28 October 2007

Pasca Hujan

Bumi setelah hujan adalah aroma yang menguap dari celah-celah tanah dan bebatuan, menyegarkan yang layu dan menghidupkan yang mati. Tetes-tetes air itu menyapa daun, batang dan ranting, menghadirkan cinta pada setiap bola air yang mengalir di semesta ruang. Lalu kalau ingat masa kecil, air pun jatuh di genting membangunkanku yang mungkin pura-pura tidur. Dan di jendela kamar itu aku berbicara dengan pohon dan rerumputan yang basah, tentang masadepan, cinta dan harapan. Tapi suaraku hanya terdengar di sungai kecil yang mengalir deras, setelah hujan lebat baru berhenti sore itu.

Tanah air setelah hujan adalah ribuan manusia yang antri minta bantuan, karena banjir dan longsor berebut menghadirkan kepiluan. Tanah sudah bosan menyerap air yang berlebihan tanpa ditemani akar, sementara akar entah kemana karena batang terus ditebang. Orang-orang berlomba mencuri kayu di hutan dan pinggiran sungai. Di tebing, di lembah dan di atas rumah mereka sendiri. Pembalakan di mana-mana. Pencuri kecil dan pencuri besar bergentayangan. Dan pencurian besar bisa dilegalkan jika selingkuh dengan birokrasi. Manusia adalah konban bencana sekaligus penyebab bencana. Maka tak heran jika akhir-akhir ini aku kekurangan simpati kepada para korban, sebab solidaritas sosial tidak bisa tumbuh dari konyolnya sistem dan perilaku. Apa bedanya dengan seorang yang mencoba bunuh diri, lalu ketika mau mati malah minta pertolongan. Sebuah harakiri yang kehilangan nyali.

Pemerintah setelah hujan adalah ketidakberdayaan menanggulangi krisis. Subsidi bantuan selalu tersumbat keran birokrasi yang berbelit-belit, lalu ketika media meliput maka letak geografis dan medan yang sulit selalu menjadi kambing hitam. Entah kemana bantuan itu, mungkin numpuk di gudang penyimpanan atau mungkin di kantong-kantong bersafari yang selalu berkhotbah tentang keadilan dan kemakmuran. Ini bukan sebuah prasangka buruk, karena kenyataan terkadang menghadirkan sesuatu yang lebih buruk. Saudara kita sudah terlalu kenyang dengan do’a dan ucapan belasungkawa, maka ketika bantuan datang yang terjadi adalah perebutan sekardus mie instan yang terkadang berujung pada perkelahian, di sini mie instan lebih berharga daripada sepotong do’a.

Jakarta setelah hujan adalah sebuah proses terbentuknya kolam raksasa. Hampir semua jantung kota lumpuh tak berdaya, apalagi manusia-manusia yang berada di bantaran kali. Jika suatu saat ketika banjir datang, cobalah lihat di pintu-pintu air, mungkin diantara sampah yang menggunung itu ada bangkai manusia. Orang-orang mengungsi ke jalan tol yang letaknya lebih tinggi daripada hunian manusia, dan kemacetan di mana-mana...”terhambat di jalan bebas hamabatan”, begitu bunyi sepotong iklan. Konon Jakarta adalah ibukota negara di mana semua kedutaan besar negara sahabat bermukim di sana, tapi aku lebih percaya bahwa mereka mungkin saja memutuskan hubungan diplomatiknya dengan kita gara-gara kasur sang Duta Besar terendam air comberan. Tapi kalian jangan percaya banyolan itu. Siklus banjir besar hampir bersamaan dengan suksesi kepemimpinan kota itu, tapi suksesi tinggal suksesi dan banjir tetap saja tak bisa diatasi.

Bandung setelah hujan adalah migrasi sampah di jalan-jalan kota. Air yang mengalir deras membawanya kemana-mana, ke depan mesjid, ke depan gereja, ke depan balai kota, ke depan pusat perbelanjaan, ke kampus-kampus dan yang lainnya. Kota kembang berangsur berganti nama menjadi kota sampah. Individu masyarakat dan pemerintahnya harus mencari solusi untuk masalah ini. Ini kesalahan bersama.

Sahabatku setelah hujan masih seperti dulu, masih mencintai Indonesia sekaligus ibukotanya, masih mencintai Bandung dengan segenap dinamikanya.

Dan aku setelah hujan pasti terkenang sepotong bait lagu kanak-kanak semasa SD yang sering dinyanyikan teman masa kecilku :

”Waktu hujan turun rintik perlahan
Bintang pun menyepi awan menebal
Jangan engkau lupa tanah pusaka
Tanah tumpah darah Indonesia”.[ ]

No comments: