03 November 2007

Mandi

Waktu dia datang, aku seperti biasa tengah duduk di bangku kamarku. Tak ketinggalan sebatang rokok tengah aku hisap. Duduk, menghabiskan waktu sambil merenung, menerawang masa depan menjadi kebiasaan setelah masa kuliah itu. Dan ketika dia mengulang kegiatan itu, dia datang. Selembar senyum khas menyapaku. Dan dia tak berubah. Tetap kurus dan dibalut kulit legam. Sorot matanya tetap seperti dulu, dalam dan berisi, lalu terjadilah pecahnya kerinduan, aku dan dia berangkulan. Menyatukan kembali emosi yang sempat terpisah. Lalu tenggelamlah dalam dialog nilai. Dialog yang sejak dulu sering kami lakukan. Dialog tentang perjuangan, nilai hidup, ideologi, cinta sampai perjuangan menggapai materi. Dialog itu selalu panjang dan hening. Tidak meledak-ledak. Hening, senyap tapi padat. Dua hari dua malam kami mereguk habis segala pembicaraan.

Sampai detik ketika dia harus kembali lagi kepada setapak kecilnya. Setapak kecil yang harus dilaluinya, karena dia telah memilihnya. Sementara aku dihadapkan kembali pada kenyataan yang telah lama menawanku. Kenyataan pahit, mungkin lebih pahit daripada yang dia alami. Aku kembali menjalani hari-hari kosongku dengan langkah tanpa orientasi yang jelas. Hidup tanpa jeda, karena waktu menjadi sangat lama. Lama menunggu kepastian arah. Dan ketika ketika aku menantinya, maka hidup menjadi cepat. Jam seperti kehilangan rem. Semua bergerak sangat cepat. Roda-roda waktu berputar saling menyalip. Sementara orang-orang berlomba saling mendahului keberuntungan. Meninggalkanku yang tercecer di belakang.

Aku dan dia sama-sama tengah sakit keadaan. Waktu belum bergulir ke arah yang kami inginkan. Aku masih di sini. Di tempurungku yang sempit , pengap dan penuh asap. Sementara dia, dengan kondisi belum memenuhi syarat administrasi, harus menyelesaikan akademiknya yang sebenarnya tidak dia harapkan. Sebenarnya dia lebih ingin di sana. Berdiri, berjalan, bernafas dan menyatu dengan alam. Tapi karena sebagian relasi terdekatnya menginginkan hal ini, maka ditempuhlah kenyataan hambar ini. Dia masih beruntung. Setidaknya masih punya pilihan dan masih bisa memilih. Karena kemampuan memilih, walau bagaimanapun dapat mengurangi rasa penat yang memayungi diri.

Dua hari dua malam dia berada di sini. Sebentar memang. Tapi cukup memberikan sedikit ledakan. Ledakan yang membuatku kembali menata ulang selembar peta kehidupan. Khas. Dia memang selalu begitu. Selalu menyodorkan pandangan-pandangan tajamnya. Walaupun memang terkadang terlalu tajam. Dan beberapa saat sebelum dia pergi, dia sempat juga mandi. Sebuah aktivitas langka, setidaknya ketika dia kuliah dulu. Mandi, membersihkan daki dan debu-debu kehidupan yang setiap saat beterbangan. Membedaki muka, menyumbat pernafasan, menggimbalkan rambut, memerihkan mata, membebalkan hati, berdamai dengan sistem, mengaburkan pandangan sekaligus jarak pandang.

Mandi. Memang itu yang harus dilakukan. Menghadirkan kembali kenormalan, agar daki dan debu tidak melembaga dalam fikiran dan jiwa. Dan mandi memang bukan hanya hak badan saja, kerena yang terpenting adalah membersihkan yang di dalam, yang selalu bolak-balik pada kebenaran dan kesalahan, dan itulah kalbu. Dan kewajiban mandi yang kedua menjadi gugur apabila kita tak punya hati. [Published]

Jalan Jurig Jarian

“Buat apa susah-susah bikin skripsi sendiri
Sebab ijazah bagai lampu kristal yang mewah
Ada di ruang tamu hiasan lambang gengsi
Tinggal membeli tenang sajalah.....”

”Traaakh...”, tombol play itu berdiri. Menghentikan musisi kritikus yang tengah bernyanyi, atau tengah sakit gigi.

”Ngapain lu matiin?!”, Joko tidak terima.

”Lu gak tersinggung sama lirik itu?!”.

”Tersinggung?!, sejak kapan lu jadi sensitif?!”

”Sejak gua kuliah!”

”Ah, basi lu!!”, Joko memijit kembali tombol play. Mempersilakan musisi kritikus meneruskan teriakan sakit giginya.

”Eh, lu denger gak sih liriknya?!”

”Iya gua denger, terus kenapa?!”, Joko mulai bereaksi. Reaksi seperti siap untuk konfrontasi.

”Lu merasa dihina gak sih?!”

”Maksud lu?!”, Joko menurunkan tensinya.

”Gua tahu, lu gak bakalan kayak orang di lirik itu, tapi masa kaum kita disudutkan lu masih terima sih?!”

Joko tak menjawab, dia malah melihat jam tangannya. Sebuah bahasa tubuh yang tak dimengerti lawan bicaranya.

”Lu masuk jam tujuh kan?, udah lewat lima belas menit tuh, ntar lu telat lagi!”, akhirnya bahasa tubuh itu berujung pada pengusiran lawan bicaranya.

Di ujung kamar, lawan bicaranya itu masih sempat berkomentar, ”lu gak peka Jok!!”

”Lu plagiator ya?!”, setengah berteriak Joko memuntahkan kalimat yang terasa pedas di kuping lawan bicaranya, padahal lawan bicaranya itu telah empat langkah meninggalkan kamar Joko.

Tombol play tidak ada lagi yang mengganggu. Musisi kritikus merdeka. Sakit giginya memasuki stadium II.

Lalu Joko bergegas mandi. Parade kotoran yang bersemayam di badan kurusnya dia sweeping dan buang. Lalu busa sabun menjadi tidak putih. Krem. Berlomba menuju lubang pembuangan.

Dan kini tersisalah tubuh kurus di depan cermin. Sambil bersiul, dia menyisir rambutnya. Merapikan setiap centi penampilannya. Hari ini Joko bimbingan skripsi.

***

Pagi itu seperti biasa, Jaja membereskan dagangannya. Di jalan Jurig Jarian dia berdagang. Tumpukan buku dan karya ilmiah minta dirapikan, karena sebentar lagi para pembeli akan datang. Berduyun-duyung, tawar-menawar, transaksi, memberinya rezeki dan memudahkan para pembelinya.

Berangkat dari desa kecil dan hanya menamatkan S dua kali, Jaja merasa pekerjaannya sekarang telah lebih dari cukup untuk menjadi kompensasi dari perjuangannya.

”Mau kerja apa lagi, orang saya cuma lulusan SD sama SMP aja kok!”, begitu jawabnya ketika tetangganya sedikit mengkritik mata pencahariannya itu.

”Yang penting halal, iya toh?!”, Jaja melanjutkan argumentasinya.

”Iya, tapi pekerjaanmu itu melanggar kode etik pendidikan!”

”Alaaah..., mau kode etik pendidikan kek, mau politik kek, saya mah gak ngerti, yang penting mah dapur mesti terus ngebul, biar anak istri saya bisa terus hidup. Lagian yang yang melanggar kode etik kan mereka, bukan saya?!”, Jaja mengeluarkan kata-kata proletar, seperti seorang sosialis yang tengah orasi dengan menjinjing perut korong rakyat atau menuntun seorang anak busung lapar.

”Ya, terserah kamulah!”, tetangganya pergi. Seperti orang kalah perang. Kalah oleh tentara jajahannya. TKO!!.

Dan hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, Jaja kedatangan anak-anak itu. Anak-anak yang sering mengingatkannya pada cita-cita lama yang telah ditimbunnya. Anak-anak yang menyambung hidup keluarganya. Anak-anak yang sering Jaja lihat di jalanan. Meneriakkan aspirasi, membakar kulitnya di bawah terik mentari, memperjuangkan idealisme. Bersama....mereka mengusung daya kritis, intelektual, cita-cita dan harapan. Barikade tentara dan polisi hanyalah hambatan kecil bagi gelombang besar mereka.

Mereka...bergulung, bergemuruh, merontokkan dinding-dinding kekuasaan. Dan mari sekarang kita hiperbola lagi keadaan yang telah hiperbnola itu. Bahkan tembok raksasa Cina pun bisa diruntuhkan sepertinya.

Di tengah kondisi yang bergemuruh itu, Jaja tampil sebagai sang penakluk. Gelombang besar itu tunduk di kiosnya. Segala idealisme diistirahatkan di sana. Titik masa depan telah menggoda gelombang besar itu untuk menggadaikan nama besarnya. Aristokrat mungkin ada, tapi hanya menghiasi dinding luar saja.

”Jurusan apa mas?”, Jaja mencoba mencari tahu identitas si pembeli untuk memudahkan pencariannya,

”Sastra Iblis”

”Ini Mas, ada yang terbaru tahun 2004”

Si pembeli membolak-balik barang itu. Membaca judulnya berulang-ulang.

”Yang lain deh, judulnya gak enak”

Jaja pergi lagi kederetan Sastra Iblis, lalu mengambil tiga buah.

”Yang ini berapa duit?”

”Biasa, enem lima”, Jaja menekankan harga familiar.

”Gak bisa kurang bang?, kata anak-anak biasanya gocap”

”Paling kurang goceng”

”Gocap aja deh, ya?!”

”Lima..lima deh!”, Jaja menawarkan harga tengah.

”Gocap!”

”Udah habis segitu”

Si pembeli kembali membolak-balik barang. Membaca selintas karya ilmiah Sastra Iblis itu. Lalu merogoh kantong dan menghentikan tawar-menawar. Kemudian pergi ke rental komputer, membayar masa depannya. Tanpa bekerja sedikit pun. Kalau pun kerja, paling hanya tawar-menawar harga, tenaganya habis buat demonstrasi.

”Mas, tahun sama judulnya sesuaikan aja, ya!”, instruksi pertama untuk kuli ketik

”Isinya plek sama?”, kuli ketik bertanya.

”Ya..., modif sedikit aja!”, instruksi kedua datang.

”Oke”, kuli ketik faham.

”Ntar sisanya pas gua ambil, ya!”

”Oke”, kuli ketik faham lagi.

Beberapa lembar uang pecahan 10.000 rupiah pindah ke tangan si kuli ketik.

Si pembeli jasa pergi ke kost-an, meninggalkan ketikan masa depannya. Apa pun bisa dibeli. Sistem pasar telah merekontruksi peta pemikirannya. ”Anda butuh uang, saya butuh barang”. Bukankah itu hukum ekonomi yang paling klasik?. Kenapa harus dipermasalahkan?. Bukankah bayangan masa depan sama dengan tiket masuk PTN?. Bisa dibeli. Bisa pakai joki. Apa bedanya beli skripsi, tesis dan disertasi dengan beli terasi?. Tinggal menjentikkan jari, semua bisa diatasi.

Calon pembeli kedua datang. Memilih-milih buku tua. Diambil satu, dibuka lalu disimpan lagi. Ambil satu lagi, dibuka lagi dan disimpan lagi. Pada buku ke-empat, calon pembeli tampak melayangkan pandangan ke seluruh pojok kios. Seperti ada yang dicari.

Jaja menangkap keinginan calon pembeli. Sigap dia ke rak tesis dan mengambilnya tiga buah.

”Nyari ini, mas?”, Jaja mencoba menghentikan pandangan selidik calon pembelinya.

Tesis pertama dilihat sebentar, lalu disimpan. Tesis kedua nasibnya tak jauh beda dengan yang pertama. Yang ketiga lebih sial. Tak disentuh, hanya dilirik saja.

”Ada judul yang lain, bang?”

”Saudara ngambil jurusan apa?”

”Teknik Menangkap Tuyul”

”Sebentar...”

Jaja menuju rak dan mengambil koleksi tesis jurusan Teknik Menangkap Tuyul.

”Ini mas...bagus kayaknya?”

”Wah...buleh juga nih, berapa duit?”

”Cepe”

Si pembeli mengeluarkan dompet dan mengambil uang pecahan 100.000 rupiah satu lembar. Di dompetnya terlihat malu-malu sebuah kartu tanda mahasiswa. Dan di KTM itu fotonya tersenyum cerah. Penuh harapan. Dan dia tidak menutupi mukanya.

”Makasih bang!”

”Yoo...sama-sama!”, Jaja mengibas-ngibaskan uang 100.000 itu. Matahari belum terlalu tinggi. Dia telah mengantongi 155.000 rupiah.

***

Perburuan Pertama :

Telah hampir dua jam Joko duduk di situ. Di ruang tunggu Pembantu Rektor Bidang Pemberdayaan Mahasiswa Ripuh. Purek yang sekaligus dosen pembimbingnya itu sibuk rapat meskipun saat yang dijanjikan telah dua jam berlalu. Waktu yang kelam perlahan seperti membunuhnya. Tik-tak-tik-tak, suara jarum jam menjadi mengerikan. Dan sesekali ucapan : ”sebentar ya de, bapaknya masih rapat”. Mau rokok susah. Masa di ruang Pembantu Rektor merokok?. Apa gak kurang sopan?. Ah...#@$%^&*, Joko mengutuki feodalisme di kampusnya.

Menunggu telah memasuki jam ketiga. Hari itu bimbingan gagal. Dosennya yang Purek itu langsung pulang. Lelah, dibantai rapat panjang.

Perburuan kedua sekaligus terakhir :

”Oke Jok, saya tunggu pukul tiga sore di ruanagan saya!”

”Makasih Pak”

”Ya, sama-sama”

Klik, telpon ditutup. Pak pembimbing melihat jadwal kuliah. Kurikulum Doktor menghilangkan selera makannya. Lama dia duduk termenung sebelum akhirnya bergegas menyambar kunci mobil dan melaju meninggalkan kampus. Rapat dengan pembantu rektor se-kota Siluman Raya telah menunggunya.

Sementara Joko lega, jadwal bimbingan sepertinya tak terganggu lagi.

Bertemu dengan dosen pembimbing seperti menangkap asap. Nyata terlihat, tapi susah ditangkap. Mendingan seperti kentut, walaupun tak terlihat, tapi nyata, dapat dirasakan kehadirannya.

Dan sore itu Joko berharap bertemu kentut, bukannya melihat asap. Tapi sial, harapan tinggal harapan. Jangankan bertemu kentut, melihat asap saja tidak. Sampai jam setengah enam sore asap belum pulang ke kampus. Masih terlibat rapat alot dengan komunitas Purek se-kota Siluman Raya.

***

Sebelas hari setelah gagal menangkap asap, Joko tak pernah lagi menghubunginya. Dia terus saja mengerjakan skripsinya tanpa pembimbing. Mengejar deadline yang tinggal dua minggu lagi. Asap pun sama, tak pernah menghubungi Joko, dia sibuk dengan aktivitasnya, sehingga jangankan menjadi kentut, mempertahankan diri sebagai asap pun kini sulit dicapai, karena dirinya telah berubah menjadi uap. Tak terlihat. Tak terasa. Tapi masih punya nama.

Monitor 14 inci itu terus dipelototi. Huruf-huruf terus memenuhi layar Ms. Word. Tombol delete tak henti-hentinya ditekan, membersihkan tulisan yang salah ketik. Sebuah aktifitas koreksi di dunia pengetikan. Begitu mudah dilakukan. Begitu mudah dibersihkan. Sebuah kesederhanaan proses. Kesederhanaan yang menjadi kompleks di kota Siluman Raya.

Kini Joko memasuki bab IV. Bab hasil dan pembahasan. Di halaman ke-78 dia berhenti. Dia terbentur kebuntuan berfikir. Segala ide dan imajinasi hilang diculik posisi kuldesak otak. Uji kesesuaian antara teori dan hasil penelitian mendorongnya pada kedangkalan berfikir. Dia butuh referensi. Butuh narasumber sekaligus sparing pathner. Saat seperti itulah asap kembali melayang-layang dalam kapasitas memorinya. Asap menjadi sangat dirindukan. Dia dibutuhkan untuk melanjutkan pengetikan agar jangan terhenti di halaman 78.

Joko kemudian membuka Philip Kotler. Mencari penunjuk jalan untuk menambah halaman. Tapi Kotler seperti tengah kering. Tak bisa menjadi mata air inspirasi bagi mahasiswa Pemasaran Dedemit seperti Joko. Kotler pun dipecat lalu Joko memanggil Loudon dan Bitta. Mensiagakan panca inderanya untuk menangkap percikan ide dari buku itu. Tapi sampai siaga 1, Loudon dan Bitta masih sunyi. Jangankan percikan, sumber perciknya pun tidak ada. Loudon dan Bitta bernasib sama. Dipecat dan dilempar mengikuti pendahulunya.

Kini Joko benar-benar rindu asap. Padahal itu salah, karena asap telah berubah menjadi uap.

Tik-tak-tik-tak, jarum jam tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Winamp terus bersuara, menggantikan tombol play dalam tape recorder. Dan kini memasuki ”Hening Malam”nya band asal Parij Van Java.

”Loh, tumben lu. Udah sadar ya?!”

Joko, si pencari inspirasi terus berfikir.

”Nah gini dong, jangan si musisi kritikus terus!”

Joko tak bergeming.

”....Diiringi deras hujan, kau menjelma dalam angan, biar indah itu semu setidaknya ku bahagia...aku akan tetap menunggu....” , lawan bicara Joko mulai mengisi suara latar pencarian ide.

Tombol keyboard mulai dipijit lagi. Sepercik ide menghampiri Joko.

Lawan bicaranya pergi. Lima menit kemudian dia kembali lagi membawa skripsinya. Memperhatikan Joko yang tengah menyelesaikan skripsi, dia semakin demonstratif. Membuka-buka dan membaca skripsinya.

”Hari gini masih bikin skripsi?!”

Layar Ms. Word memasuki halaman 83, Joko tengah kebanjiran ide.

“Makanya Jok, kalo lu pusing…., ngomong sama gua. Gua bisa bantu lu kok!!”

Kini bukan lagi banjir, tapi tsunami ide Joko meluap. Lelehan ide mengalir di kanal-kanal otaknya.

Sadar yang diajak bicara tidak komunikatif, lawan bicara Joko akhirnya pergi. Dengan ciri khas, sebuah kalimat sempat dia lontarkan di ujung kamar, ”kalo lu buntu, penjual skripsi banyak tuh di jalan Jurig Jarian!!”

Seketika tsunami ide berhenti. Informasi penjual skripsi menghentikan kerja mekanis otaknya. Apalagi jalan Jurig Jarian. Bukankah itu tak jauh dari kampusnya?. Joko berusaha menggerakkan lagi gelombang idenya, namun badai tsunami telah berhenti. Kini kebuntuan kembali menghampirinya.

Layar Ms. Word masih meminta isi. Dia seakan menodong Joko. Dan sebelum layar itu melumatkan fikirannya, Joko mengambil keputusan. Bukankah orang yang bisa mengambil keputusan, bisa memegang kendali nasib?.

Ms. Word ditutup. Winamp dimatikan. Komputer di shut-down. Stabilizer dialihkan ke posisi off. Dia bergegas pergi meninggalkan pesta pemikirannya. Jalan Jurig Jarian tengah menanti.

***

Sebagai salah satu pemain di pasar oligopoli, Jaja lumayan beruntung. Dia menjadi market leader di tengah ketatnya persaingan dengan produk seragam. Mahasiswa, para calon sarjana, calon master bahkan calon doktor tahu kiosnya. Konsumen yang puas dengan barang dagangannya beramai-ramai melakukan testimonial tentang Jaja. Dan terutama tentang barang dagangannya. Maka di tengah keseragaman produk, Jaja berhasil melakukan diferensiasi dengan service di atas rata-rata. Market share buku-buku dan karya ilmiah dia kuasai. Tanpa promosi Above The Line, setiap hari kiosnya tak pernah sepi. Seperti hari ini, seorang bapak setengah baya tengah meneliti barang dagangannya.

”Nyari buku apa pak?”, seperti biasa Jaja membuka pembicaraan, menuju transaksi dengan calon pembeli.

Sang Raja tak bergeming. Tetap saja meneliti barang dagangan. Dia melihat-lihat tumpukan buku ”Pemasaran Siluman Anjing”. Sang Raja?. Ya!!. Bukankah konsumen adalah raja. Bukankah sebaiknya seorang pedagang tak pernah membuka tokonya sampai dia bisa tersenyum. Senyum untuk konsumen. Senyum untuk Sang Raja.

”Hermawan terbaru pak, atau Kasali?”, Jaja kembali memijit tombol on pembicaraan.

Dua nama itu tak menerbitkan selera Sang Raja. Dia masih puasa ngomong. Tombol on salah pijit. Jaja malah menyentuh off.

Jaja gagal. Sebelum transaksi dia diskualifikasi. Lalu jeda sunyi yang panjang menghampiri. Jaja diam membisu. Sang Raja masih puasa ngomong. Lima belas menit kemudian jeda sunyi berakhir.

”Bang, ada disertasi ?”, kini Sang Raja yang memijit tombol on.

”Oh...banyak...banyak, pak!”, jawab Jaja. Dia tak lagi memijit tombol off.

“Bapak mengambil studi apa?”

“Pemasaran Siluman Anjing”

“Oh…ada…ada”

“Yang terbaru, bang!”, Sang Raja benar-benar telah buka puasa.

”Oke...!”

Kini keduanya terlibat aktifitas pembicaraan yang hangat. Jeda sunyi tak menghampirinya lagi. Jaja dan Sang Raja saling lempar kata-kata. Sebuah atraksi ”one-two” yang mengesankan. Dialog ping-pong itu baru terhenti pada titik transaksi. Deal pada harga 140.000 rupiah.

***

BBM naik lagi. Minyak tanah, solar, premium dan premix melambung tinggi. Maka demonstrasi pun bergelombang. Dan kalau mahsiswa langganan Jaja datang ke gedung Istana Negara, maka sopir angkot menempuh jalur klasik. Mogok narik

Trayek yang melewati jalan Jurig Jarian ikut partisipasi. Maka dari kampus, Joko terpaksa jalan kaki. Membantai kaki varisesnya di bawah terik matahari. Ubun-ubun dibiarkan telanjang. Kenaikan BBM melatihnya menikmati kehidupan.

Di kilometer kedua dari kampus, pada belokan ke kiri, sebuah mobil menepi, mendekati Joko. Lalu sebuah kepala terlihat di balik jendela dan memintanya mengakhiri pesta hujan sinar matahari. Joko tak menyangka, sosok yang pernah dirindukannya ketika kebuntuan menyerang pada halaman 78, tiba-tiba muncul di hadapannya. Sesaat dia mematung. Menstabilkan kerusuhan otak dan perasaannya.

