institut, belum urus dana BOS yang juga sering kebocoran, belum urus masalah akreditasi perguruan tinggi, belum urus masalah kualitas SDM republik ini yang semakin jauh tertinggal, nah kita bantulah beliau-beliau itu barang sedikit saja dengan bikin ruang baca itu, masa bung yang dulu pernah mengenyam bangku kuliah tidak mau bantu membikin manusia republik ini menjadi tambah pintar?!”, ya ampun si Hadi panjang begitu menjelaskannya.
”Oke, saya setuju aja kalau gitu, tapi kita mulai dari mana bergeraknya?”, tanya saya lagi.
”Nah, sekarang kita tunggu anak-anak mahasiswa itu buat rempugan sama kita buat memulai rencana itu”, jawab si Hadi agak singkat.
Kemudian tak terasa hari menjadi senja setelah itu, jongos-jongos mulai pada pulang dari kerjaannya, rahmat kerja sementara ditinggalkan, untuk dijumpai lagi esok harinya sebagai jam yang terus berputar mengelilingi waktu.

”Assalamu’alaikum”, nampak ada suara dari arah pintu.
“Wa’alaikumslam”, jawab kami serempak.
Oh, ternyata ada beberapa orang pemuda di balik pintu itu.
“Sore bang!!”, kata salah seorang yang kemudian diketahui bernama Joni.
Lima orang mereka itu. Dua orang laki-laki dan sisanya perempuan. Lalu mereka masuk, dan ciumlah ini ruangan yang tiba-tiba agak wangi dari parfum-parfum yang masih menempel di baju mereka itu, di baju anak-anak muda yang baru masuk itu. Enak benar jadi mahasiswa, masih terbeli parfum untuk mengusir bau badan yang sedang mekar itu. Parfum apa namanya, saya tidak tahu, mungkin parfum import, tapi tak usahlah kicauan saya ini sampai jauh ke masalah parfum yang wangi-wangi itu.
”Kenalin nih kawan saya dari Bogor”, kata si Hadi memperkenalkan saya kepada anak-anak muda itu. Lalu kami bersalam-salaman, laku orang habis sembahyang. Kemudian kami ambil duduk masing-masing.
”Gimana Jon rencana kita itu”, tanya si Hadi ke yang dipanggil Joni.
”Anak-anak di kampus saya sih udah banyak yang mau sumbang buku, ada sekitar sepuluh orang mau kasih bukunya ke kita”, jawabnya menjelaskan.
Si Hadi masih merokok, asapnya melingkar-lingkar di udara, bibir telah hitam terbakar nikotin dan tar.
”Buku apa aja yang mau disumbangkan teman-temanmu itu?”, tanya si Hadi.
”Banyak sih bang, ada sastra, politik, agama, sosial, tapi ga ada buku arsitek”, jawab si Joni.
”Kalau saya punya buku-buku ’merah’ terbitan penerbit Yogya”, kata perempuan yang belakangan diketahui bernama Riani.
Kemudian anak-anak muda yang lainnya mengabsen buku-buku yang sudah mereka miliki, dan setelah dijumlah ternyata sudah terkumpul sekitar 900-an buku dari berbagai disiplin ilmu. Dan kemudian ditentukan pula bahwa tempat menampung semua buku itu adalah di daerah Depok, di rumahnya salah seorang dari lima mahasiswa itu, bukan di rumahnya si Joni, bukan pula di rumahnya Riani. Selain karena tidak usah bayar sewa, penentuan tempat itu karena memang tidak ada lagi tempat yang cocok untuk bisa menampung ratusan buku itu. Sempat juga tadinya mau bikin di daerah Kemang, tapi ga jadi karena Kemang itu adalah daerah bisnis yang harga sewanya mahal, bukan tempat untuk kegiatan sosial para pengangguran dan mahasiswa, lagi pula di sana sudah ada ’Aksara’, jadi tak usahlah dibikin lagi tempat penampungan buku. Si Hadi berlain-lainan pula pendapatanya, tadinya dia mengusulkan untuk bikin ruang baca itu di ’rumah’nya saja, tapi karena ’rumah’nya sudah pada bocor, jadi dikhawatirkan akan merusak buku, maka tidak diterima usul itu.

Dan dari tujuh orang yang berkumpul itu, dari tujuh batok kepala itu ternyata berlain-lainan pula rencana idenya, alangkah manusia itu mempunyai jalan pikirannya yang beragam, antara satu orang dengan yang lainnya tidaklah sama lintasan pikirannya, bahkan dalam satu pasangan Presiden dengan wakilnya pun pastilah punya pikiran masing-masing yang berlain-lainan pula, punya kepentingan partai masing-masing yang berbeda, punya ambisi politik yang berbeda pula, punya agenda kekuasaan yang pasti berlainan pula. Alangkah susahnya menyatukan kepentingan manusia itu, lalu apa jadinya jika ratusan manusia digabungkan dalam satu rapat raksasa?, apa jadinya rapat di Senayan itu?, tempat anggota-anggota dewan banyak berkoar dengan mengatasnamakan rakyat, padahal untuk kepentingan pribadi dan partainya itu?, gedung DPR tak ubahnya sebagai kancah perang, tempat bejibun kepentingan partai saling bertabrakan, sementara rakyat republik ribut ngantri sembako di pasar-pasar yang becek dan kotor, inikah hasil pemilu itu?. Tapi janganlah saya perpanjang kicauan saya ini, sudah cukup jauh dari perbincangan buku tadi.

Ruangan itu, ruangan tempat buku-buku tadi ditampung itu adalah ruang semacam paviliun rumah yang cukup luas, berjendela besar dan mempunyai penerangan yang cukup karena sinar matahari bisa leluasa masuk, dan satu lagi adalah berpekarangan besar dan teduh. Andini, mahasiswi itu namanya. Bapaknya adalah seorang dosen universitas di Bandung. Maka karena bapaknya seorang akademisi, rencana ruang baca itu pun jadi mulus saja dilaksanakan. Bapaknya pikir kawan-kawan si Andini itu adalah mahasiswa semua, padahal ada juga para pengangguran macan saya sama si Hadi itu. Pengangguran yang yang baru terlepas dari rahmat kerjanya, baru melepas jabatan jongosnya. Dan ruang baca itu ternyata banyak juga pengunjungnya, tapi kebanyakan adalah mahasiswa, terutama kawan-kawan si Andini. Rakyat yang kebanyakan malas baca itu, ternyata jarang datang ke sana, ke ruang baca itu, mereka benar-benar disibukkan dengan pemenuhan kepentingan perut, pemenuhan kepentingan hidup yang semakin membelit. Baru-baru ini di koran-koran mennyebarkan berita tentang kerusuhan di Surabaya. Apa pasal ujung pangkalnya kerusuhan itu?, ternyata masih kata koran-koran itu adalah karena penertiban pedagang kaki lima yang tidak mau digusur tibum. Sementara di Jakarta demonstrasi mahasiswa terjadi di mana-mana menuntut penurunan harga-harga yang kian melambung, padahal menurunkan harga-harga, kata pak Menteri tidak semudah berteriak di megaphone, tidak semudah membakar marka jalan, tidak semudah memakai jas almamater, tidak semudah rapat-rapat di kampus, tidak semudah nyanyi-nyanyi bertemakan perlawanan, tidak semudah bersumpah serapah kepada pemerintah, begitu katanya. Penurunan harga memerlukan perencanaan yang matang katanya. Saya tahu itu dari acara di televisi swasta jam 12 malam.

Akhir-akhir ini mahasiswa seperti dituntut untuk mempunyai musuh. Dan musuh yang paling populer adalah pemerintah atau para pengusaha yang sok kaya. Di kampus-kampus itu sepertinya sengaja dihembuskan angin perlawanan, disebarkan isu-isu yang ’membakar’, selain itu didoktrin juga tentang bagaimana caranya menikmati hidup. Maka terpecahlah konsentrasi mahasiswa itu, terbelah juga komunitas dan perkumpulannya sebagai parta-partai politik yang menjamur. Ada yang sibuk demonstrasi, ada yang sibuk rapat semalam suntuk, entah membicarakan apa, dan ada juga yang sibuk bersenang-senang di dugem atau tempat kost-kostan untuk berbiak menjadi keluarga kecil-kecilan tanpa ada anak, tanpa ada pernikahan. Aneh-aneh saja laku anak-anak muda itu. Tapi ada juga yang rajin belajar sampai permukaan kepalanya licin sebagai lapangan golf yang luas, atau kacamatanya menjadi semakin tebal sebagai toples buat kue-kue lebaran. Dan anak-anak muda kawannya si Hadi itu, juga adalah mereka yang suka demonstrasi di jalanan ketika matahari bersinar terik. Sempat pula mereka melempar telor busuk di Senayan ke tempat para anggota dewan bersemayam. Darah mereka sebagai air yang bergelora dan berarus deras, menghentak-hentak ubun-ubunnya untuk banyak berteriak dan banyak bergerak. Sampai pada suatu hari yang hangat saya dapati mereka itu, semuanya tewas di hantam peluru panas ketika demonstrasi di jembatan Semanggi. Ya, mereka kelima-limanya mampus dengan timah bersarang di dadanya. Lalu yang mengelola ruang baca itu tinggal saya sama si Hadi yang pengangguran itu. Lama-lama tidak betah juga saya menjadi pengangguran, lalu pamit pada si Hadi mau pergi ke Bandung, mau menjadi jongos di sana. Menjadikan dia tinggal sendirian mengelola ruang baca itu, dan itu cukup menyulitkannya.

Selang satu tahun setelah kepergian saya ke Bandung, saya dengar kabar bahwa si Hadi pun telah pergi meninggalkan ruang baca itu, pergi entah kemana, dan yang meneruskannya adalah mahasiswa-mahasiswa yang sering main ke sana. Para mahasiswa itu, para calon jongos itu bergiat mengelolanya, sambil belajar mereka juga melakukan perbaikan sistem pengelolaannya. Sementara mereka sibuk mengurus buku, saya di Bandung sibuk menelan rahmat kerja yang diberikan Tuhan, semenjak pagi masih dingin sampai sore mulai gelap saya bersibuk diri di kantor, menghitung-hitung uang punya orang lain, untuk kemudian dapat salary dalam akhir bulan laku jongos kebanyakan. Begitu saja dari hari ke hari sebagai matahari yang datang dan pergi membakar bumi. Dan si Hadi ternyata masih ada di Jakarta, sudah jadi jongos juga rupanya dia itu. Di perusahaan milik keturunan Tionghoa dia bekerja, mengabdikan dirinya menjadi seorang jongos sampai ke bulu-bulunya. Sejak itu kami tidak pernah lagi menikmati kue pancong bersama-sama, karena memang masing-masing sibuk dengan pekerjaannya, sibuk dengan kejongosannya. Lagi pula di Bandung tidak ada itu kue pancong, yang ada hanya pisang molen dan kue gosong yang mulai terkenal itu.

Sekarang setiap sore, saya duduk di lantai tiga kost-an menikmati matahari terbenam di barat sambil melepaskan lelah setelah seharian habis terkuras di depan layar komputer. Pekerjaan yang sepertinya gagah itu ternyata sama saja prinsipnya, mengabdikan tenaga dan pikiran kepada orang lain. Dan harus seperti itulah manusia berlaku di dunia ini, ada yang memerintah dan ada yang diperintah, posisinya saja yang berlain-lainan sebagai posisi dalam olahraga sepak bola. Dan kebanyakan dari kita adalah yang diperintah, yang selalu ada dalam posisi telunjuk tuan mengarah ke dada kita. Kicauan saya ini tidak akan saya teruskan, karena hari sudah mulai gelap, saya harus cepat tidur, karena besok harus bergiat lagi pergi ke kantor, menelan semesta job desk dan perintah. Harus menjelma lagi menjadi jongos yang tampak gagah itu. Dan udara menjadi gelap dan dingin. Udara semakin dingin. [ ]

-Tamat-

Uwa
April ’08

Gardu FM

Dalam sebuah MP4 yang sering dipakai anak-anak muda itu, selain fasilitas musik juga ternyata ada media untuk merekam, recorder namanya, dan ini tidak aneh, kecuali bagi yang gaptek macam saya ini. Di sini, di alat rekam ini kita bisa dan boleh banyak omong. Ngomong apa saja, bebas. Macam para penyiar radio itu, maka saya dan beberapa kawan yang pengangguran itu suatu hari bikin acara rekaman, meniru-niru acara di radio, dan saya sama si Joni jadi penyiarnya, sementara yang lain hanya jadi crew dan operator saja. Asyik juga ternyata banyak omong itu. Ngelantur kemana-mana dan yang terpenting adalah tidak ada yang melarang. Alangkah enaknya banyak bicara, apalagi kalau tidak ada yang mencela. ”Radio” tempat kami rekaman itu bernama ’Gardu FM’, kenapa namanya begitu?, biar berasa merakyat kata si Joni. Merakyat bagaimana?, rakyat yang suka ngelantur mungkin, mirip para pemimpinnya juga mungkin. Lama-lama tulisan saya ini mirip Departemen Kemungkinan, tapi biarin, yang penting menulis terus.

Berbicara, mengungkapkan segala hal yang menumpuk di semesta diri adalah salah satu jalan. Jalan menuju kesenangan, jalan menuju kebebasan, makanya timbul undang-undang yang melindungi itu, pasal berapa saya sudah tidak ingat, penataran P4 bolos dua hari dari total tiga hari pelaksanaan, makanya begitu. Rata-rata orang yang berbicara itu adalah ingin didengar, itu data dari Departemen Kemungkinan. Makanya suka dicari yang namanya ’pendengar yang baik’, padahal mendengarkan itu tidak seenak berbicara, apalagi kalau yang dibicarakannya adalah tentang patah hati, seolah-olah hati itu mirip jembatan yang terbuat dari kayu, sehingga bisa patah-patah. Tapi begitulah manusia, semuanya ingin didengar, diperhatikan, disayangi, dilindungi dan dimengerti macam pelajaran fisika yang pusing itu.

Berbicara adakalanya dua arah, maka terjadilah dialog. Kalau tidak ada kecocokan maka akan terjadi debat, saling mempertahankan pendapat. Lalu kemudian terjadi monolog, nggeremeng, berbicara sendiri dan ini lebih menentramkan.

Ternyata tidak selamanya omongan kita itu bakal didengarkan orang lain. Kita tidak selamanya akan diperhatikan dan dimengerti oleh orang lain, karena orang lain pun punya harapan yang sama seperti kita, juga punya kepentingan yang sama, maka ketika dua kepentingan bertemu terjadilah gernaha, dan itu membuat suasana menjadi gelap. Oleh karena itu daripada gelap dan tidak jelas, lebih baik jangan mendengar saja, tidak usah memperhatikan saja, tidak usah mencoba mengerti saja, dan ini adalah laku para pemimpin kita itu. Aduh, kenapa saya menyebut para pemimpin itu terus?.

Ketika semua omongan, aspirasi, keinginan dan harapan tidak ada yang merespon, maka berbicara sendiri adalah jalan terbaik. Bermonolog terkadang menjadi aktivitas membebaskan. Itulah yang kami lakukan di ’Gardu FM’. [ ]

Uwa
April ’08

(Diposting tanpa persetujuan siapa-siapa,
karena saya bukan siapa-siapa, kamu siapa?, kenapa kesini?)

Ruang


Setelah melewati pintu tol Padalarang Barat, maka jalan tol itu akan bercabang. Yang satu adalah lurus menandakan terus menuju Bandung, dan yang yang satu lagi akan belok ke kiri, ke arah Padalarang lalu akan menuju Cianjur, Sukabumi dan sekitarnya. Tidak jauh dari pintu tol Padalarang (Padalarang saja, tidak pakai barat. Tolong kamu mengerti, karena saya sulit menjelaskannya bagi yang tidak pernah ke sana), maka akan kamu temui gerbang sebuah kota baru yang kelihatannya menyenangkan, dialah itu Kota Baru Parahyangan namanya. Dari gerbang menuju komplek perumahan jaraknya cukup jauh, sehingga akan terasa lelah jika kamu berjalan kaki. Lingkungannya bersih dan bagus, layaknya komplek-komplek kota baru pada umumnya. Di sana manusia punya lingkungannya sendiri yang berbeda dari lingkungan manusia lain. Keamanan mungkin sangat terjamin di sana, berbeda dengan lingkungan manusia lain. Kini semakin banyak saja hunian-hunian macam begitu. Di Bandung, di Jakarta, di mana-mana. Manusia sudah maju rupanya.

Di hunian-hunian macam begitu, manusia punya ruang publik yang nyaman dan menentramkan. Ada taman, mesjid, rumah sakit, gereja, sekolah dan lain sebagainya. Hampir semua ruang publik tersebut terasa bersih dan aman. Ini cukup berbeda dengan kondisi ruang publik sebagian besar manusia yang lain. Padahal fungsinya sama. Sama-sama ruang untuk berinteraksi satu individu dengan individu yang lain. Lihatlah terminal, stasion, taman kota, bandara, alun-alun, toilet umum, halte, bis kota dan lain sebagainya itu, tempat kita bertemu dengan manusia lain itu, hampir semuanya adalah tempat yang menegangkan, tempat yang menuntut kewaspadaan yang tinggi, layaknya seperti labolatorium sosial tempat homo momini lupus saling menerkam. Apakah hal ini terjadi karena hierarki kekayaan? Atau karena hierarki level pendidikan? Atau karena tingkat keimanan? Atau karena memang harus seperti itu?

Sebagian besar dari kita bisa membuang sampah pada tempatnya jika berada di rumah sendiri, di kamar sendiri. Bisa menyemprotkan pilok pada tempatnya jika sedang berada di rumah sendiri. Bisa merasa nyaman jika di rumah sendiri. Bisa membersihkan toilet jika di toilet rumah sendiri. Tapi tidak begitu jika sedang berada di ruang publik. Seolah-olah yang ada di luar itu adalah bukan milik kita. Maka kita pun berlomba pasang pagar tinggi. Berlomba pelihara anjing penjaga rumah. Berlomba mempercantik diri dengan tidak peduli dengan kecantikan umum. Seolah-olah yang berada di luar pagar itu adalah segala hal tentang kejahatan, segala hal tentang pemicu stress, segala hal tentang keruwetan. Ini mungkin bukan masalah kekayaan, bukan masalah level pendidikan, bukan juga masalah keimanan, tapi mungkin masalah mental. Kita mungkin terlalu saling mengandalkan, yang akhirnya bukan solusi yang timbul tapi masalah yang tak kunjung selesai.

Saya jadi teringat pada sebuah cerita zaman dulu. Ini mungkin bisa menggambarkan keadaan kita sekarang :

”Suatu hari raja di negeri antah berantah memerintahkan kepada seluruh rakyatnya, untuk membawa sesendok madu ke atas sebuh bukit, untuk dituangkan di tempayan yang telah disediakan oleh raja tersebut. Madu tersebut harus di bawa pada tengah malam ketika gelap tengah menguasai. Maka ada seorang penduduk yang berpikiran licik ; dia akan mengganti madu tersebut dengan sesendok air, dia berpikiran bahwa sesendok air tidak akan mempengaruhi ribuan sendok madu dari penduduk lain, lagi pula tengah malam, maka tidak akan ada orang yang melihat, begitu pikirnya. Tapi ternyata semua penduduk tersebut berpikiran sama dengan dia, sehingga esok harinya tempayan raja itu penuh dengan air bukan madu”.

Pada beberapa sektor kehidupan, manusia Indonesia telah maju, tapi belum untuk hal yang satu ini. Dan ternyata saya orang Indonesia. [irf]

Uwa,
April ’08

(Diposting tanpa persetujuan siapa-siapa,
karena saya bukan siapa-siapa, kamu siapa? Kenapa ke sini?)

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai