09 December 2007

Otokritik

Kata orang-orang hidup adalah sebuah garis yang memanjang dan berakhir pada sebuah ujung. Kalau terus dijalani akan kita dapati garis itu tidak akan pernah kembali pada titik awal. Dia tidak seperti tiket pergi yang akan selalu dibarengi dengan tiket pulang. One way ticket, begitu kata seorang kawan. Orang-orang yang terjerumus pada dunia gelap narkoba, sering diibaratkan pada kondisi ini, artinya mereka tidak bisa atau sangat sulit untuk kembali pada kehidupan mula-mula yang normal. Tapi jika kita renungkan, sebenarnya semua peristiwa selalu begitu, selalu tidak bisa diulang, karena waktu tidak berjalan mundur. Yang ada hanyalah pengulangan kejadian dengan ruang waktu yang berbeda. Jadi penyesalan adalah hanya sebuah konsep rasa yang tidak akan mengubah kejadian dibelakang. Dia menjadi berguna hanya jika perjalanan ke depan menjadi lebih baik dari pada yang telah dialami. Begitulah waktu, dia ajeg, kukuh dengan perjalanannya.

Setiap kita pasti punya ujung pemberhentiannya masing-masing, karena setiap kita punya takdir kematiannya juga, entah kapan. Dengan ketidaktahuan yang sangat itu, terkadang kita masih bisa bermain-main dengan waktu. Dengan misteri Tuhan. Sisa jatah hidup itu sering kita lupakan, sebelum akhirnya waktu itu benar-benar datang dan mengingatkan kita. Setiap kita memang begitu. Aku, kamu, kalian dan orang-orang itu memang tak berdaya dengan segala pesona hidup. Pesona yang nikmatnya kita rasakan berbeda-beda. Konsep dosa dan kebajikan sudah terlalu asing buat kita bicarakan dalam medan hidup yang luas, dia hanya sebatas ritual yang kita jadikan sesuatu yang sacral. Sebatas garis vertical hubungan kita dengan Tuhan. Padahal masih kata orang-orang dia itu hadir dalam setiap denyut kehidupan. Dia vertikal sekaligus horizontal. Dia pribadi sekaligus sosial. Dia kontemplasi sekaligus interaksi.

Komitmen memang tidak sebatas dengan Tuhan, tapi juga dengan manusia. Dan komitmen seharusnya tidak kembali pada garis awal ketika komitmen itu belum diikrarkan. Dia harus terus hidup sampai kita tidak lagi hidup. Begitu idealnya. Dan kita selalu berkata : bahwa sangat sulit untuk berada pada kondisi ideal, semacam sikap kalah sebelum berperang. Dan karena kita sepakat bahwa tidak ada kondisi ideal, maka komitmen itu kita ikrarkan untuk kita langgar sendiri. Kemudian konsep selalu butuh visualisasi untuk penggambaran.

Dan inilah visualisasi itu : Wakil rakyat dipilih untuk mengkhianati rakyat, mereka entah mewakili siapa?. Pernikahan dilaksanakan untuk mengkhianati janji masing-masing, suami-istri entah berjanji kepada siapa?. Setiap hari kita bersaksi pada Tuhan dan setiap hari juga kita tidak merasa, bahwa Tuhan tengah menyaksikan, kita entah bersaksi kepada siapa?. Dan kita tidak terganggu dengan itu semua, karena kita sudah sepakat bahwa hidup tidak ada yang ideal. Dan kita berlindung dibalik itu. Sebuah tempat berlindung yang sesungguhnya rapuh. Terus saja begitu. Sementara garis yang memanjang yang tengah kita jalani ini semakin mendekati titik akhir. Kita takkan pernah ingat sebelum titik akhir itu mengingatkan. Dan kita ingat setelah segalanya terlambat. [ ]

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai