09 December 2007

Perempuan Wangihujan

Menjejakkan kaki di Bandung, menghirup udaranya dan menikmati semesta kotanya selalu membuatku enggan beranjak. Apalagi kalau hujan. Air yang tumpah dari langit jatuh ke daun lalu diserap akar, semakin membuat kota itu lembab. Hujan selalu saja begitu. Hujan selalu membuatku rindu untuk mendengarkan air beradu dengan bumi.

Seperti pada hujan, begitu juga padamu. Aku rindu. Maka kamu adalah perempuan wangihujan. Jangan protes ya. Sebab kalau protes kecantikanmu tak tertampung. Terlalu cantik soalnya. Tapi kalau kamu mau bilang ini hanya sebuah rayuan, boleh saja. Karena aku lebih senang menyebutnya kejujuran. Dan aku rasa kejujuran dimana-mana sama. Tak menghitamkan yang putih, juga tidak memutihkan yang hitam.

Menikmati Bandung, duduk di atas lantai 3 kost-an, melihat lampu kelap-kelip di utara sambil sesekali menghirup kopi panas menghadirkan satu nuansa. Sayang, kamu perempuan wangihujan tidak ada.

Menikmati Bandung, berjalan di Purnawarman lalu melahap buku di Gramedia adalah sebuah citarasa. Sayang, kamu perempuan wangihujan tidak ada.

Menikmati Bandung, memanjakan tubuh dengan dinginnya udara di Lembang dan Dago atas selalu membuatku ingin kembali. Sayang, kamu perempuan wangihujan tidak ada.

Menikmati Bandung, nonton di ruangan berpendingin, makan di kakilima, berteduh di taman kota atau sesekali larut di Gazebo pada minggu pagi adalah kesenangan tersembunyi. Sayang, kamu perempuan wangihujan tidak ada.

Dan ketiadaan selalu menyisakan kerinduan. Apalagi Jarak. Dan aku harus bersiasat. Ini hanya masalah strategi. Dimana-mana hidup perlu kerja keras. Lalu aku sadar bahwa aku bisa sedikit menulis. Maka bekerja keraslah aku menulis untuk menepis rindu itu. Aku yakin menulis bisa mengurangi tensinya.

Dan aku yakin ketika aku menulis, kamu perempuan wangihujan masih di situ, di tempat tidurmu. Duduk atau terbaring. Seperti Dee, aku juga iri pada baju tidurmu, handukmu, bantal, seprai apalagi guling. Stop. Aku tak kuat membayangkannya.

Maka kalau malam ini aku mimpi, aku ingin mimpi tidur di sebelahmu. Dan ketika wajah kita berhadapan, pasti aku tak tahan. Tak usah bicara, diam saja. Aku pasti beku.

Atau jika itu tak mungkin, aku ingin mimpi memegang tanganmu. Ada sensasi aneh saat kulit kita bersentuhan. Darahku dan mungkin juga darahmu terasa berdesir. Ada segenggam kenyamanan di situ. Aku bisa merasakan denyut nadimu.

Aku mencintaimu, sangat.....[Published ]

2 comments:

laila said...

membacanya membuatku menangis...

Irfan Teguh said...

jangan menangis saya ga punya tisue..

Kang Ajip Sakolébatan…