”Ayo naik, kenapa kamu berdiri terus?!”, ajakan itu bertepatan dengan meredanya kerusuhan yang munculnya tiba-tiba.

”Kamu mau kemana?”

”jalan Jurig Jarian, pak!”

Yang dipanggil ’pak’ diam. Mulutnya tiba-tiba terkunci. Ada perasaan yang mirip seperti penyesalan. Lalu bertalu-talulah pertanyaan-pertanyaan itu : kenapa dia terlalu sibuk dengan rapatnya?. Kenapa para purek itu terlalu menariknya?. Kini dia merasa dihadapkan pada adegan kritis, adegannya para antagonis : Mahasiswa bimbingannya terjerumus ke jalan Jurig Jarian, sebuah pasar legal yang di blacklist dunia pendididkan kota Siluman Raya. Yang dipanggil ’pak’ menarik nafas panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan.

”Kamu sering ke jalan Jurig Jarian?”

”Baru kali ini, pak”

Inputan ’baru kali ini’, sedikit menghadirkan tokoh protagonis di benaknya.

Di belokan pertama jalan Jurig Jarian, Joko pamit. Berterimakasih dan meninggalkan yang tadi dia panggil ’pak’. Mobil itu lalu melaju kembali. Dan di belokan ketiga masih di jalan Jurig Jarian, mobil itu kembali memasukkan seorang free raider. Bapak setengah baya masuk. Di tangannya tampak sebuah disertasi.

Yang tadi dipanggil ’pak’ melirik judul dan studinya. ”Pemasaran Siluman Anjing”, nama itu kembali menghilangkan tokoh protagonis dari benaknya. Dua orang setengah baya itu lalu membisu. Masing-masing asyik dengan dunianya. Dunia itu tak bisa dilebur, sebab sebuah big bang akan hadir di sela pertemuannya.

Di kejauhan, Joko memandangi mobil tumpangannya itu. Dia heran, kenapa asap dan temannya bisa akur?. Tapi itu hanya selintas. Lalu dia tersedot daya magnet jalan Jurig Jarian. Kutub selatan jalan Jurig Jarian menarik kutub utara dirinya. Lalu dia pun babak belur dalam transaksi penjiplakan.

Joko tak tahu apa yang terjadi di dalam mobil tumpangannya tadi. Bisu antar orang setengah baya itu semu. Kesunyian yang menyengat. Hawa panas tertahan, sebelum akhirnya meledak.

Di kantong belakang jok depan, pemilik ”Pemasaran Siluman Anjing” menemukan sebuah tesis, sepertinya dari jalan Jurig Jarian.

Asap merah padam. Sepupunya sedang menempuh pasca sarjana di ”Teknik Menangkap Tuyul”.

Sementara tanpa mereka sadari, lagu yang diputar di radio mobil itu sayup-sayup menyanyikan lagu si musisi kritikus :

”Saat wisuda datang dia tersenyum tenang
Tak nampak dosa di pundaknya
Sarjana begini banyaklah di negeri ini
Tiada bedanya dengan roti...”.[]

02 November 2007

Di Depan Gedung Indonesia Menggugat

“Air yang mengalir di sungai akhirnya akan bertemu dengan muara dan selanjutnya bergabung dengan samudera. Setiap muntahan yang keluar harus dibuatkan kanal agar tidak meluap dan membanjiri wilayah lain. Muntahan apa saja. Seperti air, mereka juga harus dialirkan, harus diberi jalan agar bertemu dengan titik yang akan meleburkan muntahan-muntahan itu menjadi terlihat wajar.

Keinginan, hasrat maupun minat yang timbul dalam diri harus dialirkan agar tidak meledak membedaki ketidakwajaran. Seperti perasaan cinta yang selalu melahirkan lagu, puisi, cerita dan film, keinginan untuk menulis pun harus disalurkan. Harus dimuntahan dan dialirkan, karena setiap hasrat yang terpendam akan melahirkan penyakit, walaupun penyakit itu dalam wujud yang paling abstrak sekalipun.

Menulis. Merangkai sukukata menjadi kata. Dan menyambung kata menjadi kalimat adalah sebuah aktivitas yang membebaskan. Rangkaian kalimat itu kemudian berubah menjadi paragraph. Paragraf yang membebaskan. Membebaskan kita dari tumpukan ide dan perasaan yang padat memenuhi otak dan hati. Menulis, seperti hasrat-hasrat yang lain adalah kawah yang bergolak yang harus dialirkan. Dialirkan agar bertemu dengan muara dan menyatu dengan samudera.

Maka ketika aku dihinggapi keinginan menulis sebagai efek dari minat membaca, aku cepat memuntahkan dan mengalirkannya. Seperti kencing ataupun buang hajat yang pada awalnya sangat membebani dan merasa ringan setelah semuanya dibuang, maka menulis pun seperti itu. Lega rasanya ketika melihat kertas penuh diisi tulisan yang pada awalnya sangat membebani. Menulis tak perlu menunggu “panas”. Tak perlu menunggu semangat datang membakar keinginan. Menulislah dalam setiap kesempatan. Bertahan dan bertahanlah. Jangan cepat puas dengan 2 atau 3 paragraf yang dibuat, teruskan saja menulis. Minimal 6 lembar kertas kuarto. Jika menulis diibaratkan menyelam, maka nafas harus panjang dan setelah 6 lembar kertas itu terpenuhi, maka bolehlah mengambil nafas ke permukaan. Kalau tidak begitu kita hanya akan mendapatkan penggalan-penggalan. Awalnya memang berat, tapi selanjutnya justru kita yang akan ketagihan. Kenapa ketagihan?. Karena kita ingin bebas !!. Dan menulis….. sekali lagi adalah sebuah aktivitas pembebasan !!”

Demikian “khotbah” yang disampaikan teman saya siang tadi di kampus. Disela waktu menunggu bus di halte yang penuh dengan coretan vandalisme. Fajar Merah, nama teman saya itu. Orangnya kurus, rambut lurus, kulit sawo busuk, tidak pakai kacamata dan seorang perokok. Ralat : perokok berat. Sehari bisa menghabiskan 2 bungkus rokok. Mirip lokomotif. Maka tak heran gusinya hitam dan giginya berderet rapi kekuning-kuningan. “Khotbah” itu mengalir begitu saja ketika saya bertanya : “kenapa sih kamu suka menulis?”.

Setelah “khotbah”nya itu berhenti, saya bertanya lagi : “apa yang telah kamu tulis?”. Dia tidak menjawab, tapi membuka tas kumuhnya yang berwarna hitam dan mengeluarkan beberapa lembar kertas lusuh berisi tulisan-tulisannya. Tulisan yang sulit aku mengerti. Tapi aku juga enggan menanyakan maksud tulisannya. Tidak penting, begitu pikirku. Lalu aku kembalikan lagi padanya, tapi dia menolak bahkan memberikannya padaku. Dan agar dia tak tersinggung maka aku tidak membuangnya ke tong sampah. Aku masukkan ke dalam tasku. Kemudian bus memisahkan kami. Dia ke utara dan aku ke selatan. Bus kota membawaku pulang ke kost-an sempit ditengah kepadatan penduduk kota yang makin tak ramah.

Jam 9 malam di kost-an sempitku, di bawah cahaya lampu yang kurang terang, aku membaca kembali tulisannya. Diawali menguap 2 kali dan membaca basmalah, aku kemudian mulai membacanya :


“Dari balik jendela yang lembab dan berdebu, aku memandang keluar. Di luar hujan cukup deras. Titik-titik air semakin membesar dan membasahi bumi yang kering dan berdebu. Ranting-ranting kering berjatuhan diterpa angin. Jalanan sepi tak dilewati orang-orang. Orang-orang lebih memilih diam di rumah : nonton tv atau menyalakan api. Wajar saja sebab udara di luar nampaknya semakin dingin dan menggigil.

Aku melihat jam dinding, pukul 4 sore. Ajo, temanku asyik tidur di sofa butut ruang tengah. Rencananya sore itu akau dan Ajo akan pergi ke gedung ”Indonesia Menggugat”. Pameran lukisan tengah digelar di sana, tapi hujan akhirnya menggagalkan rencana kami. Kami bukan pelukis, bukan pula kolektor lukisan. Kami hanya mahasiswa yang suka berjalan. Berjalan?. Ya, kami suka jalan kaki jika pergi jalan-jalan. Bukan hanya jalan-jalan, bahkan ke kampus, ke pasar, ke toko buku dan ke tempat-tempat lainnya pun kami berjalan kaki. Bukan tak punya ongkos untuk membayar kendaraan umum, tidak…..tidak demikian. Kami hanya ingin menikmati perjalanan saja.

Hujan bukannya reda malah makin deras. Kini bahkan disertai guntur yang menggelegar menghadirkan suara alam di kedua telingaku. Langit pun makin gelap. Rencana kami kiamat.

Aku kemudian masuk ke kamar dan menyambar sebuah buku bersampul biru, pengarangnya aku lupa lagi. Yang jelas buku itu adalah sebuah cerita fiktif yang cukup menarik. Menarik menurutku. Menurut suasana hatiku. Sementara jam terus saja berdetak seirama dengan denyut jantungku. Ajo belum bangun, dia masih terlelap dibuai mimpinya. Di halaman tengah buku itu aku menemukan kalimat ini :“Kita bukanlah manusia. Kita hanya binatang yang mencari nilai-nilai kemanusiaan.” Aku berhenti sejenak menimbang-nimbang kalimat itu, lalu meneruskan aktivitas membacaku.

Di dinding kamar aku melihat cecak dan kecoa. Aku tersenyum. Kalau aku binatang berarti aku sama seperti mereka?. Ah, ada-ada saja penulis ini, pikirku.

Menjelang maghrib hujan mulai reda. Lalu setelah adzan, hujan benar-benar reda. Aku teringat kembali niatku untuk mengunjungi ”Indonesia Menggugat”. Kulihat Ajo tak ada di sofa butut, mungkin dia pergi mengambil air. Selang 5 menit dia muncul di kamarku membawa muka lusuhnya dan berkata : “Ayo ke Indonesia Menggugat !”. Aku tak menjawab, hanya melihat jam dinding saja, lalu dia berkata lagi : “pamerannya sampai jam 9 malam !”.

Setelah sholat, kami akhirnya berangkat. Melawan dinginnya malam yang baru saja menjemput senja. Jalanan masih basah. Genangan air memenuhi lobang-lobang jalan yang menganga. Ditemani sebungkus rokok murah kami menembus dinginnya malam yang mulai merayap.

Jalanan mulai ramai lagi. Kendaraan umum dan pribadi berlomba memenuhi jalan yang basah. Lampu-lampu pertokoan mulai menghiasi kota. Asap rokok bertalu-talu menghajar gigiku dan gigi Ajo. Nikmat sekali rasanya asap racun itu. Di sebuah pertigaan aku melihat seekor kucing. Aku tersenyum lagi. Aku teringat diriku yang disamakan dengan binatang.

Perjalanan cukup panjang. Cukup memanjakan kaki kami yang masih kuat. Sekuat tanah dan batu yang kami injak. Perjalanan itu menghabiskan 1 jam. Pukul 19.30 kami sampai di Indonesia Menggugat. Halamannya gelap. Cukup angker. Kami lalu masuk dan ternyata pameran telah selesai. Selama 2 menit aku mencerca Ajo. Mencerca informasinya yang salah. Dia hanya diam. Mirip prasasti yang berdiri di depan gedung itu.

Untuk menghilangkan kekesalan aku kembali merokok. Ajo juga merokok, mencoba berdamai dengan penyesalannya. Sambil duduk dan mengisap rokok, pandangan lurus ke depan. Ke jalan yang cukup padat dilalui kendaraan. Malam semakin gelap memeluk bumi. Pohon besar di depan Indonesia Menggugat terlihat kokoh dengan akarnya yang menonjol keluar.

Setelah rokok habis, kami memutuskan pergi meninggalkan gedung itu. Di pintu gerbang keluar kami membeli rokok 2 batang sebab persediaan telah habis. Di trotoar jalan, masih di depan gedung itu kami duduk lagi dan tentunya sambil mengisap rokok. Dari arah selatan seorang bapak tua tampak berjalan mendekati kami. “Pasti mau pinjam korek api”, begitu pikirku. Ternyata aku salah, dia malah menanyakan apotek yang harga obatnya murah. Lalu aku sebutkan sebuah nama, ternyata bapak itu telah mencobanya : harganya mahal, tak dapat ia jangkau. Sementara katanya anaknya di rumah kesakitan menahan derita. Lalu aku tanyakan berapa kurangnya uang itu, lalu dia menjawab : “15 ribu rupiah”.

Di kantong celana belakangku aku menyimpan 20 ribu. Tapi itu buat ke warnet. Buat chatting dengan “teman lamaku”. Sementara Ajo tak punya uang untuk membantunya. Bapak tua itu semakin kebingungan. Semakin khawatir dengan anaknya. Lalu dia pergi mencari apotek yang murah. Kami memandangnya yang berjalan semakin menjauh. Ada sebuah perasaan yang mirip penyesalan di hatiku. Lalu aku bertanya-tanya : “kenapa aku tak memberikannya?”, “kenapa aku tak membantu bapak tua itu?”. Aku lama tertegun sebelum akhirnya Ajo mengajakku pulang, masih dengan berjalan kaki. Selama perjalanan pulang itu aku masih tetap merasa menyesal.

Di ujung jalan dekat Balai Kota, aku melihat seekor anjing. Aku teringat kalimat di novel yang sore tadi aku baca. Kali ini aku tidak tersenyum.”


Entah tulisannya yang jelek atau memang aku yang bodoh, yang jelas setelah membaca tulisan Fajar Merah itu aku tetap tak mengerti apa maksudnya?. Aku lalu tertidur. Besoknya aku sangat kaget, karena jalanan dipenuhi manusia-manusia berkepala binatang !! [Published]

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai