28 October 2007

Kue Nastar untuk Sahabat Lama

Beberapa tahun ke belakang sebelum aku masuk SMA, kalau lebaran tiba di rumah pasti ada kue nastar. Terlepas dari bentuk aslinya seperti apa yang jelas kalau di tempatku kue itu berbentuk dua hasil cetakan yang digabungkan oleh selai nanas. Bahan bakunya dari tepung dan mentega, lalu dicetak dalam cetakan yang terbuat dari kayu berbentuk segi panjang yang di ujungnya ada pegangan buat melepaskan adonan dari cetakan itu. Kemudian dipanggang dalam oven lalu direkatkan dengan selai nanas, maka jadilah kue nastar, kue khas lebaran di tempatku. Hampir semua tetangga pasti mempunyai kue itu, maka aku dan kawan-kawan masa kecilku di kampung sering berolok-olok : selama masih ada kue nastar, maka lebaran tidak akan berakhir. Maka kalau seseorang bertamu ke tempat kawannya, yang ada adalah sebuah kebosanan melihat jamuan kue nastar. Tapi herannya bagiku dan kawan-kawan masa kecilku, kue itu menjadi semacam pembawa kabar gembira bahwa lebaran akan segera tiba. Aku dan kawan-kawan masa kecilku sering menikmatinya di rumah, di pelataran mesjid, di bukit, di pematang sawah dan di tempat-tempat lain yang memungkinkan untuk bercengkrama dan bercanda. Menyantap kue nastar sambil menikmati indahnya masa kecil : menghitung uang lebaran, membandingkan baju baru dan mengolok-olok kawan. Kue nastar jadi saksi sepenggal perjalanan waktu.

Waktu pun berlalu membawaku dan kawan-kawan masa kecilku ke gerbang hidup yang baru, masing-masing berlari atau berjalan menuju sesuatu yang mungkin sempat dicita-citakan. Selepas SMA lalu aku kuliah, mengaduk-aduk secuil ilmu yang kata para dosen adalah bekal menuju masa depan. Lalu kuliah pun selesai, kemudian terseretlah aku ke dalam titian identitas yang terkadang mencemaskan, mirip ketidakpuasan menjalani hidup, atau mungkin penyesalan akan cita-cita yang tak kesampaian, menghitung-hitung pahit-manis hidup yang datang silih berganti. Aku jadi sering kekurangan ”nutrisi”, maka bertumpuklah buku-buku di kamar itu, bergantian mengisi kekosongan jiwa dan perasaan. Kerinduan dikejar-kejar tanpa tahu apa yang dirindukan. Terus saja begitu sampai waktu mudik datang lagi membawaku kembali ke kampung. Masih kampung yang itu, kampung yang dulu manis oleh kue nastar dan persahabatan.

2 Syawal 1428 H, selepas sholat maghrib aku bertemu dengan seorang kawan. Lalu ngobrol di pelataran mesjid yang kurang pencahayaan, membicarakan hidupku dan hidupnya, tapi kini tanpa kue nastar, karena telah beberapa tahun kue itu menghilang karena sudah tidak diminati lagi. Selepas SMA dia sempat bekerja di Bandung, tapi karena suatu hal yang membuatnya tidak betah, dia pun lalu kembali ke kampung. Kini di sebuah mesjid di bukit dekat rumahnya, dia mendalami kitab-kitab kuning sambil membimbing anak-anak Madrasah Aliyah. Sebuah aktifitas belajar dan mengajar yang romantis aku fikir. Di bawah langit malam dan bulan yang menerangi seisi kampung, setiap hari dia membaktikan dirinya untuk kemajuan ilmu agama. ”Ini pilihan hidupku”, katanya. ”Aku tenang hidup begini, tiap hari alhamdulillah bisa merasakan nikmatnya hidup dan mensyukurinya”, lanjut dia. ”Keun wae ku batur disebut pangangguran oge, nu penting urang mah tenang,” masih katanya.

Setengah jam pembicaraan, tiba-tiba seorang kawan datang lagi. Sambil menghisap sebatang rokok dia ikut bergabung, lagi-lagi kue nastar tak ada karena di rumahnya pun kue itu telah hilang, sebuah nosnalgia yang kurang lengkap. Kawanku yang ini setiap hari kerja serabutan : terkadang jadi kuli bangunan, jadi calo di terminal, jadi tukang kebun dan terkadang juga jadi ”pak Ogah” di perempatan jalan. Tapi dia kelihatan tidak mengeluh, bahkan cukup senang menjalaninya. ” Ah urang mah gawe naon we nu aya, nu penting mah ulah cicing, pan ceuk Pangeran oge kudu bertebaran di muka bumi”, katanya bersemangat. Mereka, teman-temanku itu sangat bersahaja aku fikir. Di tengah kehidupan perekonomian kampung yang pas-pasan, jauh dari pusat kota sehingga cenderung hanya jadi kerak sejarah, informasi kurang bahkan hiburan pun bisa dihitung dengan jari, mereka tak banyak menuntut bahkan lebih banyak mensyukuri.

Pembicaraan yang tidak terlalu lama itu sangat mengesankan buatku, bahkan lebih manis daripada kue nastar yang dulu sempat kami rindukan itu, entah bagi mereka?.[]

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…